Segaris.co
Rabu, 2 September 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom
Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi segaris.co, relawan Dulur Ganjar Pranowo, inisiator Jurnalis Ganjar Pranowo

Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi segaris.co, relawan Dulur Ganjar Pranowo, inisiator Jurnalis Ganjar Pranowo

Ahimsa: ANTI KEKERASAN

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
29 November 2023 | 11:04 WIB
in Kolom

Catatan | Ingot Simangunsong

AHIMSA atau ahiṃsā atau ahingsā adalah sebuah istilah Sanskerta yang berarti “antikekerasan”. Ahimsa merupakan bagian penting dari agama Hinduisme,  Jainisme, dan Buddhisme.

Konsep ini pertama kali digunakan dalam sebuah kitab Hindu yang disebut Upanishad, yang salah satu bagiannya berasal dari tahun 800 SM.

Konsep ini kemudian dijelaskan lebih lanjut di Bhagavad Gita, Puranas dan kemudian teks-teks Buddhis.

Dalam kitab Manusmrti, seorang pengikut Ahimsa adalah seorang vegetarian dan tidak membunuh atau melukai makhluk. Ahimsa adalah tugas utama dari semua kasta Hindu.

Konsep ini diperkenalkan kepada Barat oleh Mahatma Gandi. Beberapa orang berpendapat, gerakan anti-kekerasan yang dilakukan Gandhi memengaruhi gerakan kemanusiaan yang lain seperti gerakan Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela.

*****

Mahatma Gandhi itu, tokoh spiritual dan politikus India, dikenal dengan gerakan kemanusiaan, dalam upaya pembebasan India dari kuasa kolonial.

Mahatma Gandhi bergerak dengan konsep tindakan non-violence, yakni gerakan perlawanan yang tidak menyertakan kekerasan.

Mahatma Gandhi pun membangkitkan kesadaran masyarakat tertindas dengan mempraktekkan kebaikan terhadap sesama manusia tanpa memandang siapa dan dari mana asal usulnya.

Begitulah gerakan non-violence dibentuk sebagai penyikapan masyarakat India untuk turut secara aktif melawan kejahatan yang disebarkan melalui teror kolonialisme.

Kemudian gerakan tersebut diperkuat denfan gerakan HARTAL merupakan bentuk dari kesadaran masyarakat agar tidak dengan mudah bekerja sama dengan para penjajah.

Hal ini dibuktikan Gandhi melalui seruan untuk melakukan pembangkangan massal seperti pemogokan makan yang dilakukan Gandhi untuk mendesak sikap opresif penjajah di India.

Kemudian gerakan SATYAGRAHA merupakan seruan Gandhi untuk memperoleh keadilan secara ekonomi, terutama semenjak masyarakat India sadar bahwa aspek-aspek krusial bangsa seperti ekonomi dan politik telah dikuasai oleh penjajah.

Karenanya ajakan Gandhi untuk melakukan Satyagraha dapat dilakukan dengan menolak kebijakan dan peraturan yang telah dikeluarkan oleh kuasa penjajah.

Ajakan Gandhi yang terakhir agar India dapat keluar dari penjajahan dan melawan kejahatan ialah dengan gerakan SWADESI atau upaya untuk berdikari.

Hal ini dimaksudkan agar masyarakat India mampu memenuhi kebutuhan bangsanya melalui komoditas dan hasil produksi yang dihasilkan bangsa sendiri.

Dengan demikian bangsa India tidak perlu bergantung dengan negara lain sehingga penjajah tidak memiliki harga tawar bagi masyarakat India.

Begitulah Mahatma Gandhi dengan 4 gerakan yang ditanamkannya dalam sendi-sendi kehidupan sosial rakyat India.

*****

BAGAIMANA dengan situasi kekinian PESTA DEMOKRASI di negeri kita yang sedang hangat-hangatnya?

Mari merenungkan apa yang disampaikan Presiden RI I, Ir Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Benarkah kita sedang berhadapan atau diperhadapkan dengan apa yang disebut Soekarno sebagai MELAWAN BANGSAMU SENDIRI!!

Jika mengamati sirkulasi perpolitikan yang rasa kebablasan dan masih bergrilyanya para koruptor yang berada di rahim partai politik, maka semakin terkuatkanlah dengan apa yang disebutkan Soekarno, “tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Para politisi, para pemikir dan para pengamat, sibuk membangun komunikasi emosional dalam menyikapi situasi perpolitik kebangsaan dan kenegarawanan.

Ramai-ramai mencari posisi strategis di salah satu kubu dan menjadikan kekuatan nalar mau pun kekayaan intelektualnya sebagai alat tekan bagi pihak tertentu.

Nafas “ahimsa”, “hartal”, “satygraha” dan “swadesi”, menjadi tidak bertempat atau diberi tempat, walau setarikan nafas saja.

Seakan-akan sikap frontal dan intonasi suara menggelegar adalah alat efektif untuk mencapai satu tujuan. Jika intonasi suara melembut, sang tokoh politik serasa tidak diperhitungkan, serasa kehilangan marwah dan serasa disepelekan.

Para politisi itu, kenyataannya tidak melirik sedikit pun kepada pesan Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Seyogianya, para politisi dari pucuk pimpinan partai hingga akar rumput, berpatokanlah pada apa yang disampaikan Soekarno tersebut bersama “Djasmerah”nya.

Para politisi dan negarawan, di momen PESTA DEMOKRASI ini, patutlah mengintrospeksi diri, bahwa sebenarnya kehadiran partai politik itu untuk kemakmuran rakyat semesta atau untuk kepentingan partai, pribadi dan kelompok saja.

Kalaulah untuk kepentingan partai, pribadi dan kelompok saja, maka hambarlah apa yang disampaikan Soekarno.

Untuk itu, rakyat diharapkan lebih cerdas dan awas dalam menentukan dan menetapkan arah politiknya bukan politik praktisnya.

Rakyat harus diberikan pencerahan, agar tidak tersedot gorengan-gorengan politisi mabok, sehingga masuk dalam pusaran politik sesat.

Rakyat harus dikuatkan tentang betapa kuat legitimasi suara mereka dalam menentukan arah pembangunan INDONESIA EMAS, dengan referensi data serta rekam jejak yang ditetapkan melalui HATI NURANI.

Rakyat tidak lagi di posisi mangggut-manggut atas informasi liar yang disampaikan para politisi jahat, politisi hitam dan politisi KORUP.

Mari tetap berdiri di garis SUARA RAKYAT, SUARA TUHAN, Vox populi, vox dei.

Penulis, Ingot Simangunsong, pimpinan redaksi segaris.co, relawan Dulur Ganjar Pranowo, inisiator Jurnalis Ganjar Pranowo

Tags: AhimsaAntiDemokrasiGandhiKekerasanMahatmaMahatma GandhiPestaPolitiksegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Kolom

Bukan yang pertama, Jika MA setuju apa yang membuat pemakzulan Bupati Gowa bersejarah?

by Ingot Simangunsong
14 Agustus 2026 | 12:07 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong NAMA Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, kini berada dalam pusaran proses politik dan hukum...

Read more
Kolom

Adab yang (Sengaja) Dilupakan

by Ingot Simangunsong
9 Agustus 2026 | 23:15 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong ENTAH disengaja, memang disengaja, atau pura-pura disengaja, kenyataannya memang demikian: adab semakin sering dilupakan....

Read more
Kolom

Kematian Winda Lorenza Gowasa: Polisi Sebut Bunuh Diri, Keluarga Curiga, Komisi III DPR Turun Tangan

by Ingot Simangunsong
9 Agustus 2026 | 07:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong KEMATIAN Winda Lorenza Gowasa (WL), mantan istri seorang anggota Polri di Medan, kini menjadi...

Read more
Kolom

Dari startup kebanggaan Indonesia menuju Skandal Internasional: Runtuhnya Imperium eFishery dan pelajaran bagi dunia investasi

by Ingot Simangunsong
1 Agustus 2026 | 19:08 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong TIDAK banyak yang menyangka bahwa eFishery, startup yang pernah dielu-elukan sebagai kebanggaan Indonesia di...

Read more
Kolom

Saat penjaga integritas tergoda: Membaca deretan kasus oknum KPK yang memeras dan mengkhianati amanah

by Ingot Simangunsong
1 Agustus 2026 | 13:49 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) lahir dengan satu mandat besar: menjadi benteng terakhir melawan korupsi....

Read more
Kolom

Pergantian Nanik S. Deyang: Murni alasan kesehatan atau momentum pembenahan Badan Gizi Nasional?

by Ingot Simangunsong
23 Juli 2026 | 06:17 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong PERGANTIAN kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi perhatian publik. Presiden Prabowo Subianto...

Read more

Berita Terbaru

SEREMONI

Kejari Simalungun gelar upacara Harlah ke-81 Kejaksaan RI 

2 September 2026 | 16:17 WIB
SEREMONI

Polres Pematangsiantar beri kejutan Harlah ke-81 Kejaksaan 

2 September 2026 | 16:03 WIB
News

Dokkes Polres Siantar lakukan safety food MBG di SPPG YKB

2 September 2026 | 14:04 WIB
News

UPDATE SINABUNG: Status masih SIAGA, warga diminta tidak lengah

2 September 2026 | 13:25 WIB
News

Rekam jejak erupsi Gunung Sinabung: Dari “Gunung tidur” menjadi luka panjang 

1 September 2026 | 22:42 WIB
News

SINABUNG SIAGA: 2.451 warga dievakuasi, abu vulkanik mengarah ke Berastagi

1 September 2026 | 11:40 WIB
News

PBG Watch soroti belum disegelnya bangunan milik anggota DPRD Sumut di Medan

1 September 2026 | 10:22 WIB
News

Gunung Sinabung naik ke Level Siaga, abu mengarah ke Berastagi — PVMBG ingatkan potensi erupsi lebih besar

1 September 2026 | 05:15 WIB
News

Update Berastagi malam ini

31 Agustus 2026 | 20:20 WIB
News

Sidak humanis: Pemko pastikan harga pangan terjangkau

31 Agustus 2026 | 19:41 WIB
News

Gunung Sinabung erupsi, status naik Siaga: Abu 3.500 meter, warga diminta tak panik

31 Agustus 2026 | 19:18 WIB
SEREMONI

Tangkas Kroni Silitonga gelar reses, serap aspirasi warga Nagori Lestari Indah

31 Agustus 2026 | 16:02 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus