Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Buah Pikir

Menafsir ulang Tarombo Batak: Antara warisan leluhur dan jejak kolonialisme

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
12 November 2025 | 09:16 WIB
in Buah Pikir

Oleh | Hatoguan Sitanggang

MENURUT perhitungan sejarah, apabila marga Sagala Raja disebut sebagai salah satu marga tertua dan telah mencapai 26 generasi sejak masa Si Raja Batak, maka bila satu generasi dihitung rata-rata 25 tahun, peradaban Batak diperkirakan berusia sekitar 750 tahun.

Namun, jika tarombo atau silsilah Batak versi W.H. Hutagalung dijadikan satu-satunya rujukan, maka keabsahannya patut dipertanyakan. Pasalnya, perhitungan tersebut justru menggambarkan bahwa bangsa Batak adalah suku termuda di Pulau Sumatera — sesuatu yang dinilai tidak sejalan dengan berbagai bukti antropologis dan sejarah lisan yang berkembang di masyarakat.

Istilah “Batak” sendiri baru dikenal setelah masa kolonial. Sebelum penjajahan, masyarakat pesisir dikenal sebagai Melayu, sementara penduduk yang tinggal di wilayah pegunungan disebut Batak. Kedua kelompok ini kemudian menjadi sasaran eksploitasi Belanda yang memanfaatkan mereka sebagai tenaga kerja di perkebunan teh, karet, dan tembakau selama lebih dari tiga abad penjajahan.

Hingga kini, terutama di kawasan Samosir yang diyakini sebagai titik awal peradaban Si Raja Batak, belum ada penelitian ilmiah resmi yang dapat memastikan kapan manusia pertama kali bermukim di wilayah tersebut. Letusan dahsyat Gunung Toba sekitar 77.000 tahun lalu memang meninggalkan jejak geologis besar, namun belum ditemukan bukti arkeologis yang menegaskan adanya kehidupan manusia prasejarah di kawasan itu.

Karena itu, menjadikan tarombo karya W.H. Hutagalung sebagai acuan tunggal dianggap tidak tepat. Dokumen tersebut diyakini sebagai bagian dari strategi politik kolonial Belanda yang bertujuan memetakan, memecah, dan mengendalikan kerajaan-kerajaan kecil di Tanah Batak melalui sistem registrasi bius. Dengan demikian, secara tidak langsung, Hutagalung — yang kala itu menjabat sebagai asisten Demang Belanda — turut berperan dalam memperkuat politik “pecah belah” di kalangan masyarakat Batak.

Penulis berpendapat, dalam menyusun tarombo, cukup menelusuri tiga generasi ke atas agar tetap rasional, dapat diverifikasi, dan tidak menimbulkan perdebatan yang berpotensi merusak nilai luhur Dalihan Natolu: Somba marhula-hula, Elek marboru, Manat mardongan tubu.

Sayangnya, di era digital saat ini, perdebatan mengenai tarombo di media sosial sering kali bergeser menjadi ajang saling klaim, saling merendahkan, hingga menimbulkan kebencian antar-marga. Padahal, nilai yang diwariskan leluhur adalah hormat, kerukunan, dan kebijaksanaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mental kolonial masih melekat di sebagian masyarakat. Meski penjajahan fisik telah berakhir, warisan sistem “pecah belah” masih hidup dalam pikiran dan perilaku sosial. Bahkan kini, bentuk penjajahan itu hadir dalam versi modern — penjajahan digital, ketika manusia dijajah oleh arus informasi, opini, dan teknologi tanpa disadari.

Sesungguhnya, tarombo, registrasi bius, dan bisoloit hanyalah instrumen yang dahulu digunakan penjajah untuk menguasai tanah adat, termasuk melalui pendirian lembaga keagamaan di atas lahan yang dulunya milik masyarakat adat.

Kini saatnya masyarakat Batak membuka mata dan hati, menyadari bahwa persatuan jauh lebih berharga daripada kebanggaan semu atas silsilah yang belum tentu benar.

Kita diwarisi akal, pikiran, dan budi pekerti untuk menimbang kebenaran, bukan untuk terus terjebak dalam warisan kolonial yang menyesatkan. Sebab, tarombo dan registrasi bius buatan penjajah sejatinya bukan catatan kebanggaan, melainkan alat penjajahan abadi yang membuat bangsa ini terus terpecah, saling curiga, dan kehilangan arah di tengah kemajuan zaman.

Penulis, Hatoguan Sitanggang, adalah Raja Jolo Keturunan Raja Sitempang [Raja Jolo Anak tertua dari Garis keturunannya]

Keterangan foto
Jembatan Tano Ponggol di bawah lereng Gunung Toba, yang diyakini awal peradaban Raja Batak.

Tags: Antara warisan leluhur dan jejak kolonialismeMenafsir ulang Tarombo BatakSamosirsegarisSegaris.coSiraja Batak
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Oplus_131072
Buah Pikir

Menanti keberanian Jaksa menangkap para perampok uang Jalan Tol Medan- Binjai

by Ingot Simangunsong
11 Oktober 2026 | 11:54 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan  BEBERAPA waktu yang lalu, penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Utara (Sumut), dikabarkan telah...

Read more
Buah Pikir

PR besar penataan Telekomunikasi, butuh solusi bersama 

by Ingot Simangunsong
6 Oktober 2026 | 10:10 WIB
0

Oleh | Herry Chandra, ST Pimpinan PT Hydra Media Indonesia. Tim Hydra Net DUNIA telekomunikasi Indonesia sedang tumbuh pesat. Kebutuhan...

Read more
Buah Pikir

“Bupati sehari”

by Ingot Simangunsong
28 September 2026 | 07:19 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   OLIMPIADE Sains Kelas Unggulan (OSKU) Jenjang SMP Kabupaten Tapanuli Utara diselenggarakan Dinas Pendidikan Sabtu, 19...

Read more
Buah Pikir

MUBES VI PUJAKESUMA, 18-20 September 2026, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta

by Ingot Simangunsong
18 September 2026 | 17:18 WIB
0

Catatan | Herry Chandra, ST  Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kulon Nuwun, DARI tanah Habonaron Do Bona Simalungun yang subur, tempat nenek...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Bobby harus belajar (lagi) kewenangan kepala daerah

by Ingot Simangunsong
26 Agustus 2026 | 19:59 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan    BOBBY NASUTION kembali melakukan akrobat politik dengan menjadi kepala daerah paling peduli terhadap warga. Gubernur...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Timoty Situmorang, telusuri silsilah Op Tuan Situmorang

by Ingot Simangunsong
25 Agustus 2026 | 07:14 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   TIMOTY SITUMORANG, 27 tahun, lahir di Kota Medan, tetapi dia sangat pasih berbahasa Batak. Anak...

Read more

Berita Terbaru

News

LSM Fokus Mitra Indonesia  kukuhkan kepengurusan, Amister Silalahi pimpin organisasi

17 Oktober 2026 | 12:50 WIB
News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
News

Organda Medan: “Angkutan umum gratis bagi pelajar lebih efisien dari bus listrik”

11 Oktober 2026 | 18:33 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus