Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Buah Pikir

Sejarah Tambak Paromasan dan fenomena penggarap yang tidak beretika

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
7 Desember 2025 | 19:03 WIB
in Buah Pikir

Oleh | Hatoguan Sitanggang

TAMBAK Paromasan merupakan salah satu situs sejarah dan cagar budaya yang terletak di antara Desa Lumban Pinggol, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

Kawasan ini memiliki nilai sakral yang sangat tinggi bagi tiga marga besar Sitanggang, Naibaho, dan Simbolon, yang sejak dahulu kala membentuk pranata sosial adat Dalihan Na Tolu dan menetap di wilayah Pangururan.

Asal usul Paromasan

Pada masa para leluhur ketiga marga besar itu, Paromasan dibangun sebagai tempat penyimpanan tulang belulang (patakkok saring-saring) nenek moyang Sitanggang, Naibaho, dan Simbolon.

Tempat ini berfungsi sebagai lokasi pemakaman adat istimewa, yang diperlakukan dengan penuh penghormatan dalam tradisi horja bius.

Sebelum pelaksanaan horja bius, ketiga marga besar memiliki struktur sohe atau pembagian marga sebagai berikut: Tanjabau, Pangadatan, Pangulu Oloan, Malau Pase, Naibaho (Naibaho Sitakkaren, Naibaho Siahaan, Naibaho Hutaparik, Naibaho Sidauruk dan Panturi, serta Naibaho Siagian), Simbolon (Simbolon Pande, Simbolon Tuan, Tamba, Nadeak Simarmata, Saeng, dan Silalahi).

Dari keseluruhan pembagian tersebut, terdapat 13 tupuk atau perangkat adat yang mewakili marga-marga dalam setiap pelaksanaan horja bius.

Tradisi Horja Bius yang telah berjalan ratusan tahun

Menurut rekam jejak Belanda sekitar tahun 1904, wilayah Samosir pernah memiliki 146 bius, dan Pangururan dikenal sebagai Inang ni Bius, pusat bius terbesar di kawasan tersebut.

Tradisi horja bius di Pangururan dipercaya telah berlangsung sejak sekitar 800 tahun yang lalu, jauh sebelum pemerintah kolonial Belanda membuat registrasi tersebut.

Dalam upacara adat besar itu, sering dilakukan pemotongan kerbau sitikko tanduk sebagai persembahan (borotan) ketika mengadakan upacara patakkok saring-saring untuk menghormati tulang belulang para leluhur.

Adapun lokasi Paromasan berada di Digolat Sitanggang, tanah yang dahulu telah diserahkan secara resmi kepada komunitas Sitolu Hae Horbo oleh Raja Sitempang.

Fenomena penggarap yang merusak situs

Saat ini, kondisi Paromasan sangat memprihatinkan. Banyak masyarakat lokal yang menganggap lahan tersebut “tidak bertuan,” sehingga mulai menggarapnya menjadi ladang.

Ironisnya, aktivitas penggarapan ini sering kali mencangkul tulang belulang nenek moyang, suatu tindakan yang dalam adat Batak merupakan pelanggaran berat.

Dahulu, masyarakat yang memanfaatkan lahan Paromasan untuk bercocok tanam wajib mematuhi aturan adat:

Jika tanpa sengaja mencangkul tulang belulang, mereka harus membayar seekor babi kecil untuk disembelih dan dimakan bersama penduduk kampung.

Saat ini, norma tersebut tidak lagi dihormati.

Diperkirakan, sekitar 90% area seluas kurang lebih 15 hektar yang berada di bawah atau di samping perkampungan Dusun Siantar-antar (Huta Siantar-antar) kini telah dikuasai oleh para penggarap.

Tindakan ini mengakibatkan kerusakan serius terhadap situs budaya yang seharusnya dijaga sebagai warisan leluhur Sitolu Hae Horbo.

Seruan untuk melindungi cagar budaya

Paromasan telah terdaftar sebagai cagar budaya resmi Kabupaten Samosir, sehingga kerusakan dan penguasaan sepihak terhadap kawasan ini tidak boleh dibiarkan.

Penggarap-penggarap yang tidak bertanggung jawab telah: merusak situs peninggalan leluhur, mencederai nilai adat dan sejarah, mengabaikan norma adat Dalihan Na Tolu, serta berpotensi menghilangkan jejak budaya ratusan tahun.

Oleh karena itu, penulis menyerukan kepada seluruh keturunan Sitanggang, Naibaho, dan Simbolon—komunitas Sitolu Hae Horbo—untuk merapatkan barisan, bersatu menjaga, melindungi, dan menyelamatkan situs Paromasan dari kerusakan lebih lanjut.

Penulis, Hatoguan Sitanggang, adalah Raja Jolo Keturunan Raja Sitempang [Raja Jolo Anak tertua dari Garis keturunannya]

Tags: SamosirsegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Oplus_131072
Buah Pikir

Menanti keberanian Jaksa menangkap para perampok uang Jalan Tol Medan- Binjai

by Ingot Simangunsong
11 Oktober 2026 | 11:54 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan  BEBERAPA waktu yang lalu, penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Utara (Sumut), dikabarkan telah...

Read more
Buah Pikir

PR besar penataan Telekomunikasi, butuh solusi bersama 

by Ingot Simangunsong
6 Oktober 2026 | 10:10 WIB
0

Oleh | Herry Chandra, ST Pimpinan PT Hydra Media Indonesia. Tim Hydra Net DUNIA telekomunikasi Indonesia sedang tumbuh pesat. Kebutuhan...

Read more
Buah Pikir

“Bupati sehari”

by Ingot Simangunsong
28 September 2026 | 07:19 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   OLIMPIADE Sains Kelas Unggulan (OSKU) Jenjang SMP Kabupaten Tapanuli Utara diselenggarakan Dinas Pendidikan Sabtu, 19...

Read more
Buah Pikir

MUBES VI PUJAKESUMA, 18-20 September 2026, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta

by Ingot Simangunsong
18 September 2026 | 17:18 WIB
0

Catatan | Herry Chandra, ST  Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kulon Nuwun, DARI tanah Habonaron Do Bona Simalungun yang subur, tempat nenek...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Bobby harus belajar (lagi) kewenangan kepala daerah

by Ingot Simangunsong
26 Agustus 2026 | 19:59 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan    BOBBY NASUTION kembali melakukan akrobat politik dengan menjadi kepala daerah paling peduli terhadap warga. Gubernur...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Timoty Situmorang, telusuri silsilah Op Tuan Situmorang

by Ingot Simangunsong
25 Agustus 2026 | 07:14 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   TIMOTY SITUMORANG, 27 tahun, lahir di Kota Medan, tetapi dia sangat pasih berbahasa Batak. Anak...

Read more

Berita Terbaru

News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
News

Organda Medan: “Angkutan umum gratis bagi pelajar lebih efisien dari bus listrik”

11 Oktober 2026 | 18:33 WIB
News

Daud Simanjuntak: Aula baru SMP RK Bintang Timur dukung pendidikan dan pembentukan karakter siswa

11 Oktober 2026 | 18:11 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus