
SIMALUNGUN, SEGARIS.CO — DI wilayah pemerintahan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon — yang dipimpin Viktor Sijabat — ada 3 kelurahan (yakni Kelurahan Girsang, Parapat dan Tigaraja) serta 3 nagori/desa (yakni Nagori Sibaganding, Sipangan Bolon, dan Sipangan Bolon Mekar).
Hal tersebut disampaikan Corry Panjaitan — pengundang warga Girsang Sipangan Bolon — yang hadir di acara anggota DPRD Provinsi Sumut Fraksi Partai Golkar, Dasa M Sinaga SE dari Dapil X Kabupaten Simalungun – Kota Pematangsiantar yang menggelar Kegiatan Reses I Tahun Sidang III Tahun 2026-2027 di Balai Harangguan Bolon, Kelurahan Tiga Raja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Selasa (23/9/2026).
Kepada Dasa Sinaga yang didampingi Riris br Harahap (mewakili Camat Girsang Sipangan Bolon) dan Lurah Tiga Raja, Corry Panjaitan menyebutkan, banyak permasalahan yang sedang dihadapi warga, dan sangat perlu didengarkan, untuk dapat diakomodir sebagai hasil reses ke pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Beberapa permasalahan yang menonjol, yakni produk usaha yang dijual UMKM tidak laku akibat kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkurang, kondisi jalan rusak, terminal yang tidak berfungsi, konflik lahan, dan masalah air bersih dari PDAM Tirta Lihou yang sudah bertahun-tahun pendistribusiannya tidak becus.
“Kunjungan wisatawan yang menurun drastis berdampak pada penghasilan pengusaha souvenir, sehingga mereka beralih menjadi petani untuk melanjutkan hidup. Masalah yang butuh perhatian khusus, adalah pendistribusian air bersih oleh PDAM Tirta Lihou yang bertahun-tahun tak terselesaikan. Bahkan, saat ini warga tidak mendapatkan air bersih,” kata Corry Panjaitan yang memaparkan bahwa warga yang hadir mewakili pelaku UMKM, kelompok sadar wisata, transportasi dan lainnya.
Butuh perbaikan jalan dan lampu penerangan
TONO SINAGA, pengelola tempat wisata di Nagori Bonan Dolok — yang dikenal sebagai kawasan wisata paralayang dan kamping –menyampaikan, dalam kondisi kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara yang semakin menurun, ke tempatnya masih ada pengunjung.
“Saat ini, untuk dapat mempertahankan kondisi tersebut, kiranya pemerintah setempat [Pemkab Simalungun, red) melalui dorongan Pak Dasa Sinaga, dapat memperbaiki kondisi jalan sudah rusak, serta memfasilitasi lampu penerangan jalan, agar para pengunjung merasa aman dan nyaman memasuki dan selama berada di lokasi wisata Bonan Dolok,” kata Tono Sinaga.
Hal senada — terkait perbaikan jalan — disampaikan pelaku UMKM, Boru Sirait, bahwa jalan setapak yang menghubungkan Tiga Raja dengan kawasan Pagoda, perlu diperbaiki.
“Jalan setapak itu, jika diperbaiki sehingga layak dilintasi, khususnya sepedamotor, akan mengurangi arus lalulintas yang macet,” kata Boru Sirait yang menegaskan bahwa jalan setapak itu, bisa menghubungkan beberapa kawasan di Tiga Raja dan Parapat.
Pak Sipahutar, juga bercerita tentang kawasan wisata Kampung Warna-warni, yang butuh sentuhan perbaikan kondisi jalan Kampung Pasir dan Buttu Pasir.
“Jika musim hujan, selalu banjir. Jika kondisi jalan di kawasan itu tidak diperbaiki secepatnya, dikhawatirkan terjadi longsor yang akan berdampak pada nasib 200 KK warga, bisa tertimbun, kata Pak Sipahutar.
Terkait masalah yang disampaikan tersebut, Dasa Sinaga memberikan apresiasi dan menyampaikan sikap untuk memperhatikan dan membangun komunikasi dengan Camat maupun Lurah.
“Mari sama-sama kita perjuangkan dan bangun komunikasi agar permasalahan yang dihadapi saat, dapat terealisasi,” kata Dasa Sinaga.
