Segaris.co
Senin, 21 September 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom
Oplus_131105

Oplus_131105

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
21 September 2026 | 09:57 WIB
in Kolom

Catatan | INGOT SIMANGUNSONG 

PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto tentang pendidikan negeri yang harus gratis kembali membuka perbincangan besar tentang masa depan pendidikan Indonesia.

“Saya sangat setuju, saya akan segera mengadakan ratas atau pokoknya biaya pendidikan negeri harus gratis. Biaya pendidikan negeri SD, SMP, SMA, universitas negeri harus gratis,” kata Prabowo saat menghadiri puncak HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Kalimat itu sederhana. Tetapi konsekuensinya tidak sederhana.

Jika benar-benar diwujudkan, pendidikan gratis bukan hanya soal menghapus biaya yang dibayar orang tua.

Negara harus memastikan sekolah tetap berjalan, guru tetap sejahtera, fasilitas pendidikan diperbaiki, kualitas pembelajaran terjaga, dan perguruan tinggi tetap mampu menghasilkan lulusan berkualitas.

Dari Pernyataan Menjadi Kebijakan

Di sinilah letak persoalannya.

Sebuah pernyataan politik akan memiliki arti berbeda ketika sudah diterjemahkan menjadi aturan, anggaran, mekanisme pelaksanaan dan pengawasan.

Pemerintah sendiri telah mulai masuk ke tahap kajian. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan bahwa pihaknya menindaklanjuti arahan Presiden dan sedang mengkaji kemungkinan menggratiskan biaya kuliah di perguruan tinggi negeri, termasuk pilihan skema pembiayaannya.

Artinya, gagasan itu kini berada pada tahap yang lebih serius: bagaimana mewujudkannya.

Pertanyaan publik justru dimulai dari kata “Gratis”

Masyarakat tentu akan bertanya:

Apa yang dimaksud dengan pendidikan gratis?

Apakah seluruh biaya pendidikan ditanggung negara?

Bagaimana dengan biaya yang selama ini muncul di luar komponen pendidikan?

Bagaimana mekanismenya di sekolah negeri?

Bagaimana pula penerapannya di perguruan tinggi negeri yang memiliki struktur pembiayaan dan tata kelola berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menghambat gagasan pendidikan gratis.

Justru sebaliknya.

Pertanyaan itu diperlukan agar kata “gratis” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar menjadi kebijakan publik yang jelas dan dapat diukur.

Jangan sampai gratis, tetapi kualitas menurun

Pendidikan gratis seharusnya tidak dipertentangkan dengan kualitas.

Keduanya harus berjalan bersama.

Anak-anak Indonesia bukan hanya membutuhkan akses untuk masuk sekolah dan universitas.

Mereka juga membutuhkan ruang belajar yang layak, guru yang berkualitas, fasilitas yang memadai, teknologi pembelajaran, serta lingkungan pendidikan yang aman.

Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan pendidikan gratis nantinya bukan hanya berapa banyak biaya yang dihapus.

Ukuran yang lebih penting adalah: berapa banyak anak yang akhirnya bisa belajar tanpa terbebani biaya, dan seberapa baik kualitas pendidikan yang mereka terima.

Anggaran harus transparan

Prabowo juga menyinggung persoalan sumber pembiayaan dan menyebut uang negara yang dikorupsi atau dicuri harus dikembalikan untuk kepentingan rakyat.

Pesan tersebut membawa isu pendidikan gratis ke persoalan yang lebih luas: bagaimana negara mengelola uang publik.

Sebab pendidikan gratis membutuhkan pembiayaan yang berkelanjutan.

Karena itu, masyarakat berhak mengetahui dari mana anggarannya berasal, bagaimana dialokasikan, siapa yang menerima, dan bagaimana penggunaannya diawasi.

Semakin besar programnya, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi dan akuntabilitas.

PTN gratis: tantangannya lebih kompleks

Untuk pendidikan dasar dan menengah, pemerintah telah memiliki berbagai mekanisme pembiayaan pendidikan.

Namun ketika gagasan itu diperluas sampai universitas negeri, persoalannya menjadi lebih kompleks.

Pemerintah menyebut berbagai skema bantuan pendidikan tinggi telah berjalan. Brian Yuliarto menyatakan bahwa pada 2025 sekitar 28,2 persen mahasiswa baru yang diterima di PTN memperoleh dukungan melalui berbagai skema, terutama bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengubah sistem bantuan yang bersifat selektif tersebut menjadi kebijakan pendidikan negeri yang lebih luas tanpa mengorbankan mutu dan keberlanjutan perguruan tinggi.

Inilah ujian sesungguhnya

Pada akhirnya, pendidikan gratis bukan sekadar persoalan politik.

Ini adalah persoalan masa depan anak-anak Indonesia.

Karena itu, publik tidak hanya membutuhkan pernyataan bahwa pendidikan negeri harus gratis.

Publik membutuhkan peta jalan.

Kapan dimulai?

Siapa yang mendapat manfaat?

Biaya apa saja yang ditanggung negara?

Bagaimana sekolah dan universitas menerima pembiayaan?

Bagaimana kualitas dijaga?

Dan yang tidak kalah penting: bagaimana negara memastikan kebijakan tersebut tidak menciptakan masalah baru?

Pernyataan Presiden Prabowo telah membuka pintu menuju sebuah gagasan besar.

Kini perhatian publik wajar diarahkan kepada proses berikutnya.

Bukan lagi sekadar “apakah pendidikan gratis akan diwujudkan?”, tetapi “bagaimana pendidikan gratis itu diwujudkan dengan adil, transparan, berkelanjutan, dan tetap berkualitas?”

Jika pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijawab melalui kebijakan yang konkret, maka pendidikan gratis tidak berhenti sebagai janji.

Ia menjadi investasi negara untuk masa depan generasi Indonesia.

 

Penulis, Pimpinan Redaksi Mediaonline SEGARIS.CO & Penanggungjawab Mediaonline Shalom.click

 

Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan analisis editorial atas pernyataan dan perkembangan kebijakan pendidikan yang tersedia hingga 21 September 2026.

Tags: BesarGratisJanjiMenungguPendidikanPrabowo SubiantoSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Kolom

Ketika pernyataan Antikorupsi diuji oleh fakta di ATR/BPN

by Ingot Simangunsong
16 September 2026 | 16:03 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  ADA sebuah kalimat yang kembali terasa relevan ketika kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan...

Read more
Oplus_131072
Kolom

SK DPP terbit, Andar Amin resmi pimpin Golkar Sumut: dari Musda hingga konsolidasi baru

by Ingot Simangunsong
14 September 2026 | 20:53 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong  PERJALANAN panjang kepengurusan baru Partai Golkar Sumatera Utara akhirnya memasuki titik penting. Dewan Pimpinan...

Read more
Kolom

Pintar belum tentu bijaksana: Ketika pernyataan pejabat menguji akal sehat rakyat

by Ingot Simangunsong
13 September 2026 | 22:16 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong PENDIDIKAN tinggi dan jabatan mentereng ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Fenomena ini terlihat ketika...

Read more
Kolom

Bukan yang pertama, Jika MA setuju apa yang membuat pemakzulan Bupati Gowa bersejarah?

by Ingot Simangunsong
14 Agustus 2026 | 12:07 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong NAMA Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, kini berada dalam pusaran proses politik dan hukum...

Read more
Kolom

Adab yang (Sengaja) Dilupakan

by Ingot Simangunsong
9 Agustus 2026 | 23:15 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong ENTAH disengaja, memang disengaja, atau pura-pura disengaja, kenyataannya memang demikian: adab semakin sering dilupakan....

Read more
Kolom

Kematian Winda Lorenza Gowasa: Polisi Sebut Bunuh Diri, Keluarga Curiga, Komisi III DPR Turun Tangan

by Ingot Simangunsong
9 Agustus 2026 | 07:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong KEMATIAN Winda Lorenza Gowasa (WL), mantan istri seorang anggota Polri di Medan, kini menjadi...

Read more

Berita Terbaru

SEREMONI

Tiara Kusuma dilantik di 15 kecamatan, dorong kemajuan dunia kecantikan di Tapanuli Utara

21 September 2026 | 11:12 WIB
News

Bupati Tapanuli Utara tekankan perubahan mental ASN dan pelayanan publik

21 September 2026 | 10:47 WIB
News

2,2 juta bibit Kopi Arabika ditanam serentak, Pemkab Taput targetkan perluasan hingga 19.252 hektare

21 September 2026 | 10:36 WIB
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

21 September 2026 | 09:57 WIB
News

Roy Yantho Simangunsong terpilih aklamasi pimpin IKADIN Pematangsiantar 2026-2029

19 September 2026 | 17:56 WIB
News

Teken komitmen antikorupsi bersama KPK, Sutrisno: Jangan berhenti jadi seremonial

18 September 2026 | 21:18 WIB
Buah Pikir

MUBES VI PUJAKESUMA, 18-20 September 2026, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta

18 September 2026 | 17:18 WIB
News

AKBP Dhana Noer Kurniawan pimpin Polres Pematangsiantar

18 September 2026 | 16:53 WIB
News

Bantah pungutan SPP, MAN 2 Tanjungpura justru disorot soal iuran Rp75 ribu per siswa

18 September 2026 | 14:45 WIB
News

Wali Kota Pematangsiantar apresiasi pengabdian AKBP Sah Udur, sambut Kapolres baru

18 September 2026 | 13:43 WIB
News

Ke mana Nusron Wahid? Keberadaan Menteri ATR/BPN masih jadi sorotan

18 September 2026 | 13:34 WIB
News

Pemkab Tapanuli Utara dorong pariwisata dan ekonomi kreatif di era digital

17 September 2026 | 15:32 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus