Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom

Politik itu barang paling kotor dan akrobatik

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
1 September 2024 | 19:18 WIB
in Kolom

catatan | ingot simangunsong

SOE Hok Gie, seorang aktivis muda keturunan Tionghoa – Indonesia, pernah dengan tegas menyatakan bahwa politik adalah “barang paling kotor.”

Menurutnya, politik dipenuhi oleh lumpur-lumpur kotor yang sulit dihindari. Namun, Gie juga memahami bahwa ada saatnya seseorang tidak bisa menghindari politik dan harus terjun ke dalamnya, meski dengan segala risikonya.

Dilahirkan pada 17 Desember 1942, Gie dikenal sebagai salah satu kritikus tajam terhadap rezim Presiden Soekarno dan Soeharto.

Sebagai mahasiswa jurusan Sejarah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, ia tidak hanya menentang kekuasaan yang otoriter, tetapi juga mengecam rekan-rekan mahasiswa yang mulai terlibat dalam politik praktis.

Dalam salah satu tulisannya, ia mengingatkan, “Bergabunglah dengan partai politik kalau mau berpolitik, jangan mencatut nama mahasiswa,” ungkapan yang ia tulis dalam karya berjudul “Setelah Tiga Tahun,” yang termasuk dalam kumpulan tulisan Zaman Peralihan.

Di samping aktivitasnya sebagai aktivis, Gie juga dikenal sebagai pecinta alam dan pendaki gunung yang sangat mencintai keindahan alam.

Hobi mendaki ini, seperti yang diungkapkan dalam tesis John R. Maxwell berjudul “Soe Hok Gie: A Biography of a Young Indonesian Intellectual,” kemudian menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).

Namun, hobi mendakinya itu pula yang membawa Gie pada akhir tragis hidupnya.

Pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Gie meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.

Kematian ini diduga akibat menghirup gas beracun, mengakhiri perjuangan dan idealismenya yang tak pernah padam.

Pasca gagalnya Herry Chandra, Reformasi PDIP Sumut dan Simalungun

Dunia Politik: Antara risiko dan harapan

Panggung politik Indonesia saat ini tak ubahnya seperti arena akrobatik yang penuh risiko, menciptakan perasaan tegang bagi siapa pun yang terlibat.

Di media sosial, kita sering melihat orang-orang saling mencaci, menuduh, bahkan menyebarkan hoaks sebagai kebiasaan sehari-hari.

Praktik semacam ini juga tampak dalam acara talkshow di berbagai stasiun televisi nasional yang kerap menghadirkan para elit politik.

Fenomena ini mencerminkan betapa politik semakin menjauh dari esensinya sebagai sarana untuk mengabdi kepada kemanusiaan.

Alih-alih menjadi wadah untuk mewujudkan kebaikan bersama, politik seringkali digunakan untuk mengejar kekuasaan, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan kemanusiaan.

Sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, politik seharusnya menjadi upaya bersama warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, bukan malah memperburuk keadaan.

Meski demikian, kita tidak boleh pesimis terhadap politik atau apatis terhadap keadaan. Sejarah telah membuktikan bahwa politik juga bisa menjadi alat untuk kebaikan.

Tokoh-tokoh seperti Gandhi dari India dan Nelson Mandela dari Afrika Selatan mampu mengubah wajah politik yang kelam menjadi jalan untuk memperjuangkan kebaikan.

Di Indonesia, kita mengenal KH. Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, seorang politisi ulung yang kiprahnya tak diragukan lagi, terutama setelah runtuhnya rezim Orde Baru.

Gus Dur yang juga mendirikan sebuah partai politik, pada akhirnya menjadi Presiden Indonesia.

Ungkapannya yang terkenal, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan,” sering diucapkannya dalam berbagai kesempatan.

Sebagai bapak bangsa, Gus Dur dikenal gigih memperjuangkan hak-hak kaum minoritas dan konsisten menentang segala bentuk penindasan.

Gus Dur adalah bukti nyata bahwa politik bisa dan seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Semoga dengan mengingat tokoh-tokoh ini, kita tetap memupuk harapan bahwa politik bisa menjadi sarana untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan bagi semua.

 

Penulis, INGOT SIMANGUNSONG, pimpinan redaksi Segaris.co

Tags: Gus DurLumpurPolitikSegariasegarisSegaris.coSoe Hok Gie
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

by Ingot Simangunsong
12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  PERNAH dengar kata pemakzulan saat berita politik lagi panas-panasnya? Biasanya istilah ini muncul ketika ada desakan...

Read more
Kolom

Jika Gibran dimakzulkan, Apa yang terjadi pada pemerintahan dan peta politik Indonesia?

by Ingot Simangunsong
25 September 2026 | 09:01 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong WACANA pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perhatian publik seiring bergulirnya perkara hukum yang...

Read more
Oplus_131105
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

by Ingot Simangunsong
21 September 2026 | 09:57 WIB
0

Catatan | INGOT SIMANGUNSONG  PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto tentang pendidikan negeri yang harus gratis kembali membuka perbincangan besar tentang masa...

Read more
Kolom

Ketika pernyataan Antikorupsi diuji oleh fakta di ATR/BPN

by Ingot Simangunsong
16 September 2026 | 16:03 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  ADA sebuah kalimat yang kembali terasa relevan ketika kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan...

Read more
Oplus_131072
Kolom

SK DPP terbit, Andar Amin resmi pimpin Golkar Sumut: dari Musda hingga konsolidasi baru

by Ingot Simangunsong
14 September 2026 | 20:53 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong  PERJALANAN panjang kepengurusan baru Partai Golkar Sumatera Utara akhirnya memasuki titik penting. Dewan Pimpinan...

Read more
Kolom

Pintar belum tentu bijaksana: Ketika pernyataan pejabat menguji akal sehat rakyat

by Ingot Simangunsong
13 September 2026 | 22:16 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong PENDIDIKAN tinggi dan jabatan mentereng ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Fenomena ini terlihat ketika...

Read more

Berita Terbaru

News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
News

Organda Medan: “Angkutan umum gratis bagi pelajar lebih efisien dari bus listrik”

11 Oktober 2026 | 18:33 WIB
News

Daud Simanjuntak: Aula baru SMP RK Bintang Timur dukung pendidikan dan pembentukan karakter siswa

11 Oktober 2026 | 18:11 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus