REVOLUSI nental dan pendidikan kebangsaan menjadi hal yang mutlak.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Jalan Lurus, H Riyanta SH pada acara deklarasi Gerakan Jalan Lurus (GJL) Provinsi DKI Jakarta, Bogor Raya, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) di Auditorium Gedung F Lantai 4 BPSDM Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2022).
H Riyanta didampingi Sekretaris Jenderal Prof DR Widhi Handoko SH S.pN menyebutkan, dalam menghadapi tantangan politik, hukum, budaya dan ekonomi yang sistemik, posisi GJL adalah sebagai mitra dalam pengawalan tantang tersebut.
“Saat ini, bangsa Indonesia memerlukan langkah kongkrit untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang ada. Langkah kongkrit tersebut, merupakan upaya menjangkau asapirasi dan permasalahan nasional yang sampai kini belum terselesaikan, yang menjadi tugas bersama,” kata Riyanta yang menjelaskan, bahwa asas GJL, adalah Pancasila dan UUD 1945.
Baca juga :
Mempertahankan SMP Negeri 11 Pematang Siantar, Bangun Manurung: “Harus dibuka trayek transportasi”

Baca juga :
FEBURANTI SIMANJUNTAK, 15 tahun TUMOR MENGGELANTUNG di BAWAH KETIAKNYA
“Target utama dari GJL adalah bagaimana meletakkan hukum sebagai panglima dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. GJL dengan cara silaturahmi bergerak untuk mencegah terjadinya korupsi, pungli dan menghentikan persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan konstitusi. Intinya di sana,” kata Riyanta.
Sementara itu, Sekjen GJL, Widhi Handoko menyampaikan solusi kongkrit dan langsung, merupakan kebutuhan bangsa.
“Sudah seharusnya, organisasi kemasyarakatan tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi positip,” kata Widhi Handoko yang juga menjelaskan bahwa posisi GJL dapat menjadi kawan pemerintah dan bisa juga mengkritik.
“Ada tiga hal yang dikembangkan dari konsep GJL, yaitu to explore, to critis dan to understand. Kita bisa saja mengkritik jika ada keganjilan-keganjilan, jika itu melukai rakyat dan melukai keadilan, maka GJL akan melakukan masukan kepada pemerintah, sehingga didapat solusinya,” kata Widhi Handoko. (EDO/***)





