Catatan | Ingot Simangunsong
SELAMA puluhan tahun, nama Etiopia identik dengan kelaparan dan kemiskinan. Namun dalam dua dekade terakhir, negara di kawasan Tanduk Afrika ini menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, perjalanan Etiopia memberikan pelajaran penting tentang pembangunan jangka panjang.
Masa Kelam: Kelaparan dan Krisis (1970-an hingga 1980-an)
Pada era 1970-an dan 1980-an, Etiopia dilanda kekeringan hebat, perang saudara, serta konflik politik yang berkepanjangan.
Kelaparan besar pada 1983–1985 menewaskan ratusan ribu orang dan membuat jutaan lainnya bergantung pada bantuan internasional.
Saat itu, sebagian besar masyarakat hidup dari pertanian tradisional yang sangat bergantung pada musim hujan.
Infrastruktur minim, pendidikan rendah, dan investasi hampir tidak ada.
Awal Reformasi (1991–2000)
Pada tahun 1991, pemerintahan baru mengambil alih dan mulai melakukan berbagai reformasi.
Pemerintah berupaya menjaga stabilitas politik, memperbaiki sistem pemerintahan, serta mulai membangun jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Fokus utama diarahkan pada sektor pertanian karena sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani.
Pemerintah juga memperluas layanan penyuluhan pertanian dan mendorong penggunaan bibit unggul.
Era Pertumbuhan Pesat (2004–2019)
Memasuki awal tahun 2000-an, Etiopia mulai menikmati pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, bahkan sering mencapai sekitar 8–10 persen per tahun.
Pemerintah menggelontorkan investasi besar-besaran untuk membangun jalan raya, jalur kereta api, bendungan, jaringan listrik, kawasan industri, dan bandara.
Infrastruktur yang lebih baik membuat biaya distribusi barang menjadi lebih murah dan menarik investor asing.
Industri tekstil, garmen, kulit, serta pengolahan hasil pertanian mulai berkembang.
Banyak perusahaan dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah membuka pabrik di Etiopia karena biaya tenaga kerja yang relatif rendah.
Investasi pada Energi dan Infrastruktur
Salah satu proyek terbesar adalah pembangunan Bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Sungai Nil Biru.
Bendungan ini dirancang menjadi salah satu pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika.
Dengan pasokan listrik yang meningkat, pemerintah berharap industri dapat berkembang lebih cepat dan listrik dapat dinikmati lebih banyak masyarakat.
Kemajuan Sosial
Pertumbuhan ekonomi juga diikuti peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Angka kemiskinan menurun dibanding beberapa dekade sebelumnya, harapan hidup meningkat, dan lebih banyak anak memperoleh kesempatan bersekolah.
Tantangan Baru
Meski mengalami kemajuan besar, Etiopia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti konflik bersenjata, inflasi, pengangguran, perubahan iklim, dan utang pembangunan.
Karena itu, menyebut Etiopia sebagai “negara makmur” masih belum sepenuhnya tepat.
Negara ini telah mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa dibanding masa lalunya, tetapi masih termasuk negara berpendapatan rendah yang sedang berjuang mencapai kemakmuran yang lebih merata.
Pelajaran dari Etiopia
Perjalanan Etiopia menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi dalam semalam.
Pembangunan membutuhkan visi jangka panjang, investasi pada infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sektor pertanian dan industri, serta stabilitas yang berkelanjutan.
Kisah Etiopia menjadi bukti bahwa sebuah bangsa yang pernah dikenal karena kemiskinan dan kelaparan dapat bangkit melalui kerja keras, kebijakan pembangunan yang konsisten, dan semangat untuk terus maju.
Walaupun perjalanan menuju kemakmuran masih berlangsung, perubahan yang telah dicapai menjadi inspirasi bagi banyak negara berkembang.
Penulis Ingot Simangunsong adalah Pimpinan Redaksi Mediaonline Segaris.co & Penanggungjawab Mediaonline Shalom.click






