Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Buah Pikir

Tabir Sejarah Pangururan: Pecah belah kaum adat Sitolu Hae Horbo di Era Kolonial

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
9 November 2025 | 16:11 WIB
in Buah Pikir

Oleh | Hatoguan Sitanggang

UPAYA memecah kesatuan adat Sitolu Hae Horbo di Pangururan mulai muncul pada sekitar tahun 1920.

Pada masa itu, komunitas adat tersebut telah memiliki struktur pemerintahan tradisional (harajaon) dan sistem sosial yang kuat.

Salah satu tokoh yang disebut berperan dalam dinamika tersebut adalah H.M. Hutagalung, yang dikenal sebagai asisten demang kolonial Belanda di wilayah tersebut.

Melalui penyusunan ulang tarombo atau silsilah marga, Hutagalung dikaitkan dengan penyebaran narasi bahwa Raja Sitempang berasal dari wilayah Dairi dan termasuk dalam garis keturunan marga Munthe.

Klaim ini menimbulkan perdebatan panjang karena dinilai bertentangan dengan struktur genealogis Sitolu Hae Horbo yang telah diwariskan turun-temurun.

Polemik tersebut turut mempengaruhi stabilitas tatanan adat yang telah berlangsung selama berabad-abad dan masih menjadi perbincangan hingga kini.

Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa Sitolu Hae Horbo, yang terdiri dari marga Sitanggang, Naibaho, dan Simbolon, telah memiliki sistem Dalihan Natolu yang mapan jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda.

Hingga saat ini tidak ditemukan wilayah adat di Pangururan yang dikenal sebagai Golat Munthe, yang dapat dijadikan dasar klaim hubungan genealogis dengan struktur marga induk di kawasan tersebut.

Ketiga marga itulah yang dikenal sebagai Raja Bius Pangururan, pusat pemerintahan adat di wilayah yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Samosir.

Penelusuran sejarah menunjukkan adanya praktik politik pecah belah pada masa pemerintahan kolonial yang memengaruhi pola pikir sebagian masyarakat hingga era modern.

Narasi sejarah tertentu bahkan dijadikan bahan perdebatan dan olok-olok di ruang publik digital.

Selain itu, perlu dicatat bahwa berbagai wilayah yang kini dikategorikan sebagai tanah pemerintah (kaminte) pada dasarnya merupakan tanah adat masyarakat Pangururan.

Pembangunan Monumen Sitolu Hae Horbo oleh pemerintah pusat dapat dipandang sebagai bentuk pengakuan resmi atas eksistensi sistem sosial dan peradaban adat yang telah berkembang jauh sebelum kolonialisasi.

Pada periode kolonial, masyarakat lokal juga mengalami penderitaan akibat kerja paksa dalam pembangunan infrastruktur seperti Jalan Tele–Pangururan, Terusan Tano Ponggol, serta pengalihan aliran Sungai Binaga Sioto menuju Pea Raja.

Proyek yang berlangsung sejak awal 1900-an hingga dekade 1920 itu menelan banyak korban jiwa dan mengakibatkan hilangnya sejumlah perkampungan tua.

Kebijakan tersebut diikuti strategi memecah hubungan antarmarga yang berdampak panjang terhadap kohesi sosial masyarakat adat.

Penulis menilai pentingnya mengembalikan pemahaman sejarah secara utuh untuk mencegah terulangnya praktik adu domba dalam bentuk modern, termasuk melalui rekonstruksi tarombo yang tidak berdasar.

Sejarah, menurut penulis, seharusnya dijadikan landasan pembelajaran kolektif, bukan alat mempertajam perpecahan.

Catatan yang kerap disebut dalam diskusi publik menyebut bahwa H.M. Hutagalung, tokoh yang dikaitkan dengan dinamika tersebut, pernah menempati bangunan yang kini berfungsi sebagai rumah dinas Bupati Samosir dan diduga berperan dalam strategi kolonial memengaruhi struktur adat melalui legitimasi Dalihan Natolu dan penyusunan tarombo versi baru. [Bersambung]

Penulis, Hatoguan Sitanggang, adalah Raja Jolo Keturunan Raja Sitempang [Raja Jolo Anak tertua dari Garis keturunannya]

Tags: Era KolonialPecah belah kaum adatsegarisSegaris.coSitolu Hae HorboTabir Sejarah Pangururan
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Oplus_131072
Buah Pikir

Menanti keberanian Jaksa menangkap para perampok uang Jalan Tol Medan- Binjai

by Ingot Simangunsong
11 Oktober 2026 | 11:54 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan  BEBERAPA waktu yang lalu, penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Utara (Sumut), dikabarkan telah...

Read more
Buah Pikir

PR besar penataan Telekomunikasi, butuh solusi bersama 

by Ingot Simangunsong
6 Oktober 2026 | 10:10 WIB
0

Oleh | Herry Chandra, ST Pimpinan PT Hydra Media Indonesia. Tim Hydra Net DUNIA telekomunikasi Indonesia sedang tumbuh pesat. Kebutuhan...

Read more
Buah Pikir

“Bupati sehari”

by Ingot Simangunsong
28 September 2026 | 07:19 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   OLIMPIADE Sains Kelas Unggulan (OSKU) Jenjang SMP Kabupaten Tapanuli Utara diselenggarakan Dinas Pendidikan Sabtu, 19...

Read more
Buah Pikir

MUBES VI PUJAKESUMA, 18-20 September 2026, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta

by Ingot Simangunsong
18 September 2026 | 17:18 WIB
0

Catatan | Herry Chandra, ST  Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kulon Nuwun, DARI tanah Habonaron Do Bona Simalungun yang subur, tempat nenek...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Bobby harus belajar (lagi) kewenangan kepala daerah

by Ingot Simangunsong
26 Agustus 2026 | 19:59 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan    BOBBY NASUTION kembali melakukan akrobat politik dengan menjadi kepala daerah paling peduli terhadap warga. Gubernur...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Timoty Situmorang, telusuri silsilah Op Tuan Situmorang

by Ingot Simangunsong
25 Agustus 2026 | 07:14 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   TIMOTY SITUMORANG, 27 tahun, lahir di Kota Medan, tetapi dia sangat pasih berbahasa Batak. Anak...

Read more

Berita Terbaru

News

LSM Fokus Mitra Indonesia  kukuhkan kepengurusan, Amister Silalahi pimpin organisasi

17 Oktober 2026 | 12:50 WIB
News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
News

Organda Medan: “Angkutan umum gratis bagi pelajar lebih efisien dari bus listrik”

11 Oktober 2026 | 18:33 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus