
DUNIA pendidikan terus dituntut untuk melahirkan guru-guru yang tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogik yang mampu menjawab tantangan zaman.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan karakter peserta didik, pendekatan pelatihan guru pun dituntut semakin inovatif serta dekat dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
Berangkat dari semangat tersebut, Susy Alestriani Sibagariang, S.Pd., M.M. menghadirkan sebuah terobosan melalui penelitian disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Manajemen Pelatihan Berbasis Budaya Batak Dalihan Na Tolu (DNT) untuk Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru SMA di Kota Pematangsiantar.”
Sebagai bagian dari rangkaian penelitian, pada Jumat, 5 Desember 2025, dilaksanakan Uji Coba Terbatas di Laboratorium Bahasa SMA Yayasan Perguruan HKBP Pematangsiantar.
Kegiatan ini menjadi tahapan penting sebelum model tersebut diterapkan secara lebih luas di berbagai sekolah. Uji coba terbatas bukan sekadar pelaksanaan pelatihan biasa.
Tahap ini merupakan proses ilmiah untuk mengukur apakah model yang telah dirancang benar-benar dapat diterapkan, mudah dipahami oleh peserta, serta mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi guru.
Sebanyak 30 guru SMA yang berasal dari sekolah negeri maupun swasta di Kota Pematangsiantar mengikuti kegiatan ini.
Kehadiran para guru dari berbagai latar belakang sekolah memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas model pelatihan yang dikembangkan.
Yang menarik dari penelitian ini adalah pemanfaatan Dalihan Na Tolu, falsafah hidup masyarakat Batak yang selama ini dikenal sebagai fondasi dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
Nilai-nilai saling menghormati, bekerja sama, bertanggung jawab, serta menghargai peran setiap individu tidak hanya relevan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga dinilai memiliki kontribusi besar dalam membangun budaya belajar dan budaya kerja para guru.
Melalui model manajemen pelatihan ini, nilai-nilai budaya tersebut diterjemahkan menjadi pendekatan pembelajaran yang lebih kolaboratif, reflektif, dan partisipatif.
Guru tidak hanya menerima materi pelatihan, tetapi juga diajak membangun jejaring, saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kemampuan mengajar secara bersama-sama.
Pelaksanaan uji coba dibuka secara resmi oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI, August Sinaga, S.Pd., S.ST., M.AP.
Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan ini menunjukkan dukungan terhadap lahirnya inovasi pendidikan yang berakar pada budaya lokal namun tetap memiliki landasan akademik yang kuat.
Kegiatan semakin berbobot dengan hadirnya para narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan, yakni Prof. Dr. Jumaria Sirait, M.Pd., Dr. Apriani Sijabat, S.Si., M.Pd., serta Mungkap Mangapul Siahaan, M.Pd.
Ketiganya memberikan berbagai masukan akademik sekaligus memperkaya implementasi model yang sedang diuji.
Selama proses pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai tahapan pelatihan, mulai dari pemahaman konsep, diskusi kelompok, praktik pembelajaran, hingga evaluasi terhadap penerapan model.
Seluruh proses tersebut menjadi bahan penting untuk menilai apakah model mampu meningkatkan kompetensi pedagogik guru secara nyata.
Kompetensi pedagogik sendiri merupakan salah satu kemampuan utama yang wajib dimiliki seorang guru.
Kompetensi ini mencakup kemampuan memahami karakter peserta didik, merancang pembelajaran yang efektif, melaksanakan proses belajar mengajar secara kreatif, hingga melakukan evaluasi pembelajaran secara tepat.
Guru yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik akan lebih mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong peserta didik berkembang secara optimal.
Hasil evaluasi pada uji coba terbatas menunjukkan temuan yang sangat menggembirakan.
Model Manajemen Pelatihan Berbasis Budaya Batak Dalihan Na Tolu (DNT) dinyatakan layak dan efektif untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru SMA di Kota Pematangsiantar.
Hasil ini menjadi indikator bahwa pendekatan berbasis budaya lokal mampu berjalan berdampingan dengan konsep pendidikan modern.
Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah model pelatihan, penelitian ini memberikan pesan penting bahwa kearifan lokal bukanlah warisan masa lalu yang hanya layak dikenang.
Sebaliknya, nilai-nilai budaya dapat diolah menjadi solusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia, termasuk dalam dunia pendidikan.
Keberhasilan uji coba ini diharapkan menjadi pijakan untuk penerapan model pada skala yang lebih luas.
Apabila diimplementasikan secara berkelanjutan, model pelatihan berbasis Dalihan Na Tolu berpotensi menjadi salah satu referensi pengembangan kompetensi guru, tidak hanya di Kota Pematangsiantar, tetapi juga di berbagai daerah yang ingin mengintegrasikan budaya lokal ke dalam sistem pendidikan.
Pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas tidak hanya dibangun melalui kemajuan teknologi dan perubahan kurikulum, tetapi juga melalui kemampuan menjaga akar budaya sebagai sumber nilai, karakter, dan kebijaksanaan.
Penelitian ini menjadi bukti bahwa ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan kearifan lokal, lahirlah inovasi pendidikan yang tidak hanya relevan, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan Indonesia.
Susy Alestriani Sibagariang, S.Pd., M.M., Dosen di FKIP Univ. HKBP Nommensen Pematangsiantar






