Catatan | Sutrisno Pangaribuan

BELUM lama berselang, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (Don Dasco) mengumpulkan para direktur Himbara, beserta Ketua BP BUMN/Chief Operating Officer Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria, dan Menteri Sekertaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Direktur Utama BPJS TK dan Taspen serta membahas terkait fenomena pasar saham yang saat ini sedang bergejolak termasuk anjloknya saham-saham perbankan BUMN.
Rapat tertutup tersebut digelar di gedung DPR RI Nusantara III Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Sebulan kemudian, Don Dasco juga menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah pihak.
Diantaranya hadir Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Rapat tersebut turut dihadiri para pimpinan Komisi I DPR dan Komisi III DPR. Rapat koordinasi tersebut digelar di Ruang Pimpinan DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Dalam rapat dibahas isu-isu strategis nasional, terutama perihal situasi politik dan keamanan di bulan Agustus tahun 2026.
Kemudian, Don Dasco bersama Saan Mustopa, Cucun Ahmad Syamsurizal juga menerima audiensi aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok bersama sejumlah rekan aktivis lainnya. Audiensi digelar di ruang Abdul Muis, gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Don Dasco tetap menerima audiensi AMPB, meski Botok dan kawan-kawan sebelumnya telah diterima oleh anggota DPR pada saat rapat paripurna DPR.
Mereka duduk di balkon ruang rapat paripurna saat itu.
Lalu Don Dasco bersama CEO Danantara Indonesia mendatangi gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.
Kunjungan tersebut bertepatan dengan peristiwa jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup dalam hingga anjlok 11% lebih.
Hal itu membuat regulator pasar modal memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt tak lama setelah pembukaan perdagangan hari ini.
Don Dasco selalu memosisikan diri seperti Ketua DPR RI merangkap juru bicara pemerintah (eksekutif) padahal dirinya adalah Wakil Ketua DPR RI (legislatif).
Semua hal diurusi (dicampuri) Don Dasco, seakan semua hal menjadi urusan Don Dasco, dan semua yang terjadi harus sepengetahuan dan harus mendapat restu Don Dasco.
Namun ada yang janggal dari sikap progressifnya Don Dasco mengurusi (mencampuri) semua hal.
Don Dasco tidak bereaksi atas peristiwa genting dan penting atas penghianatan yang dilakukan Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) bersama komplotannya melakukan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Bagaimana mungkin Don Dasco yang disebut sebagai perisai hidup pelindung Prabowo Subianto tidak menyampaikan sepatah kata pembelaan (perlindungan) terhadap Prabowo Subianto atas penghianatan LSP dan komplotannya?
Atau mungkinkah Don Dasco sudah mengetahui penyadapan ilegal yang dilakukan LSP dan komplotannya sebelum dibongkar oleh Bareskrim Polri?
Sejumlah pertanyaan akan muncul tentang “hilangnya” Don Dasco dari peristiwa penting dan genting yang jika tidak segera dibongkar Bareskrim Polri, dapat mengancam keselamatan Presiden Prabowo Subianto.
Publik menanti penjelasan-penjelasan yang selalu disampaikan Don Dasco, saat terjadi peristiwa penting dan genting.
Publik merindukan kehadiran Don Dasco yang selalu memberi penjelasan mewakili pemerintahan Prabowo Subianto atas berbagai peristiwa penting yang terjadi.
Memasuki hari ketiga pasca penangkapan LSP dan komplotannya atas penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, terasa ada yang kurang tanpa kehadiran dan pernyataan (penjelasan) Don Dasco.
Penulis, Sutrisno Pangaribuan, adalah Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas), Inisiator Sumatera Connection






