Segaris.co
Kamis, 24 September 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom

Adab yang (Sengaja) Dilupakan

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
9 Agustus 2026 | 23:15 WIB
in Kolom

Catatan | Ingot Simangunsong 

Ingot Simangunsong

ENTAH disengaja, memang disengaja, atau pura-pura disengaja, kenyataannya memang demikian: adab semakin sering dilupakan.

Kita hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat. Gelar akademik bertambah. Teknologi semakin canggih. Informasi berada di ujung jari.

Tetapi ada pertanyaan sederhana yang mungkin justru paling sulit dijawab: Apakah kemajuan ilmu pengetahuan selalu berjalan beriringan dengan kemajuan adab?

Belum tentu.

Sebab ilmu dan adab adalah dua hal yang berbeda. Ilmu membuat seseorang tahu banyak hal.

Adab mengajarkan seseorang bagaimana menggunakan pengetahuan itu dengan benar.

Nenek moyang kita memahami hal tersebut jauh sebelum berbagai teori pendidikan modern bermunculan.

Mereka menempatkan adab pada posisi terhormat.

Setinggi apa pun ilmu seseorang, adab tidak boleh ditempatkan di bawahnya.

Sebab ketika ilmu berjalan tanpa adab, yang tumbuh bukan kebijaksanaan, melainkan kesombongan.

Ketika Kepintaran Menjadi Kesombongan

Orang yang berilmu seharusnya semakin memahami keterbatasan dirinya.

Namun, ketika ilmu dipakai sebagai alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, di situlah ilmu kehilangan kemuliaannya.

Kepintaran berubah menjadi kecongkakan.

Pengetahuan berubah menjadi alat untuk merendahkan.

Kekuasaan berubah menjadi kesempatan untuk memaksakan kehendak.

Dan jabatan berubah menjadi ruang untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.

Pada titik itu, sopan santun mulai dianggap tidak penting.

Menghormati orang lain dianggap kelemahan.

Mendengarkan pendapat berbeda dianggap ancaman.

Meminta maaf dianggap menjatuhkan harga diri.

Padahal justru kemampuan meminta maaf menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki adab.

Ketika Loyalitas Lebih Mahal daripada Integritas

Ada persoalan lain yang tidak kalah menggelisahkan.

Di sejumlah lingkungan, kata loyalitas terkadang ditempatkan terlalu tinggi.

Loyalitas memang penting. Tetapi loyalitas kepada siapa dan untuk apa?

Jika loyalitas berarti setia kepada kebenaran, integritas, lembaga, dan tanggung jawab, maka ia adalah sesuatu yang terhormat.

Namun, jika loyalitas berubah menjadi kesetiaan kepada seseorang atau kelompok demi mendapatkan posisi, fasilitas, atau keuntungan tertentu, maka maknanya sudah bergeser.

Di sinilah masyarakat mulai mempertanyakan keadilan.

Mengapa seseorang yang memiliki kemampuan, pengalaman, integritas dan rekam jejak yang baik harus tersingkir hanya karena tidak berada dalam lingkaran kedekatan?

Mengapa jenjang karier dapat dikalahkan oleh hubungan?

Mengapa kompetensi terkadang harus berhadapan dengan kepentingan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak boleh dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan.

Justru pertanyaan tersebut merupakan bagian dari kepedulian terhadap sehatnya sebuah organisasi dan lembaga.

Jabatan Bukan Bukti Bahwa Seseorang Lebih Mulia

Kita perlu mengingat satu hal:
Jabatan hanya menunjukkan posisi, bukan menunjukkan kemuliaan seseorang.

Seseorang bisa berada di posisi paling tinggi, tetapi tetap rendah dalam adab.

Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki jabatan apa-apa bisa memiliki kemuliaan yang luar biasa karena sikapnya terhadap sesama.

Karena itu, semakin tinggi jabatan seseorang, seharusnya semakin tinggi pula tuntutan moral yang melekat kepadanya.

Bukan semakin besar hak untuk merendahkan orang lain.

Jabatan adalah amanah.

Kekuasaan adalah tanggung jawab.

Dan kewenangan seharusnya digunakan untuk melayani, bukan untuk menakut-nakuti.

Adab Tidak Pernah Ketinggalan Zaman

Di tengah perubahan zaman, ada yang mengatakan bahwa nilai-nilai lama harus ditinggalkan karena dunia sudah berubah.

Benar, zaman berubah.

Teknologi berubah.

Cara berkomunikasi berubah.

Pola kerja berubah.

Tetapi menghormati manusia tidak pernah menjadi nilai yang kedaluwarsa.

Mengucapkan terima kasih tidak pernah ketinggalan zaman.

Meminta maaf tidak pernah kehilangan relevansi.

Menghargai orang lain tidak pernah menjadi sesuatu yang kuno.

Mendengarkan sebelum menghakimi juga tidak pernah menjadi kelemahan.

Justru di tengah dunia yang semakin cepat, adab menjadi semakin penting.

Sebab teknologi dapat membuat manusia semakin terhubung, tetapi tanpa adab, hubungan itu bisa menjadi semakin dangkal.

Ilmu dapat membuat manusia semakin pintar, tetapi tanpa adab, kepintaran itu bisa digunakan untuk menyakiti.

Kekuasaan dapat membuat seseorang semakin kuat, tetapi tanpa adab, kekuatan itu bisa berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Jangan Wariskan Kepintaran Tanpa Kemanusiaan

Kepada generasi muda, kita boleh mewariskan ilmu setinggi langit.

Kita boleh mengajarkan mereka teknologi.
Kita boleh mendorong mereka mengejar pendidikan terbaik.

Kita boleh mengajarkan mereka bagaimana menjadi pemenang.

Tetapi jangan lupa mengajarkan mereka bagaimana menjadi manusia.

Ajarkan bahwa tidak semua perbedaan harus menjadi pertengkaran.

Ajarkan bahwa keberhasilan tidak memberi seseorang hak untuk merendahkan orang lain.

Ajarkan bahwa jabatan bukan alasan untuk kehilangan kesopanan.

Ajarkan bahwa semakin tinggi seseorang berdiri, semakin panjang bayang-bayang tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Dan ajarkan satu hal yang paling sederhana: Ilmu membuat kita tahu. Adab membuat kita tahu bagaimana bersikap.

Mungkin Kita Perlu Bercermin

Pada akhirnya, tulisan ini bukan hanya tentang mereka yang berada di atas.

Bukan hanya tentang pejabat.

Bukan hanya tentang pemimpin.

Bukan hanya tentang institusi.
Ini juga tentang kita.

Sebab sangat mudah menunjuk orang lain sebagai manusia yang tidak beradab.

Jauh lebih sulit memeriksa diri sendiri.

Apakah kita masih menghormati orang yang berbeda pendapat?

Apakah kita masih mampu meminta maaf?

Apakah kita masih mau mendengarkan orang yang tidak memiliki jabatan?

Apakah kita masih memberikan penghargaan berdasarkan kemampuan dan integritas?

Ataukah kita pun perlahan menjadi bagian dari budaya yang sama—budaya yang mengukur manusia berdasarkan posisi, kedekatan, dan kepentingan?

Barangkali benar, adab sedang dilupakan.
Tetapi jangan buru-buru menyalahkan zaman.

Sebab zaman tidak pernah kehilangan adab.

Kitalah yang memilih untuk meninggalkannya.

Dan jika suatu hari anak-anak kita bertanya mengapa dunia menjadi begitu keras, mungkin kita harus berani menjawab:

Karena kita pernah terlalu sibuk mengajarkan mereka bagaimana menjadi pintar, tetapi lupa mengajarkan bagaimana menjadi manusia.

Sebab ketika ilmu kehilangan adab, kecerdasan bisa menjadi alat kesombongan.

Dan ketika kekuasaan kehilangan adab, jabatan bisa berubah menjadi alat untuk melukai sesama.