Fungsikan terminal dan penataan arus lalulintas
MARTIN SINAGA — pernah aktif sebagai pelaku wisata dan karena kondisi, banting setir menjadi supir angkot — menyebutkan, hal yang sudah lama diharapkan warga Parapat, adalah meningkatkan fungsi serta pengaktifan Terminal Parapat.
Dengan kehadiran Dasa Sinaga, ia berpengharapan wacana pengaktifan Terminal Parapat dapat direalisasikan agar penataan perlalulintasan angkutan desa, bus pariwisata dan lintas kabupaten/provinsi, berjalan dengan baik.
“Jika terminal berfungsi dan semua pihak bersedia menjalankan peraturan perlalulintasan, kondisi arus lalulintas kota Parapat sebagai kota wisata, benar-benar nyaman,” kata Martin Sinaga yang tidak dapat menerima jika supir angkot yang “dikambinghitamkan” sebagai penyebab kemacetan dan semrawutnya arus lalulintas.
Martin Sinaga memberi contoh bagaimana Bus Pariwisata mau pun mobil pengunjung yang bebas parkir di badan jalan.
“Kita tidak paham, bagaimana mereka sebebas dan seenaknya memarkin kendaraan di badan jalan. Ketika ditanya, kita dihadapkan dengan berbagai informasi yang membingungkan. Sebenarnya institusi mana yang berhak menindak kesemrawutan lalulintas di kota wisata ini,” kata Martin Sinaga yang menyebutkan bahwa Kota Parapat, merupakan kota terbobrok dalam mengelola kepariwisataannya.
Mewakili Camat Girsang Sipangan Bolon, Riris br Harahap menyebutkan bahwa masalah terminal akan disampaikan kepada Camat.
Soal air bersih, seharusnya mundur saja
Pada kesempatan itu, Corry Panjaitan menyampaikan keluhan warga Parapat terkait ketersediaan air bersih, yang sudah bertahun-tahun tidak mampu diselesaikan pihak PDAM Tirta Lihou.
“Kalau mereka tidak mampu, sebaiknya mundur saja. Pemkab Simalungun harus siapkan tenaga professional yang benar-benar sanggup mempersiapkan ketersediaan air bersih. Kota Parapat ini kan, kita wisata, kenapa masalah air bersih tidak disediakan,” kata Corry Panjaitan.
Ia menyebutkan, masalah ketersediaan air bersih, adalah hak dasar bagi masyarakat. “Kami tidak tahu apa masalahnya… Contoh di Jalan Josep Sinaga dan Jalan Pendidikan, masalah air ini sudah bertahun-tahun,” kata Corry Panjaitan yang memaparkan, dulu ada volunteer bermarga Sinaga yang siap menangani masalah ketersediaan air bersih di Kota Parapat, tapi tidak mendapat respon dan perhatian dari pemerintah.
Membangkitkan kembali Parapat kota wisata
Dasa Sinaga menyebutkan, bahwa dirinya berpengharapan, melalui komunikasi yang terbangun dengan baik, antara masyarakat dengan pemerintahan kecamatan, kabupaten, provinsi dan pusat, serta legislatif, Parapat sebagai kota wisata dapat dibangkitkan kembali.
Ia juga memberikan masukan, bagaimana seluruh warga Parapat dapat memanfaatkan media sosial untuk menggugah perhatian seluruh anggota dewan di kabupaten, provinsi dan DPR RI yang daerah pemilihannya termasuk kota wisata itu, dapat fokus mencarikan solusi bagi kebangkitan kota wisata Parapat.
“Masalah Terminal Parapat dan ketersediaan air bersih, Fraksi Partai Golkar siap untuk membawa permasalahan ini ke Pemkab Simalungun maupun Provinsi Sumatera Utara. Dalam rapat paripurna pun, akan kami bawa aspirasi yang disampaikan ini,” kata Dasa Sinaga.
Kemudian Dasa Sinaga menyampaikan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan warga, sudah dicatat dan akan menjadi bahan reses yang akan disampaikan dalam rapat paripurna. [Ingot Simangunsong/***]





