Catatan | Ingot Simangunsong
SENIN, 8 September 2025, menjadi catatan penting dalam rekam jejak tindakan tegas Presiden Prabowo Subianto melakukan bersih-bersih di internal Kabinet Merah Putih, yang dipimpinnya.
Ada lima menteri yang diganti, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, Menko Polkam Budi Gunawan, Menpora Dito Ariotedj dan Menteri P2MI Abdul Kadir Karding.
Empat nama dari barisan awal, adalah menteri di masa Presiden ke-7 Joko Widodo yang masuk di Kabinet Merah Putih. Keempatnya menjadi topik sentral, karena mereka berempat disebut sebagai “orang titipan” Joko Widodo.
Keputusan untuk mengganti keempat menteri tersebut, merupakan langkah yang menyejukkan sekaligus menjawab keraguan berbagai pihak tentang “beranikah Prabowo Subianto mendepak atau mengeluarkan menteri era Joko Widodo di Kabinet Merah Putih.”
Tetapi, apa yang dilakukan atau diputuskan Prabowo Subianto, bukanlah sebatas berani atau tidak. Jika dikaitkan dengan keberanian, ya kenapa tidak. Karena apa pun pandangan itu, Prabowo Subianto adalah seorang prajurit, mantan Pangkostrad.
Namun, arah dari kebijakan menggantikan keempat menteri itu, Sri Mulyani, Budi Gunawan, Budi Arie Setiadi dan Dito Ariotedjo, demi untuk kepentingan bangsa dan negara.
“Dalam istilah yang paling sederhana, seorang pemimpin adalah orang yang tahu ke mana dia ingin pergi dan bangkit,” kata John Erskine, Earl ke-6 (wafat 28 Oktober 1572), seorang bangsawan dan
politikus Skotlandia.
*****
PRABOWO Subianto, setidaknya sudah mulai menunjukkan arahnya sendiri dalam penentuan kebijakan, dengan tidak lagi dibayangi “kekuatan” Joko Widodo yang dinilai para pengamat, masih mendominasi kepemimpinannya.
Apa yang sudah diputuskan Prabowo Subianto terhadap 4 menteri tersebut, sepertinya harus disusul untuk menggantikan 4 menteri lainnnya yang merupakan bawaan atau titipan dari era kepemimpinan Joko Widodo.
Ada Bahlil, Pigai, Zulkifli Hasan dan Airlangga Hartarto, yang harus digantikan, sehingga Kabinet Merah Putih tidak lagi digawangi menteri bawaan atau titipan Joko Widodo.
Terlepas apa, siapa dan bagaimana sepak terjang para figur pengganti orang-orangnya Joko Widodo, yang pasti mereka yang baru, sudah satu jalan, yakni murni dibawa kendali Prabowo Subianto. Para pengganti itu, tidak lagi yang harus sowan dengan Joko Widodo.
Dan yang terpenting bagi rakyat, bahwa Prabowo Subianto tidak bertindak hanya sebatas mengganti saja. Ada hal yang patut dijadikan sebagai barometer bagi para pengganti, yakni kejadian yang masih segar dalam benak kita, bagaimana rakyat meluapkan amarah, karena keluarnya perkataan menyakitkan dari para pejabat tinggi negara.
Prabowo Subianto harus mengingatkan para menteri barunya, agar irit bicara dan tidak menyakitkan perasaan rakyat. Karena, rakyat sangat tidak toleran terhadap pejabat tinggi negara yang overdosis “mutilasi” perasaan rakyat yang secara finansial cukup memprihatinkan.
Rakyat sangat membutuhkan hadirnya pejabat tinggi negara yang benar-benar memikirkan masalah kedamaian dan kesejahteraan mereka.
Prabowo Subianto harus juga memberikan pemahaman kepada ketua-ketua partai terkait pentingnya meningkatkan peranan dalam menyikapi kondisi kebangsaan yang damai sejahtera. Tidak lagi berpusar pada kekuasaan, adalah keberkuasaan atas yang ada di depan mata, untuk kepentingan pribadi, kelompok dan partai.
Kehadiran semua elemen di lingkaran eksekutif, judikatif dan legislatif, adalah untuk kepentingan bangsa dan negara, serta kemakmuran rakyat.
Menggantikan itu adalah hal alami, yang lebih penting dari itu, adalah bagaimana para pengganti lebih paham kemana arah bergerak dan bangkit untuk kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jangan lagi masukkan para menteri yang tutur-katanya menyakiti nurani rakyat yang sudah dibebani berbagai masalah yang harus dihadapi. Semoga.
Penulis, Ingot Simangunsong, Pimpinan Redaksi Mediaonline Segaris.co




