KANSELIR Jerman, Olaf Scholz, sudah menawarkan kepada Volodymyr Zelensky, terkait perdamaian antara Moskow dan Keiv.
Penawaran tersebut ditolak Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, hanya beberapa hari sebelum militer Rusia meluncurkan serangan.
Seperti yang diberitakan Rusia Today, Olaf Scholz telah membuat apa yang digambarkan sebagai satu dorongan terakhir untuk penyelesaian antara Moskow dan Kiev.
Upaya ini disebut-sebut kurang dari seminggu sebelum pasukan Rusia dikirim ke Ukraina pada 24 Februari lalu.
Kanselir Jerman mengatakan kepada Volodymyr Zelenskyy di Munich pada 19 Februari 2022, “Ukraina harus meninggalkan aspirasi NATO-nya dan menyatakan netralitas sebagai bagian dari kesepakatan keamanan Eropa yang lebih luas antara Barat dan Rusia.”
Suratkabar WSJ juga mengklaim bahwa pakta itu akan ditandatangani oleh Putin dan Biden, yang bersama-sama akan menjamin keamanan Ukraina.
Namun, Volodymyr Zelenskyy menolak tawaran untuk membuat konsesi dan menghindari konfrontasi. Bahkan Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa “(Presiden Rusia Vladimir) Putin tidak dapat dipercaya untuk menegakkan kesepakatan semacam itu dan bahwa sebagian besar warga Ukraina ingin bergabung dengan NATO.”
Jawaban Volodymyr Zelenskyy tersebut, membuat para pejabat Jerman khawatir bahwa peluang perdamaian memudar.
Scholz dan Zelensky bertemu di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, di mana masing-masing menyampaikan pidato.
Rusia menyerang tetangganya pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan persyaratan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Rusia atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.
Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.
Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS. (***)






