Catatan | Ingot Simangunsong
DARI sudut pandang sosiologi dan psikologi, perubahan seorang aktivis menjadi “penjilat” biasanya bukan terjadi secara tiba-tiba.
Ia sering merupakan proses panjang yang dipengaruhi lingkungan, kekuasaan, kebutuhan hidup, dan perubahan cara berpikir.
Dari Perspektif Sosiologi
Perubahan posisi sosial
Ketika seorang aktivis masuk ke lingkaran kekuasaan, ia tidak lagi berada di luar sistem, tetapi menjadi bagian dari sistem itu.
Lambat laun, kritik yang dulu lantang bisa melemah karena ia ikut menikmati fasilitas, akses, dan status yang diberikan.
Ketergantungan ekonomi
Aktivisme sering tidak menjanjikan kestabilan finansial. Ketika seseorang mulai bergantung pada jabatan, proyek, atau sumber penghasilan yang terkait dengan penguasa, independensinya dapat berkurang.
Budaya patron-klien
Dalam masyarakat yang kuat budaya patronasenya, loyalitas kepada “orang besar” sering lebih dihargai daripada konsistensi prinsip.
Akibatnya, sebagian orang memilih menyenangkan atasan daripada menyuarakan kebenaran.
Tekanan kelompok
Manusia cenderung ingin diterima oleh komunitasnya. Jika lingkungan baru mengharuskan pujian dan kepatuhan, maka kritik perlahan dianggap ancaman bagi posisinya.
Dari Perspektif Psikologi
Ambisi dan kebutuhan pengakuan
Tidak semua aktivis digerakkan murni oleh idealisme. Ada yang juga memiliki kebutuhan kuat untuk dihormati, terkenal, atau berkuasa.
Ketika kesempatan itu datang, prinsip bisa tergeser oleh ambisi.
Rasionalisasi diri
Orang sering mencari alasan untuk membenarkan perubahan sikapnya. Misalnya: “Saya tetap memperjuangkan rakyat dari dalam.” “Kalau saya melawan, saya tidak bisa berbuat apa-apa.”
Awalnya mungkin benar, tetapi lama-kelamaan bisa menjadi pembenaran atas kompromi yang berlebihan.
Kelelahan idealisme (burnout)
Bertahun-tahun berjuang tanpa hasil yang terlihat dapat menimbulkan kelelahan mental. Sebagian orang akhirnya memilih jalan yang lebih nyaman daripada terus berkonflik.
Godaan kekuasaan
Psikolog politik sering menjelaskan bahwa kekuasaan dapat mengubah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri.
Ia mulai merasa lebih penting, lebih benar, dan lebih layak mendapat privilese dibanding orang yang dulu ia bela.
Gejala Awalnya
Beberapa tanda yang sering terlihat:
Kritik mulai selektif, hanya kepada lawan.
Kesalahan pihak yang didukung selalu dicari pembenarannya.
Lebih sering memuji tokoh daripada membahas gagasan.
Kehilangan keberanian untuk berbeda pendapat.
Loyalitas kepada figur mengalahkan loyalitas kepada nilai.
Refleksi Moral
Ada sebuah ungkapan yang sering dikaitkan dengan filsafat politik:
“Ketika seseorang terlalu lama berada dekat kekuasaan, ujian terbesarnya bukan lagi keberanian melawan, melainkan keberanian tetap jujur.”
Dalam perspektif iman Kristen, masalah utamanya bukan aktivis atau pejabat, melainkan hati manusia.
Sebab firman Tuhan berkata:
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6: 21)
Artinya, ketika hati mulai terikat pada keuntungan, jabatan, atau pujian manusia, maka idealisme yang dahulu diperjuangkan dapat perlahan memudar.
Penulis, Ingot Simangunsong, adalah Pimpinan Redaksi mediaonline Segaris.co dan Penanggungjawab mediaonline kerohanian Shalom.click




