Segaris.co
Minggu, 16 Agustus 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home News
Oplus_131072

Oplus_131072

Mengapa Hari Damai Aceh ke-21 berujung ricuh? Bendera Bulan Bintang dan ruang demokrasi jadi sorotan

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
16 Agustus 2026 | 15:05 WIB
in News

BANDA ACEH, SEGARIS.CO – PERINGATAN 21 tahun perdamaian Aceh yang seharusnya menjadi momentum mengenang berakhirnya konflik bersenjata justru diwarnai kericuhan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).

Ribuan masyarakat sebelumnya berkumpul untuk mengikuti doa tolak bala dan zikir bersama memperingati 21 tahun penandatanganan Nota Kesepahaman atau MoU Helsinki, yang ditandatangani Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005.

Namun suasana berubah tegang setelah sejumlah massa mengibarkan bendera Bulan Bintang dan menyampaikan berbagai aspirasi.

Setelah rangkaian orasi berakhir, terjadi aksi saling lempar antara sebagian massa dan aparat keamanan.

Polisi kemudian menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Sejumlah warga dilaporkan mengalami luka dan beberapa kendaraan mengalami kerusakan.

Dari Peringatan Perdamaian menjadi ketegangan

Kericuhan menjadi perhatian karena terjadi tepat pada tanggal yang selama dua dekade lebih dikenal sebagai simbol berakhirnya konflik bersenjata di Aceh.

Sejumlah laporan menyebut massa sebelumnya menyampaikan aspirasi dan tuntutan terkait kondisi Aceh setelah 21 tahun perdamaian.

Dalam perkembangan di lapangan, pengibaran bendera Bulan Bintang menjadi salah satu pemicu ketegangan dengan aparat.

Bendera Bulan Bintang sendiri memiliki sejarah panjang dalam konflik Aceh dan menjadi simbol yang sensitif dalam konteks politik serta perdamaian Aceh.

Karena itu, kemunculannya dalam jumlah besar pada momentum Hari Damai Aceh menjadi persoalan yang mudah memicu ketegangan, terutama ketika berhadapan dengan simbol-simbol negara.

Mengapa aspirasi itu muncul?

Persoalan yang terjadi tidak cukup dilihat hanya dari aksi pengibaran bendera.

Direktur LBH Banda Aceh, Aulianda Wafisa, meminta pemerintah mengutamakan ruang demokrasi dan dialog dalam merespons aspirasi masyarakat Aceh.

Menurut LBH Banda Aceh, peringatan 21 tahun perdamaian seharusnya menjadi momentum memperkuat kebebasan sipil, demokrasi dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat.

Artinya, di balik aksi yang berujung bentrokan terdapat persoalan yang perlu didengar dan dibahas secara lebih mendalam melalui mekanisme demokratis.

Jusuf Kalla: Bukan penolakan kepada Pemerintah Pusat

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang memiliki peran penting dalam proses perdamaian Aceh, juga memberikan pandangan mengenai peristiwa tersebut.

Menurut Jusuf Kalla, pengibaran bendera Bulan Bintang tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai penolakan terhadap pemerintah pusat.

Ia melihat aksi tersebut lebih berkaitan dengan ekspresi ketidakpuasan di lingkungan mantan anggota GAM.

Pandangan tersebut penting karena memberikan perspektif berbeda terhadap peristiwa yang terjadi.

Jangan sampai luka lama terbuka kembali

Perdamaian Aceh bukanlah sesuatu yang lahir dengan mudah.

MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 menjadi tonggak penting setelah konflik panjang yang menelan banyak korban dan meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.

Karena itu, setiap ketegangan yang muncul di Aceh perlu disikapi secara hati-hati.

Kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pihak bahwa perdamaian tidak cukup hanya diperingati setiap tahun.

Perdamaian harus dirawat melalui dialog, keadilan, penghormatan terhadap kebebasan sipil, penegakan hukum dan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah didorong membuka ruang dialog

LBH Banda Aceh menilai pemerintah perlu memperluas ruang demokrasi dan dialog agar aspirasi masyarakat tidak berujung pada benturan di lapangan.

Di sisi lain, aparat keamanan memiliki kewajiban menjaga ketertiban dan memastikan keamanan masyarakat.

Tantangannya adalah bagaimana kedua kepentingan tersebut berjalan beriringan: aspirasi masyarakat tetap dapat disampaikan, sementara keamanan dan ketertiban tetap terjaga.

Peristiwa 15 Agustus 2026 semestinya tidak menjadi awal munculnya kembali ketegangan di Aceh.

Sebaliknya, peristiwa tersebut dapat menjadi momentum evaluasi bersama tentang bagaimana perdamaian Aceh yang telah berjalan 21 tahun dapat terus dijaga.

Sebab, perdamaian bukan hanya tentang tidak adanya perang. Perdamaian juga tentang bagaimana masyarakat merasa didengar, dihormati dan mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan. [Red/**”]

 

Segaris.co akan terus mengikuti perkembangan penanganan kericuhan Hari Damai Aceh, termasuk keterangan resmi pemerintah dan aparat keamanan serta langkah penyelesaian yang akan ditempuh setelah peristiwa tersebut.

Tags: AcehBanda AcehDitahanRicuhSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

News

Hari Damai Aceh ke-21 berujung ricuh, Sembilan orang ditangkap dan sejumlah warga terluka

by Ingot Simangunsong
16 Agustus 2026 | 14:52 WIB
0

BANDA ACEH, SEGARIS.CO – PERINGATAN 21 tahun perdamaian Aceh yang digelar di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026),...

Read more
News

Gempa M7,7 guncang Flores: 47 meninggal, Pemerintah percepat evakuasi dan bantuan darurat

by Ingot Simangunsong
16 Agustus 2026 | 10:12 WIB
0

FLORES, NTT, SEGARIS.CO – PENANGANAN darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),...

Read more
News

Koperasi Jasa Keluarga Pers Indonesia gandeng perusahaan Tiongkok kembangkan Mobile Grain Dryer

by Ingot Simangunsong
15 Agustus 2026 | 21:08 WIB
0

DELISERDANG, SEGARIS.CO – KOPERASI Jasa Keluarga Pers Indonesia menggandeng perusahaan asal Tiongkok, Eustace Chun Yi Co., Ltd., untuk mengembangkan teknologi...

Read more
News

Gempa M7,7 guncang Flores, 38 orang meninggal dunia, sekitar 2.000 warga mengungsi

by Ingot Simangunsong
15 Agustus 2026 | 19:58 WIB
0

NAGEKEO, NTT, SEGARIS.CO – GEMPA bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Hingga...

Read more
News

Bupati Sikka imbau warga tetap tenang dan waspada Pascagempa M7,7

by Ingot Simangunsong
15 Agustus 2026 | 14:19 WIB
0

MAUMERE, NTT, SEGARIS.CO – BUPATI SIKKA, Juventus Prima Yoris Kago, mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Sikka agar tetap tenang dan meningkatkan...

Read more
News

Gempa M7,7 guncang Flores, 14 orang meninggal dan puluhan rumah rusak

by Ingot Simangunsong
15 Agustus 2026 | 13:56 WIB
0

FLORES, NTT, SEGARIS.CO – GEMPA bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari....

Read more
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita