Segaris.co
Rabu, 21 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Buah Pikir
Tito Gatsu

Tito Gatsu

Jokowi dan kedaulatan rakyat menjadi anti political mainstream di Indonesia (2)

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
12 Februari 2022 | 05:58 WIB
in Buah Pikir

Oleh | Tito Gatsu

 

Pancasila yang diselewengkan

Seorang yang tidak pancasilais versi Orde Baru bisa diartikan tak sepaham dengan pemerintah saat itu, tak akan bisa menjadi apa-apa bahkan bisa dicap PKI dan subversive, yang artinya penjara dan represi harus dihadapi.

Dari mulai bangku sekolah, masuk perguruan tinggi hingga mendapatkan pekerjaan, kita terus dicekoki dengan program itu (penataran P4) secara bertahap bahkan di setiap prajabatan ketika seseorang akan menghadapi posisi baru di tempat pekerjaannya .

Padahal isinyapun hanya doktrin anti komunis agar patuh kepada penguasa, menelan bulat-bulat sejarah yang dibuat pemerintah, menerima bahwa politik yang terbaik adalah demokrasi pancasila. Komunisme adalah ajaran anti Tuhan dan haram hukumnya serta cerita tentang PKI yang melakukan pengkhianatan kepada Pancasila dan Pak Harto muncul sebagai penyelamat Negara dalam semua hal dan sebagainya.

Pembatasan kebebasan berpikir

Buku-buku mengenai politik bahkan roman saja disortir karena bisa mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Buku karya satrawan kiri seperti “Bumi Manusia” karya Pramudya Ananta Toer yang baru-baru ini difilmkan, dilarang dan tak sedikit media yang dibredel bila beritanya dianggap mengganggu stabilitas Nasional.

Itu karena doktrin yang sekian lama ditanamkan Orde Baru menjadi satu-satunya doktrin yang benar dan satu-satunya ideologi dan menganggap faham yang lain salah.

Jika kita punya pemikiran yang menyinggung ideologi nasionalis yang lain, misalnya ideologi sosial atau kekaguman kepada nasionalisme Sukarno, jangan heran bila langsung diserang dengan cap PKI.

Lahirnya fasisme berkedok Islam

Setelah kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 , slogan anti komunis sudah tidak relevan lagi, karena Uni Soviet sudah lama bubar dan perang dingin antara AS-Soviet sudah selesai.

Apalagi China sudah mulai berubah menjadi negara kapitalis, para generasi penerus Soeharto pun berusaha mempertahankan kekuasaan dengan sistim politik yang berbeda menjadi sebuah negara demokrasi.

Kemudian upaya-upaya melindungi sisa-sisa kekuasaan pun dilakukan, karena mereka butuh ideologi untuk bisa mengawal, agar kejatuhan Suharto tidak menimbulkan revolusi. Maka dibentuklah Pam Swakarsa yang dimotori oleh Rizieq Shihab seorang yang punya kemampuan untuk memobilisasi masa terutama masa Islam di luar NU dan Muhammadiyah.

Pada saat Itu Muhammadiyah relatif pro Orba karena dipimpin Amien Rais yang dekat dengan Soeharto pada periode 1990 -1993 bahkan Soeharto memberikan sambutan ketika Amien Rais terpilih kedua kalinya memimpin Muhammadiyah yang kemudian dilanjutkan Dien Samsudin Mantan politikus Partai Golkar.

Ketika Amien Rais mendirikan PAN, maka slogan anti komunis pun berubah ke slogan Islam karena setiap usaha yang melampaui undang-undang selalu membutuhkan alasan. Misalnya pada saat Seoharto membubarkan PKI dan menggulingkan Soekarno, dimunculkan sentiman anti komunis.

Begitu pula alasan untuk menyerang lawan politik yang sedang mulai bangkit kembali yaitu nasionalisme Sukarno melalui PDI-Perjuangan, sangat pas dilawan dengan fasisme Islam.

Menggunakan dalil-dalil Islam

Fasisme Islam bukan mengajarkan Islam secara benar, tapi mereka menggunakan dalil-dalil Islam sebagai alat pembenaran apa pun tindakan mereka. Misalnya menyerang lawan politik dan pihak yang bisa dianggap musuh mereka, menggalang dukungan secara homogen atau kesamaan identitas. Kemudian melakukan intimidasi dengan mendeklarasikan diri bahwa mereka adalah kebenaran dan yang lain salah, kemudian dianggap musuh.

Situasi ini membuat Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Rizieq Shihab mulai bersinar karena selalu menjadi mitra militer untuk menghadapi gerakan mahasiswa dan mengamankan Partai Golkar.

FPI sebagai pembela dosa-dosa Soeharto

Pada saat tahun 1998, tuntutan rakyat yang paling deras adalah mengajukan tuntutan untuk mengadili Soeharto dan keluarganya serta pembubaran Partai Golkar.

FPI yang dibeking TNI sukses menjadi ormas Islam militan hingga berhadapan dengan mahasiswa karena TNI pada saat itu yang masih pro Orde Baru membutuhkan proxy untuk menghadapi aksi masa.

Hal tersebut menjadi sorotan Dunia Internasional dimana Indonesia sangat membutuhkan dukungan hutang dari IGGI dan IMF untuk mengatasi krisis terlebih isyu HAM menyangkut Peristiwa Gereja St Cruze di Timor Leste, peristiwa pembantaian 1965 dan Kerusuhan Mei 1998 menguat kembali .

Sebenarnya tujuan FPI menjadi Pam Swakarsa saat itu adalah mengawal agar keluarga Soeharto aman dari gejolak massa dan tuntutan untuk dihukum serta mengamankan Sidang Istimewa yang dirasakan oleh mahasiswa tidak sesuai dengan aspirasi mereka.

Akhirnya hasil Sidang Istimewa MPR memang banyak yang menghasilkan kekuatan generasi penerus Orde Baru tetap berkiprah di parlemen sehingga politik dagang sapi atau politik transaksional terbukti terus berjalan hingga hari ini dan kedaulatan di tangan rakyat terus dimanipulasi.

Puncaknya adalah ketika Pilpres tahun 2014, mencapai klimaks pada Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019.

Di sini kita bisa melihat korelasi antara para politisi produk orde baru dengan FPI selalu seiring sejalan, apalagi ketika Jokowi muncul menjadi Presiden karena ada dua hal yang tidak disukai mereka terhadap Jokowi, pertama karena yang mengusung PDI-Perjuangan, dan kedua tidak mau diatur oleh politik transaksional. (***)

Tags: DosaDosa-dosaFasismeFPIFrontIslamMainstreamPancasilaPembelaPolitical MainstreamSoeharto
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Oplus_131072
Buah Pikir

Menanti keberanian Jaksa menangkap para perampok uang Jalan Tol Medan- Binjai

by Ingot Simangunsong
11 Oktober 2026 | 11:54 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan  BEBERAPA waktu yang lalu, penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Utara (Sumut), dikabarkan telah...

Read more
Buah Pikir

PR besar penataan Telekomunikasi, butuh solusi bersama 

by Ingot Simangunsong
6 Oktober 2026 | 10:10 WIB
0

Oleh | Herry Chandra, ST Pimpinan PT Hydra Media Indonesia. Tim Hydra Net DUNIA telekomunikasi Indonesia sedang tumbuh pesat. Kebutuhan...

Read more
Buah Pikir

“Bupati sehari”

by Ingot Simangunsong
28 September 2026 | 07:19 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   OLIMPIADE Sains Kelas Unggulan (OSKU) Jenjang SMP Kabupaten Tapanuli Utara diselenggarakan Dinas Pendidikan Sabtu, 19...

Read more
Buah Pikir

MUBES VI PUJAKESUMA, 18-20 September 2026, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta

by Ingot Simangunsong
18 September 2026 | 17:18 WIB
0

Catatan | Herry Chandra, ST  Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kulon Nuwun, DARI tanah Habonaron Do Bona Simalungun yang subur, tempat nenek...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Bobby harus belajar (lagi) kewenangan kepala daerah

by Ingot Simangunsong
26 Agustus 2026 | 19:59 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan    BOBBY NASUTION kembali melakukan akrobat politik dengan menjadi kepala daerah paling peduli terhadap warga. Gubernur...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Timoty Situmorang, telusuri silsilah Op Tuan Situmorang

by Ingot Simangunsong
25 Agustus 2026 | 07:14 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   TIMOTY SITUMORANG, 27 tahun, lahir di Kota Medan, tetapi dia sangat pasih berbahasa Batak. Anak...

Read more

Berita Terbaru

News

KPK bantah video viral Nusron Wahid dijemput paksa, Ini fakta debenarnya

21 Oktober 2026 | 01:28 WIB
News

Pemkab Taput raih apresiasi sukses  Tuan Rumah Rakernas V MPK Indonesia ‎

20 Oktober 2026 | 07:49 WIB
News

‎Rekonstruksi Jalan Salib Kasih–Simanampang perkuat akses pariwisata dan pertanian Taput

20 Oktober 2026 | 07:31 WIB
News

Polisi ringkus tersangka penggelapan Avanza, korban rugi Rp190 juta

19 Oktober 2026 | 16:26 WIB
News

KWT di Pematangsiantar panen sayuran dan cabai, pendampingan Daud Simanjuntak diapresiasi

19 Oktober 2026 | 09:12 WIB
KESEHATAN

Berawal dari perjuangan mengobati anak,  Helleria Barasa merintis bisnis MCI One More

18 Oktober 2026 | 23:21 WIB
News

Tiga warga apresiasi Daud Simanjuntak, keluhan infrastruktur cepat ditindaklanjuti

18 Oktober 2026 | 08:46 WIB
News

Henry Dunan Pardede: “Daud Simanjuntak, figur mumpuni yang cepat tanggap, peduli dan terbuka untuk semua kalangan”

17 Oktober 2026 | 21:59 WIB
News

LSM Fokus Mitra Indonesia  kukuhkan kepengurusan, Amister Silalahi pimpin organisasi

17 Oktober 2026 | 12:50 WIB
News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus