Segaris.co
Selasa, 1 September 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home News

Rekam jejak erupsi Gunung Sinabung: Dari “Gunung tidur” menjadi luka panjang 

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
1 September 2026 | 22:42 WIB
in News

KARO, SEGARIS.CO — GUNUNG SINABUNG bukan sekadar sebuah gunung api yang sesekali mengeluarkan abu dan awan panas.

Bagi masyarakat Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Sinabung adalah bagian dari perjalanan hidup selama lebih dari satu dekade terakhir.

Sejak kembali terbangun pada Agustus 2010 setelah berabad-abad tidak menunjukkan erupsi besar, Sinabung telah meninggalkan jejak panjang: korban jiwa, puluhan ribu warga mengungsi, desa-desa yang harus direlokasi, lahan pertanian yang rusak, rumah yang ditinggalkan, serta kerugian ekonomi yang mencapai triliunan rupiah.

Dan pada 31 Agustus 2026, Sinabung kembali menunjukkan peningkatan aktivitasnya.

2010: Sinabung terbangun setelah berabad-abad

Pada 27 Agustus 2010, Gunung Sinabung kembali meletus.

Peristiwa tersebut mengejutkan masyarakat karena Sinabung sebelumnya dikenal sebagai gunung yang lama tidak menunjukkan aktivitas erupsi besar.

BNPB mencatat lebih dari 12.000 warga harus dievakuasi pada fase awal tersebut.

Satu orang meninggal dunia dalam rangkaian kejadian erupsi 2010.

Korban mengalami sesak napas ketika dalam perjalanan menuju tempat pengungsian.

Selain korban jiwa, hujan abu dan pasir vulkanik merusak tanaman serta mengganggu kehidupan masyarakat di sejumlah desa sekitar gunung.

Namun, erupsi 2010 ternyata baru menjadi pembuka dari perjalanan panjang Sinabung.

2011–2012: Masa tenang yang ternyata tidak benar-benar berakhir

Aktivitas Sinabung sempat mereda.

Masyarakat mulai kembali menjalani kehidupan dan mengolah lahan pertanian di kawasan Karo.

Tetapi tekanan vulkanik di bawah gunung tidak benar-benar hilang.

Pada 15 September 2013, Sinabung kembali meletus dan memasuki fase erupsi panjang yang kemudian menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah bencana gunung api tersebut.

2013: Puluhan ribu warga kembali meninggalkan rumah

Erupsi sejak September 2013 membuat jumlah pengungsi melonjak.

BNPB mencatat sebanyak 33.210 jiwa dari 21 desa dan dua dusun harus mengungsi akibat meningkatnya aktivitas Sinabung.

Gunung tidak hanya mengancam keselamatan manusia.

Abu vulkanik, awan panas dan material erupsi mulai memberikan tekanan besar terhadap pertanian, perkebunan, peternakan, permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi Kabupaten Karo yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pertanian, dampaknya menjadi sangat serius.

2014: Tahun paling memilukan

Jika pertanyaannya adalah “tahun berapa yang paling parah dari sisi korban jiwa?”, maka jawabannya adalah 2014.

Pada awal Februari 2014, awan panas meluncur ke kawasan Desa Sukameriah.

Warga yang berada di zona bahaya menjadi korban. BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat rangkaian erupsi tersebut mencapai 17 orang.

Peristiwa itu sekaligus menjadi pengingat keras bahwa zona merah bukan tempat untuk beraktivitas.

Pada tahun yang sama, jumlah pengungsi masih sangat besar. BNPB pada Juli 2014 mencatat 14.130 jiwa atau 4.392 KK masih berada di tempat pengungsian atau rumah sewa.

Beberapa desa bahkan harus dikosongkan secara permanen karena berada di kawasan yang dinilai berbahaya.

Desa seperti Sukameriah, Bekerah dan Simacem kemudian masuk dalam proses relokasi.

Kerugian mulai dihitung dalam triliunan rupiah

Dampak Sinabung ternyata tidak berhenti pada korban jiwa dan pengungsian.

BNPB menghitung kerusakan dan kerugian akibat erupsi sejak 15 September 2013 hingga akhir 2014 mencapai sekitar: Rp1,49 triliun.

Rinciannya antara lain:

  • Sektor ekonomi produktif: lebih dari Rp896,64 miliar
  • Permukiman: sekitar Rp501 miliar
  • Infrastruktur: Rp23,65 miliar
  • Sosial: Rp53,43 miliar
  • Lintas sektor: Rp18,03 miliar

BNPB menegaskan angka tersebut masih dapat berubah karena erupsi berlangsung dan belum memasukkan seluruh dampak lahar hujan.

Angka tersebut menunjukkan satu hal penting: Bencana gunung api bukan hanya persoalan abu yang jatuh dari langit. Ia juga dapat menghentikan roda ekonomi masyarakat selama bertahun-tahun.

2015: Erupsi belum berakhir

Memasuki 2015, aktivitas Sinabung masih tinggi.

Pengungsi belum seluruhnya dapat kembali ke rumah.

Sebagian masyarakat mulai menghadapi persoalan baru: bagaimana bertahan hidup ketika rumah harus ditinggalkan sementara sumber penghasilan utama berada di lahan yang berada di kawasan rawan bencana.

Hingga Mei 2015, BNPB memperkirakan total kerusakan dan kerugian sejak September 2013 telah meningkat menjadi sekitar Rp1,80 triliun.

Nilai terbesar kembali berada pada sektor ekonomi produktif, mencapai lebih dari Rp1,14 triliun.

2016: Tragedi Desa Gamber

Pada 21 Mei 2016, Sinabung kembali memperlihatkan sisi paling mematikannya.

Awan panas meluncur dan menerjang kawasan Desa Gamber.

Sembilan orang terkena awan panas. Perkembangan berikutnya mencatat korban meninggal mencapai 9 orang.

BNPB mencatat pada periode tersebut sebanyak 9.319 jiwa dari sembilan desa masih mengungsi, sementara ribuan warga dari desa lainnya berada dalam proses relokasi mandiri.

Tragedi Gamber juga memperlihatkan persoalan klasik dalam bencana Sinabung: tekanan ekonomi membuat sebagian masyarakat tetap berusaha mengolah lahan meskipun kawasan tersebut berada dalam zona bahaya.

2017–2018: Sinabung belum benar-benar berhenti

Aktivitas Sinabung terus berlanjut.

Pada 2017, ribuan warga masih hidup dalam kondisi pengungsian. Data BNPB mencatat sekitar 7.214 jiwa masih menderita dan mengungsi dalam rangkaian penanganan bencana Sinabung.

Pada 19 Februari 2018, Sinabung kembali mengalami erupsi besar.

BNPB mencatat bahwa sejak 2010 Sinabung mengalami aktivitas berulang dan sulit diprediksi kapan benar-benar berhenti.

2019–2021: Gunung aktif, masyarakat berusaha bertahan

Aktivitas Sinabung masih berlangsung pada periode berikutnya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak harus beradaptasi dengan ancaman erupsi yang datang berulang.

Pada 2021, misalnya, awan panas dan abu vulkanik kembali memberikan dampak langsung terhadap pertanian.

Data yang dihimpun Kompas mencatat 3.045,8 hektare lahan pertanian rusak di empat kecamatan, yaitu Payung, Tiganderket, Kuta Buluh dan Tigabinanga.

Kerugian petani saat itu diperkirakan mencapai Rp29,17 miliar.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa bagi petani Karo, dampak Sinabung bukan sekadar kehilangan satu kali musim panen.

Ancaman erupsi yang berulang dapat membuat petani kehilangan modal, bibit, tanaman, hasil panen dan kepastian untuk menanam kembali.

2023–2025: Aktivitas tetap dipantau

Badan Geologi mencatat Gunung Sinabung berada pada Level II Waspada sejak 17 Mei 2023.

Artinya, meskipun tidak setiap periode menghasilkan erupsi besar, Sinabung tetap menjadi gunung api yang harus dipantau secara ketat.

2026: Sinabung kembali bangun

Memasuki Agustus 2026, aktivitas Sinabung kembali meningkat.

Badan Geologi mencatat peningkatan gempa vulkanik dalam, gempa low frequency dan gempa hybrid yang sebelumnya jarang terekam.

Pada 12 Agustus 2026, asap kawah terlihat semakin tebal dengan ketinggian sekitar 1.000 meter dari puncak.

Kemudian datang peristiwa penting.

31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB, Gunung Sinabung kembali mengalami erupsi.

Kolom erupsi mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak, atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna hitam tebal bergerak ke arah timur dan tenggara.

Badan Geologi kemudian menaikkan status Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga, mulai pukul 12.30 WIB.

Badan Geologi juga menyatakan erupsi tersebut merupakan erupsi awal dan masih terdapat kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar.

Bagaimana kondisi kerugian 2026?

Untuk erupsi terbaru 31 Agustus 2026, data kerusakan, korban jiwa dan kerugian materi masih dalam proses pendataan.

BNPB menyatakan pendataan dampak dan kerugian material masih berlangsung.

Karena itu, angka kerugian 2026 belum boleh digabungkan begitu saja dengan angka kerugian tahun-tahun sebelumnya.

Data tersebut harus menunggu hasil asesmen pemerintah daerah dan instansi terkait.

Jadi, kapan Sinabung paling parah?

Jawabannya perlu dibagi berdasarkan indikator.

Jika berdasarkan korban jiwa:
2014 merupakan salah satu periode paling mematikan, dengan 17 korban meninggal dalam rangkaian erupsi.

Jika berdasarkan korban akibat satu kejadian awan panas: Tragedi Desa Gamber pada 21 Mei 2016 menewaskan 9 orang.

Jika berdasarkan besarnya kerugian ekonomi: Periode 2013–2015 merupakan salah satu fase dengan dampak ekonomi terbesar.

BNPB memperkirakan kerusakan dan kerugian mencapai Rp1,49 triliun hingga akhir 2014, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp1,80 triliun hingga Mei 2015.

Jika berdasarkan luas kerusakan lahan yang terdokumentasi dalam satu periode: Pada 2021 tercatat sekitar 3.045,8 hektare lahan pertanian rusak, dengan kerugian petani sekitar Rp29,17 miliar.

Lebih dari sekadar angka

Rekam jejak Sinabung sebenarnya tidak bisa hanya dihitung dari jumlah korban dan rupiah.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarga.

Ada petani yang kehilangan kebun.

Ada desa yang tidak lagi ditempati seperti dahulu.

Ada anak-anak yang tumbuh dalam suasana pengungsian.

Ada keluarga yang harus memulai hidup kembali di lokasi relokasi.

Dan ada masyarakat yang setiap kali melihat asap Sinabung kembali bertanya: “Apakah kali ini kami harus meninggalkan rumah lagi?”

Itulah sebabnya erupsi Sinabung harus dibaca bukan hanya sebagai fenomena geologi.

Ia juga merupakan cerita tentang ketahanan masyarakat Karo menghadapi bencana yang berlangsung panjang.

Catatan penting tentang data korban

Data korban Sinabung dalam berbagai publikasi tidak selalu identik karena terdapat perbedaan antara korban langsung akibat awan panas, korban dalam rangkaian kejadian, dan kematian pengungsi akibat penyakit.

Karena itu, untuk penulisan jurnalistik, angka korban harus disebut berdasarkan kategori dan sumbernya, bukan sekadar menjumlahkan seluruh angka dari berbagai dokumen.

Sebagai contoh, catatan Kementerian Kesehatan pernah mencatat korban meninggal dalam penanganan krisis kesehatan Sinabung yang lebih luas, termasuk kematian tidak langsung akibat kondisi kesehatan pengungsi. [Red/berbagai sumber/***]

 

 

Catatan redaksi: Data kerugian dan kerusakan 2026 masih bersifat sementara dan belum dapat disimpulkan sebelum asesmen resmi pemerintah selesai.

Tags: ErupsiGunungGunung SinabungJejakKaroKerugianKorbanRekamRekam JejakSegaris.coSinabung
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

News

SINABUNG SIAGA: 2.451 warga dievakuasi, abu vulkanik mengarah ke Berastagi

by Ingot Simangunsong
1 September 2026 | 11:40 WIB
0

KARO, SEGARIS.CO – GUNUNG Sinabung kembali erupsi. Aktivitas vulkanik yang meningkat membuat status gunung api di Kabupaten Karo, Sumatera Utara,...

Read more
News

PBG Watch soroti belum disegelnya bangunan milik anggota DPRD Sumut di Medan

by Ingot Simangunsong
1 September 2026 | 10:22 WIB
0

MEDAN, SEGARIS.CO — PEMANTAU Persetujuan Bangunan Gedung (PBG Watch) menyoroti belum dilaksanakannya penyegelan terhadap bangunan bermasalah di Jalan Sisingamangaraja, Gang...

Read more
Oplus_131072
News

Gunung Sinabung naik ke Level Siaga, abu mengarah ke Berastagi — PVMBG ingatkan potensi erupsi lebih besar

by Ingot Simangunsong
1 September 2026 | 05:15 WIB
0

KARO, SEGARIS.CO — AKTIVITAS Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meningkat signifikan. Setelah mengalami erupsi pada Senin (31/8/2026) pukul...

Read more
News

Update Berastagi malam ini

by Ingot Simangunsong
31 Agustus 2026 | 20:20 WIB
0

KARO, SEGARIS.CO -- ABU masih menjadi persoalan utama. Laporan terbaru yang terbit hari ini menyebut abu vulkanik menutupi sejumlah ruas...

Read more
News

Sidak humanis: Pemko pastikan harga pangan terjangkau

by Ingot Simangunsong
31 Agustus 2026 | 19:41 WIB
0

PEMATANGSIANTAR, SEGARIS.CO -- WALI KOTA Pematangsiantar Wesly Silalahi melepas tim sidak pengendalian inflasi dan stabilisasi harga pangan dari halaman Balai...

Read more
News

Gunung Sinabung erupsi, status naik Siaga: Abu 3.500 meter, warga diminta tak panik

by Ingot Simangunsong
31 Agustus 2026 | 19:18 WIB
0

KARO, SEGARIS.CO – GUNUNG SINABUNG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali mengalami letusan pada Senin (31/8/2026). Erupsi yang terjadi sekitar...

Read more

Berita Terbaru

News

Rekam jejak erupsi Gunung Sinabung: Dari “Gunung tidur” menjadi luka panjang 

1 September 2026 | 22:42 WIB
News

SINABUNG SIAGA: 2.451 warga dievakuasi, abu vulkanik mengarah ke Berastagi

1 September 2026 | 11:40 WIB
News

PBG Watch soroti belum disegelnya bangunan milik anggota DPRD Sumut di Medan

1 September 2026 | 10:22 WIB
News

Gunung Sinabung naik ke Level Siaga, abu mengarah ke Berastagi — PVMBG ingatkan potensi erupsi lebih besar

1 September 2026 | 05:15 WIB
News

Update Berastagi malam ini

31 Agustus 2026 | 20:20 WIB
News

Sidak humanis: Pemko pastikan harga pangan terjangkau

31 Agustus 2026 | 19:41 WIB
News

Gunung Sinabung erupsi, status naik Siaga: Abu 3.500 meter, warga diminta tak panik

31 Agustus 2026 | 19:18 WIB
SEREMONI

Tangkas Kroni Silitonga gelar reses, serap aspirasi warga Nagori Lestari Indah

31 Agustus 2026 | 16:02 WIB
News

‎Bupati Tapanuli Utara temui Kepala BBWSS II, usulkan pemulihan irigasi dan tanggul

31 Agustus 2026 | 13:13 WIB
News

Bayu Wicaksono alias Ncek pulang dari Myanmar, buronan dua tahun berakhir di Bareskrim

31 Agustus 2026 | 11:16 WIB
SEREMONI

Wali Kota ajak DMI makmurkan masjid dan masyarakat Siantar

31 Agustus 2026 | 08:48 WIB
News

“RUU Perampasan Aset: senjata baru Negara mengejar harta kejahatan, tapi siapa yang mengawasi?”

30 Agustus 2026 | 13:38 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus