Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom
Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi segaris.co, relawan Dulur Ganjar Pranowo, inisiator Jurnalis Ganjar Pranowo

Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi segaris.co, relawan Dulur Ganjar Pranowo, inisiator Jurnalis Ganjar Pranowo

Ahimsa: ANTI KEKERASAN

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
29 November 2023 | 11:04 WIB
in Kolom

Catatan | Ingot Simangunsong

AHIMSA atau ahiṃsā atau ahingsā adalah sebuah istilah Sanskerta yang berarti “antikekerasan”. Ahimsa merupakan bagian penting dari agama Hinduisme,  Jainisme, dan Buddhisme.

Konsep ini pertama kali digunakan dalam sebuah kitab Hindu yang disebut Upanishad, yang salah satu bagiannya berasal dari tahun 800 SM.

Konsep ini kemudian dijelaskan lebih lanjut di Bhagavad Gita, Puranas dan kemudian teks-teks Buddhis.

Dalam kitab Manusmrti, seorang pengikut Ahimsa adalah seorang vegetarian dan tidak membunuh atau melukai makhluk. Ahimsa adalah tugas utama dari semua kasta Hindu.

Konsep ini diperkenalkan kepada Barat oleh Mahatma Gandi. Beberapa orang berpendapat, gerakan anti-kekerasan yang dilakukan Gandhi memengaruhi gerakan kemanusiaan yang lain seperti gerakan Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela.

*****

Mahatma Gandhi itu, tokoh spiritual dan politikus India, dikenal dengan gerakan kemanusiaan, dalam upaya pembebasan India dari kuasa kolonial.

Mahatma Gandhi bergerak dengan konsep tindakan non-violence, yakni gerakan perlawanan yang tidak menyertakan kekerasan.

Mahatma Gandhi pun membangkitkan kesadaran masyarakat tertindas dengan mempraktekkan kebaikan terhadap sesama manusia tanpa memandang siapa dan dari mana asal usulnya.

Begitulah gerakan non-violence dibentuk sebagai penyikapan masyarakat India untuk turut secara aktif melawan kejahatan yang disebarkan melalui teror kolonialisme.

Kemudian gerakan tersebut diperkuat denfan gerakan HARTAL merupakan bentuk dari kesadaran masyarakat agar tidak dengan mudah bekerja sama dengan para penjajah.

Hal ini dibuktikan Gandhi melalui seruan untuk melakukan pembangkangan massal seperti pemogokan makan yang dilakukan Gandhi untuk mendesak sikap opresif penjajah di India.

Kemudian gerakan SATYAGRAHA merupakan seruan Gandhi untuk memperoleh keadilan secara ekonomi, terutama semenjak masyarakat India sadar bahwa aspek-aspek krusial bangsa seperti ekonomi dan politik telah dikuasai oleh penjajah.

Karenanya ajakan Gandhi untuk melakukan Satyagraha dapat dilakukan dengan menolak kebijakan dan peraturan yang telah dikeluarkan oleh kuasa penjajah.

Ajakan Gandhi yang terakhir agar India dapat keluar dari penjajahan dan melawan kejahatan ialah dengan gerakan SWADESI atau upaya untuk berdikari.

Hal ini dimaksudkan agar masyarakat India mampu memenuhi kebutuhan bangsanya melalui komoditas dan hasil produksi yang dihasilkan bangsa sendiri.

Dengan demikian bangsa India tidak perlu bergantung dengan negara lain sehingga penjajah tidak memiliki harga tawar bagi masyarakat India.

Begitulah Mahatma Gandhi dengan 4 gerakan yang ditanamkannya dalam sendi-sendi kehidupan sosial rakyat India.

*****

BAGAIMANA dengan situasi kekinian PESTA DEMOKRASI di negeri kita yang sedang hangat-hangatnya?

Mari merenungkan apa yang disampaikan Presiden RI I, Ir Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Benarkah kita sedang berhadapan atau diperhadapkan dengan apa yang disebut Soekarno sebagai MELAWAN BANGSAMU SENDIRI!!

Jika mengamati sirkulasi perpolitikan yang rasa kebablasan dan masih bergrilyanya para koruptor yang berada di rahim partai politik, maka semakin terkuatkanlah dengan apa yang disebutkan Soekarno, “tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Para politisi, para pemikir dan para pengamat, sibuk membangun komunikasi emosional dalam menyikapi situasi perpolitik kebangsaan dan kenegarawanan.

Ramai-ramai mencari posisi strategis di salah satu kubu dan menjadikan kekuatan nalar mau pun kekayaan intelektualnya sebagai alat tekan bagi pihak tertentu.

Nafas “ahimsa”, “hartal”, “satygraha” dan “swadesi”, menjadi tidak bertempat atau diberi tempat, walau setarikan nafas saja.

Seakan-akan sikap frontal dan intonasi suara menggelegar adalah alat efektif untuk mencapai satu tujuan. Jika intonasi suara melembut, sang tokoh politik serasa tidak diperhitungkan, serasa kehilangan marwah dan serasa disepelekan.

Para politisi itu, kenyataannya tidak melirik sedikit pun kepada pesan Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Seyogianya, para politisi dari pucuk pimpinan partai hingga akar rumput, berpatokanlah pada apa yang disampaikan Soekarno tersebut bersama “Djasmerah”nya.

Para politisi dan negarawan, di momen PESTA DEMOKRASI ini, patutlah mengintrospeksi diri, bahwa sebenarnya kehadiran partai politik itu untuk kemakmuran rakyat semesta atau untuk kepentingan partai, pribadi dan kelompok saja.

Kalaulah untuk kepentingan partai, pribadi dan kelompok saja, maka hambarlah apa yang disampaikan Soekarno.

Untuk itu, rakyat diharapkan lebih cerdas dan awas dalam menentukan dan menetapkan arah politiknya bukan politik praktisnya.

Rakyat harus diberikan pencerahan, agar tidak tersedot gorengan-gorengan politisi mabok, sehingga masuk dalam pusaran politik sesat.

Rakyat harus dikuatkan tentang betapa kuat legitimasi suara mereka dalam menentukan arah pembangunan INDONESIA EMAS, dengan referensi data serta rekam jejak yang ditetapkan melalui HATI NURANI.

Rakyat tidak lagi di posisi mangggut-manggut atas informasi liar yang disampaikan para politisi jahat, politisi hitam dan politisi KORUP.

Mari tetap berdiri di garis SUARA RAKYAT, SUARA TUHAN, Vox populi, vox dei.

Penulis, Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi segaris.co, relawan Dulur Ganjar Pranowo, inisiator Jurnalis Ganjar Pranowo

Tags: AhimsaAntiDemokrasiGandhiKekerasanMahatmaMahatma GandhiPestaPolitiksegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

by Ingot Simangunsong
12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  PERNAH dengar kata pemakzulan saat berita politik lagi panas-panasnya? Biasanya istilah ini muncul ketika ada desakan...

Read more
Kolom

Jika Gibran dimakzulkan, Apa yang terjadi pada pemerintahan dan peta politik Indonesia?

by Ingot Simangunsong
25 September 2026 | 09:01 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong WACANA pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perhatian publik seiring bergulirnya perkara hukum yang...

Read more
Oplus_131105
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

by Ingot Simangunsong
21 September 2026 | 09:57 WIB
0

Catatan | INGOT SIMANGUNSONG  PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto tentang pendidikan negeri yang harus gratis kembali membuka perbincangan besar tentang masa...

Read more
Kolom

Ketika pernyataan Antikorupsi diuji oleh fakta di ATR/BPN

by Ingot Simangunsong
16 September 2026 | 16:03 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  ADA sebuah kalimat yang kembali terasa relevan ketika kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan...

Read more
Oplus_131072
Kolom

SK DPP terbit, Andar Amin resmi pimpin Golkar Sumut: dari Musda hingga konsolidasi baru

by Ingot Simangunsong
14 September 2026 | 20:53 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong  PERJALANAN panjang kepengurusan baru Partai Golkar Sumatera Utara akhirnya memasuki titik penting. Dewan Pimpinan...

Read more
Kolom

Pintar belum tentu bijaksana: Ketika pernyataan pejabat menguji akal sehat rakyat

by Ingot Simangunsong
13 September 2026 | 22:16 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong PENDIDIKAN tinggi dan jabatan mentereng ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Fenomena ini terlihat ketika...

Read more

Berita Terbaru

News

Henry Dunan Pardede: “Daud Simanjuntak, figur mumpuni yang cepat tanggap, peduli dan terbuka untuk semua kalangan”

17 Oktober 2026 | 21:59 WIB
News

LSM Fokus Mitra Indonesia  kukuhkan kepengurusan, Amister Silalahi pimpin organisasi

17 Oktober 2026 | 12:50 WIB
News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus