Segaris.co
Sabtu, 18 Juli 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom

Di balik dana BOS, Kepala Sekolah dalam pusaran korupsi

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
4 Oktober 2025 | 10:19 WIB
in Kolom

Oleh | Ingot Simangunsong

SETIAP awal tahun ajaran, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) selalu menjadi harapan. Triliunan rupiah yang digelontorkan pemerintah digadang-gadang mampu meringankan beban pendidikan, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

BOS seharusnya memastikan buku pelajaran tersedia, ruang belajar terawat, dan guru honorer tidak lagi digaji sekadarnya.

Namun, di banyak sekolah, harapan itu justru tergerus oleh praktik penyalahgunaan. Kepala sekolah, yang dipercaya sebagai nahkoda anggaran, kerap berubah menjadi aktor utama dalam kasus korupsi.

Jejak Kasus yang Mengkhawatirkan

Nama RA, Kepala SMA Negeri 16 Medan, kini jadi sorotan. Ia ditahan karena diduga menyelewengkan dana BOS senilai Rp826 juta dari total lebih dari Rp3 miliar yang diterima sekolah pada 2022–2023.

Kasus serupa menjerat RN, mantan Kepala SMA Negeri 19 Medan, dengan kerugian negara Rp772 juta.

Lebih mencengangkan lagi, di Ponorogo, Kepala SMK PGRI 2 ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan BOS hingga Rp25 miliar. Angka fantastis yang membuat publik terperangah: bagaimana dana sebesar itu bisa lolos dari pengawasan?

Di daerah lain, modus penyimpangan tak kalah beragam. Ada yang melakukan mark-up pengadaan, ada pula yang membuat laporan fiktif.

Bahkan di Kepahiang, Bengkulu, seorang kepala sekolah diduga menyuap jurnalis agar berita dugaan penyimpangan dana BOS tidak dipublikasikan.

Beban Ganda yang Menjerat

Mengapa pola ini terus berulang? Jawabannya ada pada desain regulasi. Kepala sekolah ditempatkan sebagai pengelola sekaligus pengguna anggaran karena dianggap paling memahami kebutuhan sekolah.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan beban ganda ini sering berakhir masalah. Tidak semua kepala sekolah memiliki kemampuan manajemen keuangan.

Banyak yang terbiasa mengajar di kelas, bukan mengutak-atik laporan keuangan yang berlapis aturan.

Seorang guru senior di Medan, yang enggan disebut namanya, mengatakan: “Kepala sekolah itu mestinya fokus membina guru dan murid. Tapi sekarang, waktunya lebih banyak tersedot ke administrasi dan urusan dana. Akhirnya ada yang lelah, ada yang tergoda.”

Lemahnya Pengawasan

Di atas kertas, pengawasan dana BOS sudah diatur berlapis: ada laporan keuangan, ada komite sekolah, bahkan ada audit dari inspektorat. Tetapi praktiknya sering longgar.

Transparansi minim, partisipasi publik nyaris tidak ada, dan laporan penggunaan dana hanya menumpuk di berkas yang jarang ditinjau.

Kasus di Batubara, Sumatra Utara, misalnya, menunjukkan bagaimana lemahnya pengawasan.

Dua kepala sekolah dituntut 18 bulan penjara akibat penyalahgunaan BOS.

Fakta bahwa kasus baru terbongkar setelah berlangsung lama menandakan sistem kontrol belum berjalan efektif.

Mencari Model Baru

Pertanyaan pun mencuat: masih relevankah kepala sekolah menjadi pelaksana anggaran BOS?

Beberapa kalangan mulai menggulirkan gagasan pembentukan unit keuangan profesional di setiap sekolah. Seperti bendahara negara dalam skala kecil, unit ini bertugas mengelola teknis pencairan, pelaporan, hingga audit internal. Kepala sekolah cukup terlibat dalam perencanaan dan pengawasan.

Selain itu, penguatan kapasitas juga mutlak diperlukan. Pelatihan, sertifikasi, hingga evaluasi berkala terkait tata kelola keuangan harus menjadi prasyarat bagi kepala sekolah.

Transparansi publik—melalui papan pengumuman sekolah atau situs web resmi—juga disebut sebagai kunci.

Jalan Panjang Reformasi

Meski begitu, perubahan tidak bisa dilakukan seketika. Reformasi pengelolaan BOS menuntut sinergi: pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, hingga masyarakat harus terlibat.

Tanpa itu, setiap tahun akan ada nama baru kepala sekolah yang terjerat kasus serupa.

Pada akhirnya, esensi BOS harus dikembalikan ke tujuan awal: memastikan setiap anak Indonesia, dari kota hingga pelosok desa, mendapat pendidikan yang layak tanpa bayang-bayang korupsi.

 

Penulis: Ingot Simangunsong, Pimpinan Redaksi Mediaonline Segaris.co

Tags: BOSDanaGuruKorupsisegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Ingot Simangunsong
Kolom

Dari kemiskinan menuju kebangkitan: Perjalanan Etiopia menjadi Negara yang terus bertumbuh

by Ingot Simangunsong
18 Juli 2026 | 07:53 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  SELAMA puluhan tahun, nama Etiopia identik dengan kelaparan dan kemiskinan. Namun dalam dua dekade terakhir, negara...

Read more
Ingot Simangunsong
Kolom

Tipping Point terberantasnya korupsi di Indonesia: Mungkinkah terjadi?

by Ingot Simangunsong
16 Juli 2026 | 08:52 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong KORUPSI masih menjadi salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia. Hampir setiap tahun, aparat penegak hukum mengungkap...

Read more
Kolom

RUU Perampasan Aset: Mengapa terus tertunda saat rakyat menanggung dampak korupsi?

by Ingot Simangunsong
13 Juli 2026 | 06:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong KORUPSI bukan sekadar pelanggaran hukum. Kejahatan ini merampas hak masyarakat atas pendidikan yang layak,...

Read more
Kolom

Nama Celine Evangelista muncul di tengah kasus Febrie Adriansyah, Apa benang merahnya?

by Ingot Simangunsong
12 Juli 2026 | 22:00 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong PENETAPAN mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, sebagai...

Read more
Kolom

Dari pemburu Koruptor menjadi Tersangka: Runtuhnya jejak kekuasaan Febrie Adriansyah

by Ingot Simangunsong
12 Juli 2026 | 01:34 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong MANTAN Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, kini menghadapi babak paling...

Read more
Tak Berkategori

Ketika Rakyat mengencangkan ikat pinggang, mengapa korupsi justru semakin beringas?

by Ingot Simangunsong
22 Juni 2026 | 06:46 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong Ingot Simangunsong  DI tengah kehidupan masyarakat yang semakin berat, pertanyaan ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari: mengapa...

Read more

Berita Terbaru

News

Bhabinkamtibmas Polsek Siantar Selatan mediasi perselisihan Aantarwarga

18 Juli 2026 | 15:15 WIB
News

Kapolres Pematangsiantar pimpin latihan menembak tingkatkan kesiapsiagaan personel

18 Juli 2026 | 15:03 WIB
News

Polres Pematangsiantar gelar Baksos di Panti Jompo

18 Juli 2026 | 14:14 WIB
Kolom

Dari kemiskinan menuju kebangkitan: Perjalanan Etiopia menjadi Negara yang terus bertumbuh

18 Juli 2026 | 07:53 WIB
News

UPDATE: Korban meninggal kecelakaan beruntun di Sibolangit bertambah menjadi 4 orang

17 Juli 2026 | 18:24 WIB
News

Kecelakaan beruntun libatkan tujuh kendaraan di Sibolangit, satu orang dilaporkan meninggal

17 Juli 2026 | 18:00 WIB
News

Pemko Pematangsiantar gelar Job Fair 2026, sediakan lebih dari 1.000 lowongan kerja

17 Juli 2026 | 13:36 WIB
News

Kapolres Pematangsiantar terima bantuan alat Tes Urine dari Wali Kota, perkuat sinergi pemberantasan Narkoba

17 Juli 2026 | 10:06 WIB
News

Profil 9 Anggota Tim Kejagung yang menangani perkara Jampidsus Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 | 08:35 WIB
News

Polsek Siantar Martoba bantu warga sakit berobat ke Puskesmas

16 Juli 2026 | 17:48 WIB
News

Polsek Siantar Marihat respons cepat laporan keributan melalui Call Center 110

16 Juli 2026 | 17:35 WIB
Kolom

Tipping Point terberantasnya korupsi di Indonesia: Mungkinkah terjadi?

16 Juli 2026 | 08:52 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2024 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir sinata berita