PIHAK berwenang Rusia mengumumkan rencana pada hari Senin untuk mengakhiri larangan penerbangan ke dan dari 52 negara mulai 9 April, karena Moskow terus mencabut pembatasan terkait Covid-19.
Langkah itu akan berlaku untuk “negara-negara sahabat,” kata Perdana Menteri, Mikhail Mishustin, merujuk pada negara-negara yang tidak bergabung dalam sanksi Barat terhadap Moskow.
Menurut Mikhail Mishustin, langkah itu dilakukan karena kasus Covid-19 telah menurun secara stabil selama beberapa minggu terakhir.
Daftar negara termasuk Aljazair, Afghanistan, Argentina, Bahrain, Bosnia dan Herzegovina, Botswana, Brasil, Cina, Kosta Rika, Mesir, Ethiopia, Fiji, Hong Kong, Israel, India, Indonesia, Iraq, Jamaica, Jordan, Kenya, Kuwait, Lebanon, Lesotho, Mauritius, Madagascar, Malaysia, the Maldives, Morocco, Mozambique, Moldova, Mongolia, Myanmar, Namibia, North Korea, Oman, Pakistan, Peru, the Philippines , Saudi Arabia, the Seychelles, Serbia, Sri Lanka, Syria, Thailand, Tanzania, Tunisia, Turkey, Uruguay, Venezuela, Vietnam, and Zimbabwe.
Moskow sebelumnya telah mencabut pembatasan hubungan udara dengan 15 negara, termasuk negara-negara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), Qatar, Meksiko, Republik Dominika, Kuba, UEA, Turki, Finlandia, Republik Ceko, Swiss, Korea Selatan, dan Mesir.
Namun, Uni Eropa, Inggris, dan wilayah udara AS tetap ditutup untuk pesawat Rusia sebagai bagian dari sanksi terhadap negara itu atas operasi militer di Ukraina.
Wilayah udara Rusia juga ditutup untuk negara-negara yang bergabung dengan larangan penerbangan, kata Mikhail Mishustin. (Ingot Simangunsong/rt.com)