Penulis Ingot Simangunsong adalah Pimpinan Redaksi Mediaonline Segaris.co & Penanggungjawab Mediaonline Shalom.click

Tags: AdabIlmu PengetahuanIntegritasLoyalitasNenek MoyangNepotismeSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Oplus_131105
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

by Ingot Simangunsong
21 September 2026 | 09:57 WIB
0

Catatan | INGOT SIMANGUNSONG  PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto tentang pendidikan negeri yang harus gratis kembali membuka perbincangan besar tentang masa...

Read more
Kolom

Ketika pernyataan Antikorupsi diuji oleh fakta di ATR/BPN

by Ingot Simangunsong
16 September 2026 | 16:03 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  ADA sebuah kalimat yang kembali terasa relevan ketika kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan...

Read more
Oplus_131072
Kolom

SK DPP terbit, Andar Amin resmi pimpin Golkar Sumut: dari Musda hingga konsolidasi baru

by Ingot Simangunsong
14 September 2026 | 20:53 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong  PERJALANAN panjang kepengurusan baru Partai Golkar Sumatera Utara akhirnya memasuki titik penting. Dewan Pimpinan...

Read more
Kolom

Pintar belum tentu bijaksana: Ketika pernyataan pejabat menguji akal sehat rakyat

by Ingot Simangunsong
13 September 2026 | 22:16 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong PENDIDIKAN tinggi dan jabatan mentereng ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Fenomena ini terlihat ketika...

Read more
Kolom

Bukan yang pertama, Jika MA setuju apa yang membuat pemakzulan Bupati Gowa bersejarah?

by Ingot Simangunsong
14 Agustus 2026 | 12:07 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong NAMA Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, kini berada dalam pusaran proses politik dan hukum...

Read more
Kolom

Kematian Winda Lorenza Gowasa: Polisi Sebut Bunuh Diri, Keluarga Curiga, Komisi III DPR Turun Tangan

by Ingot Simangunsong
9 Agustus 2026 | 07:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong KEMATIAN Winda Lorenza Gowasa (WL), mantan istri seorang anggota Polri di Medan, kini menjadi...

Read more

Berita Terbaru

News

Di reses Dasa Sinaga, Warga bongkar persoalan Parapat: Air bersih, jalan rusak, terminal hingga lesunya wisata

24 September 2026 | 07:03 WIB
News

Satu pekan aspirasi belum ada kepastian, PDI-P Sumut minta BGN segera tindaklanjuti kasus dugaan keracunan MBG di Karo

23 September 2026 | 00:43 WIB
News

Reses Dasa Sinaga di Panombeian Panei, Warga keluhkan pupuk dan irigasi

22 September 2026 | 20:21 WIB
News

Warga soroti kerusakan jalan di Silou Kahean, dorong kolaborasi Pemkab Simalungun dan Pemprov Sumut

22 September 2026 | 13:59 WIB
News

Dugaan keracunan MBG di Galang, PDIP Sumut dorong evaluasi total

21 September 2026 | 19:20 WIB
News

Tumpahan oli di Jalan Asahan Simalungun, arus lalulintas sempat macet

21 September 2026 | 15:11 WIB
SEREMONI

Tiara Kusuma dilantik di 15 kecamatan, dorong kemajuan dunia kecantikan di Tapanuli Utara

21 September 2026 | 11:12 WIB
News

Bupati Tapanuli Utara tekankan perubahan mental ASN dan pelayanan publik

21 September 2026 | 10:47 WIB
News

2,2 juta bibit Kopi Arabika ditanam serentak, Pemkab Taput targetkan perluasan hingga 19.252 hektare

21 September 2026 | 10:36 WIB
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

21 September 2026 | 09:57 WIB
News

Roy Yantho Simangunsong terpilih aklamasi pimpin IKADIN Pematangsiantar 2026-2029

19 September 2026 | 17:56 WIB
News

Teken komitmen antikorupsi bersama KPK, Sutrisno: Jangan berhenti jadi seremonial

18 September 2026 | 21:18 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus