Catatan | Herry Chandra, ST
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Kulon Nuwun,
DARI tanah Habonaron Do Bona Simalungun yang subur, tempat nenek moyang kita membuka hutan dengan cangkul dan doa, Kuloh mengucapkan Selamat dan Sukses untuk Musyawarah Besar VI Paguyuban Keluarga Besar Pujakesuma di Jakarta.
Musyawarah Besar ini bukan sekedar kumpul-kumpul. Ini adalah “Cangkruan Agung” untuk menentukan apakah kita hanya menjadi organisasi besar, atau organisasi yang membesarkan anggotanya.
Menarik 5R ini, Guyub, Rukun, Raket, Regeng, Rumekso. Lima kata ini bukan slogan, ini adalah falsafah hidup orang Jawa yang harus kita hidupkan kembali.
GUYUB – “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”
Cinta tumbuh karena terbiasa bersama. Guyub tidak bisa hanya lewat grup WA. Guyub harus ada wujudnya. Harus ada kopi darat, ada gotong royong, ada rewang saat tetangga hajatan.
Filosofi Jawa mengajarkan: “Crah Agawe Bubrah, Rukun Agawe Santoso.” Berpecah belah akan hancur, rukun akan sentosa.
Hari ini banyak paguyuban bubrah karena di dalamnya ada rasa paling hebat. Mubes VI harus menghapus rasa itu.
Kita semua sama, satu keluarga. Tidak ada Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat di perantauan. Yang ada adalah Jawa Pujakesuma.
RUKUN – “Ojo Dumeh, Ojo Adigang, Adigung, Adiguno”
Jangan mentang-mentang berkuasa, mentang-mentang kuat, mentang-mentang pintar. Inilah kunci kenapa orang Jawa bisa diterima di mana saja, termasuk di Sumatera Utara.
Kita rukun dengan suku Batak, Melayu, Simalungun, Minang, Chinese, India, karena kita tidak pernah Dumeh.
Rukun juga berarti “Legowo Lan Semeleh”. Ikhlas dan berserah diri setelah berusaha.
Di Mubes nanti pasti ada perbedaan pilihan ketua. Yang kalah harus legowo mendukung, yang menang harus semeleh merangkul.
Kalau tidak, Pujakesuma akan habis energinya hanya untuk bertengkar di internal.
RAKET – “Alon-Alon Waton Kelakon”
Raket artinya rekat, tidak mudah lepas. Organisasi yang raket tidak dibangun dalam semalam.
Harus pelan tapi pasti jadi. Jangan kepingin langsung besar, tapi pondasinya rapuh.
Filosofi ini mengajarkan kita untuk membangun Pujakesuma dari bawah, data anggota yang akurat, iuran yang transparan, kegiatan yang rutin.
Raket juga berarti “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero”. Junjung tinggi nama orangtua dan leluhur, kubur dalam-dalam aib keluarga. Jangan buka aib sesama anggota di media sosial. Jaga nama baik Pujakesuma, karena nama baik itu adalah warisan.
REGENG – “Jer Basuki Mawa Beya”
Semua keberhasilan butuh biaya dan usaha. Kemakmuran tidak akan turun dari langit. Regeng, ramai dan makmur, hanya bisa dicapai jika kita mau berkeringat.
Leluhur kita bilang: “Urip Iku Urup”. Hidup itu harus menghidupi. Pujakesuma harus menjadi obor yang menghidupi anggotanya.
Saya usulkan dari Mubes ini lahir gerakan nyata, Satu DPC Satu Koperasi Produktif, Satu DPD Satu Balai Latihan Kerja.
Jangan lagi anak cucu kita hanya jadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Dia harus jadi pemilik toko, pemilik bengkel, pemilik sawah. Pengusaha besar, Politisi, Itulah Regeng yang sejati.
RUMEKSO – “Sapa Nandur Bakal Ngundhuh”
Siapa yang menanam akan menuai. Rumekso artinya menjaga dan merawat. Apa yang kita jaga hari ini, itulah yang akan menjaga anak cucu kita besok.
Kita harus Rumekso budaya. Ajarkan anak kita bahasa Jawa kromo, ajarkan gamelan, ajarkan kuda lumping dan wayang.
Boleh mereka pintar bahasa Inggris dan bahasa Korea, tapi jangan sampai “Kacang Lali Kulite” – kacang lupa kulitnya. Orang yang lupa budayanya adalah orang yang kehilangan jiwanya.
Dan kita harus Rumekso anggota. Jika ada anggota Pujakesuma yang tertindas, yang kesulitan hukum, organisasi wajib hadir paling depan.
Saudaraku, akhirnya saya tutup dengan filosofi pamungkas, “Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”.
Segala kekerasan dan keangkuhan akan kalah oleh kelembutan dan kebaikan.
Mari kita bangun Pujakesuma dengan kelembutan, bukan dengan amarah. Dengan karya, bukan dengan janji.
Matur sembah Nuwun njih Mas Eko Sopianto SE sebagai Ketua Umum DPP Pujakesuma yang sudah membawa Pujakesuma sampai hari ini dan terus lanjutkan.
Dari Simalungun untuk Indonesia, dari Jakarta untuk Dunia.
Selamat Bermusyawarah. Semoga Mubes VI di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta menghasilkan keputusan terbaik.
Guyub, Rukun, Raket, Regeng, Rumekso!
Satu Keluarga, Satu Tujuan, Pujakesuma Jaya!
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Herry Chandra, ST
Keluarga Besar Pujakesuma Kab. Simalungun



