Segaris.co
Sabtu, 18 Juli 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom

Politik akomodasi… keunggulan dan kelemahannya

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
14 April 2025 | 15:36 WIB
in Kolom

 

catatan | ingot simangunsong

PRABAWO SUBIANTO — Presiden Republik Indonesia yang juga Ketua Umum DPP Partai Gerindra — menjalani roda pemerintahannya 5 tahun ke depan, dengan konsep POLITIK AKOMODASI.

Konsep ini dipopulerkan paska bertemunya Prabowo Subianto dengan Ketua Umum DPP PDI-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Senin (07/04/2025).

Bagaimana sejarah konsep ini bertumbuh. Siapa konseptornya? Ini paparannya disampaikan Segaris.co.

POLITIK AKOMODASI pertama kali berkembang dalam konteks sejarah politik di negara-negara yang memiliki masyarakat majemuk atau multikultural, terutama setelah Perang Dunia II.

Namun, secara konsep, akar dari politik akomodasi bisa ditelusuri lebih jauh ke dalam teori-teori pluralisme dan konsosiasionalisme.

Berikut penjelasan ringkasnya:

1. Kapan dan di mana pertama kali berkembang

Politik akomodasi secara teoritis berkembang pada pertengahan abad ke-20, dan salah satu negara yang menjadi contoh awal penerapannya adalah Belanda, kemudian diikuti oleh Swiss, Austria, dan Lebanon.

Konsep ini semakin dikenal melalui teori “demokrasi konsosiasional” (consociational democracy) yang dikembangkan oleh ilmuwan politik Arend Lijphart pada tahun 1969.

2. Apa itu politik akomodasi?

Politik akomodasi adalah strategi politik yang digunakan untuk mengelola keberagaman (etnis, agama, budaya, bahasa, dll.) dalam satu negara dengan cara memberi ruang kepada berbagai kelompok untuk berpartisipasi dalam kekuasaan, mencegah dominasi satu kelompok atas yang lain.

3. Ciri utama politik akomodasi:

Pemerintahan koalisi besar lintas kelompok

Otonomi kelompok dalam hal tertentu

Proporsionalitas dalam representasi politik dan birokrasi

Veto bagi kelompok minoritas dalam keputusan penting

4. Contoh negara:

Belanda: Melalui sistem pilarisasi (pillarization) yang membagi masyarakat ke dalam kelompok berdasarkan agama dan ideologi.

Swiss: Dengan membagi kekuasaan antar kelompok berbahasa Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh.

Lebanon: Melalui sistem pembagian jabatan politik berdasarkan agama (misalnya presiden harus Maronit, perdana menteri Sunni, ketua parlemen Syiah).

**************

POLITIK AKOMODASI adalah strategi dalam dunia politik untuk meredakan konflik atau perbedaan dengan cara mengakomodasi kepentingan berbagai pihak atau kelompok.

Berikut kelebihan dan kekurangannya:

Kelebihan politik akomodasi:

Mencegah Konflik Sosial dan Politik:

Politik akomodasi dapat meredakan ketegangan antar kelompok yang berbeda pandangan, suku, agama, atau ideologi.

Meningkatkan Stabilitas Nasional:

Dengan mengakomodasi semua pihak, pemerintahan bisa menciptakan suasana politik yang lebih tenang dan stabil.

Menjamin Representasi Kelompok Minoritas:

Politik akomodasi membuka ruang partisipasi bagi kelompok-kelompok yang sebelumnya terpinggirkan dalam proses pengambilan kebijakan.

Mendorong Konsensus dan Kerjasama:

Akomodasi membuka dialog dan kompromi sehingga keputusan politik lebih inklusif.

Menunjukkan Sikap Toleran dan Demokratis:

Negara atau pemerintahan tampak lebih terbuka terhadap keragaman aspirasi masyarakat.

Kekurangan politik akomodasi:

Rawan Transaksi Politik atau Politik Balas Budi:

Akomodasi bisa berubah menjadi pembagian kekuasaan yang berdasarkan kepentingan, bukan kompetensi.

Bisa Mengaburkan Akuntabilitas:

Dalam upaya merangkul semua pihak, pemerintah bisa kehilangan ketegasan dan arah kebijakan yang jelas.

Menghambat Reformasi:

Kompromi yang terlalu jauh bisa menghambat perubahan struktural yang diperlukan.

Menumbuhkan Politik Identitas yang Eksploitatif:

Kelompok tertentu bisa menggunakan politik akomodasi untuk terus menekan atau menuntut tanpa komitmen terhadap kepentingan bersama.

Ketidakefisienan dalam Pengambilan Keputusan:

Proses kompromi yang panjang bisa memperlambat pengambilan keputusan penting.

Penulis, pimpinan redaksi Segaris.co

Tags: AkomodasiPolitikPrabowo SubiantosegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Ingot Simangunsong
Kolom

Dari kemiskinan menuju kebangkitan: Perjalanan Etiopia menjadi Negara yang terus bertumbuh

by Ingot Simangunsong
18 Juli 2026 | 07:53 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  SELAMA puluhan tahun, nama Etiopia identik dengan kelaparan dan kemiskinan. Namun dalam dua dekade terakhir, negara...

Read more
Ingot Simangunsong
Kolom

Tipping Point terberantasnya korupsi di Indonesia: Mungkinkah terjadi?

by Ingot Simangunsong
16 Juli 2026 | 08:52 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong KORUPSI masih menjadi salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia. Hampir setiap tahun, aparat penegak hukum mengungkap...

Read more
Kolom

RUU Perampasan Aset: Mengapa terus tertunda saat rakyat menanggung dampak korupsi?

by Ingot Simangunsong
13 Juli 2026 | 06:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong KORUPSI bukan sekadar pelanggaran hukum. Kejahatan ini merampas hak masyarakat atas pendidikan yang layak,...

Read more
Kolom

Nama Celine Evangelista muncul di tengah kasus Febrie Adriansyah, Apa benang merahnya?

by Ingot Simangunsong
12 Juli 2026 | 22:00 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong PENETAPAN mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, sebagai...

Read more
Kolom

Dari pemburu Koruptor menjadi Tersangka: Runtuhnya jejak kekuasaan Febrie Adriansyah

by Ingot Simangunsong
12 Juli 2026 | 01:34 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong MANTAN Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, kini menghadapi babak paling...

Read more
Tak Berkategori

Ketika Rakyat mengencangkan ikat pinggang, mengapa korupsi justru semakin beringas?

by Ingot Simangunsong
22 Juni 2026 | 06:46 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong  DI tengah kehidupan masyarakat yang semakin berat, pertanyaan ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari: mengapa...

Read more

Berita Terbaru

News

Bhabinkamtibmas Polsek Siantar Selatan mediasi perselisihan Aantarwarga

18 Juli 2026 | 15:15 WIB
News

Kapolres Pematangsiantar pimpin latihan menembak tingkatkan kesiapsiagaan personel

18 Juli 2026 | 15:03 WIB
News

Polres Pematangsiantar gelar Baksos di Panti Jompo

18 Juli 2026 | 14:14 WIB
Kolom

Dari kemiskinan menuju kebangkitan: Perjalanan Etiopia menjadi Negara yang terus bertumbuh

18 Juli 2026 | 07:53 WIB
News

UPDATE: Korban meninggal kecelakaan beruntun di Sibolangit bertambah menjadi 4 orang

17 Juli 2026 | 18:24 WIB
News

Kecelakaan beruntun libatkan tujuh kendaraan di Sibolangit, satu orang dilaporkan meninggal

17 Juli 2026 | 18:00 WIB
News

Pemko Pematangsiantar gelar Job Fair 2026, sediakan lebih dari 1.000 lowongan kerja

17 Juli 2026 | 13:36 WIB
News

Kapolres Pematangsiantar terima bantuan alat Tes Urine dari Wali Kota, perkuat sinergi pemberantasan Narkoba

17 Juli 2026 | 10:06 WIB
News

Profil 9 Anggota Tim Kejagung yang menangani perkara Jampidsus Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 | 08:35 WIB
News

Polsek Siantar Martoba bantu warga sakit berobat ke Puskesmas

16 Juli 2026 | 17:48 WIB
News

Polsek Siantar Marihat respons cepat laporan keributan melalui Call Center 110

16 Juli 2026 | 17:35 WIB
Kolom

Tipping Point terberantasnya korupsi di Indonesia: Mungkinkah terjadi?

16 Juli 2026 | 08:52 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita