Segaris.co
Minggu, 6 September 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Buah Pikir

NARKOLEMA: Narkoba lewat mata

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
8 September 2025 | 14:31 WIB
in Buah Pikir

Oleh | Ir Saut Situmorang, ST, MT

DI era digital saat ini, masyarakat hidup dalam pusaran teknologi. Gadget, terutama telepon pintar, menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari; bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga hiburan.

Namun, di balik manfaatnya, hadir fenomena baru yang kian mengkhawatirkan, NARKOLEMA, singkatan dari Narkoba Lewat Mata. Istilah ini menggambarkan kondisi kecanduan layar gawai yang dampaknya bisa menyamai bahaya narkoba, meskipun bentuknya berbeda.

Narkolema bukan zat yang disuntikkan ke tubuh atau dihirup lewat hidung. Ia masuk lewat mata, melalui layar yang memancarkan cahaya biru, notifikasi yang terus berdenting, dan konten yang tiada habisnya.

Ketergantungan inilah yang membuat seseorang sulit melepaskan diri, hingga terganggu secara fisik, mental, dan sosial.

1. Kesamaan Narkoba dan Narkolema

Mengapa gadget bisa disamakan dengan narkoba? Secara neurologis, keduanya sama-sama memicu pelepasan hormon dopamin di otak, zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan ketagihan.

Narkoba merangsang otak dengan zat adiktif buatan.

2. Dampak Fisik: Mata, otak, dan tubuh

Gadget merangsang otak dengan infinite scroll, notifikasi, likes, dan video singkat yang membuat orang ingin terus melihat.

Akibatnya, pengguna mengalami gejala mirip kecanduan narkoba. Sulit berhenti, cemas saat tidak mengakses, bahkan kehilangan kendali atas waktu.

Dampak Fisik: Mata, otak, dan tubuh

Narkolema berdampak langsung pada kesehatan fisik. Mata lelah dan rusak. Paparan cahaya biru dari layar mempercepat kerusakan retina, menyebabkan mata kering, dan berpotensi mengganggu penglihatan jangka panjang.

Gangguan tidur
Cahaya layar menekan produksi melatonin, membuat seseorang sulit tidur meski tubuh sudah lelah. Postur tubuh memburuk, terlalu lama menunduk ke layar menyebabkan text neck, nyeri punggung, dan kerusakan tulang belakang.

Gangguan otak
Riset menunjukkan penggunaan berlebihan dapat menurunkan daya konsentrasi, memori jangka pendek, bahkan memicu depresi.

Jika narkoba merusak tubuh lewat zat kimia, maka narkolema merusak tubuh lewat paparan visual yang berlebihan dan berulang-ulang.

3. Dampak Psikis dan Sosial
Kecanduan gadget tak hanya menyerang fisik, tetapi juga psikis. Remaja yang terlalu lama menghabiskan waktu di dunia maya sering kehilangan kemampuan berinteraksi di dunia nyata.

Gejala yang muncul antara lain:
Mood swing: cepat marah bila dilarang main gadget.

Kesepian paradoksal: meski terus online, mereka merasa kosong secara emosional.

Hilangnya fokus belajar: prestasi akademik menurun karena otak lebih terlatih menonton konten singkat daripada memahami bacaan panjang.

Disintegrasi keluarga: anggota keluarga lebih sibuk menatap layar masing-masing daripada bercengkerama.

Fenomena ini mirip dengan pecandu narkoba yang lebih memilih “dunia maya” halusinasi ketimbang realitas sosial.

4. Generasi Narkolema

Indonesia dikenal memiliki tingkat penggunaan internet dan media sosial yang sangat tinggi.

Berdasarkan laporan Datareportal 2024, rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di depan layar.

Angka ini jauh di atas ambang batas sehat menurut WHO, yang merekomendasikan maksimal dua jam waktu layar rekreasi per hari untuk remaja.

Kondisi ini melahirkan generasi yang rentan, generasi narkolema. Anak-anak yang sejak dini terpapar gawai lebih sering memilih game dan YouTube daripada belajar, berolahraga, atau berinteraksi dengan teman sebaya.

Mereka bisa tertawa seharian dengan layar, tapi gagap saat harus bicara di depan kelas.

5. Upaya Pencegahan dan Rehabilitasi
Jika narkoba butuh rehabilitasi medis, narkolema pun memerlukan langkah serius.

Beberapa solusi yang bisa diterapkan:
– Digital Parenting: orang tua harus aktif mengawasi, membatasi, dan memberi teladan penggunaan gawai.
– Zona Bebas Gadget: buat aturan di rumah, misalnya meja makan tanpa HP atau jam malam tanpa layar.
– Aktivitas Alternatif: dorong anak untuk berolahraga, membaca buku fisik, atau bermain di luar ruangan.
– Detoks Digital: tentukan satu hari dalam seminggu tanpa media sosial.
– Pendidikan Literasi Digital: sekolah harus mengajarkan bukan hanya cara menggunakan teknologi, tapi juga cara mengendalikan diri dari adiksi digital.

6. Refleksi: Narkolema Lebih Berbahaya?
Jika ditanya, manakah yang lebih berbahaya: narkoba atau narkolema? Jawabannya relatif.

Narkoba jelas merusak tubuh secara cepat dan sering mematikan. Tapi narkolema lebih licik. Ia merusak perlahan, diam-diam, hingga kita tidak sadar sedang menjadi korban.

Pecandu narkoba mudah dikenali. Tubuhnya kurus, hidupnya berantakan.

Tetapi pecandu gadget? Mereka bisa tampak normal, bahkan produktif. Padahal mentalnya rapuh dan hubungan sosialnya runtuh. Bahayanya justru karena tersembunyi.

Penutup
Narkolema adalah ancaman nyata bagi generasi kita. Ia mungkin tidak dilarang undang-undang, tapi dampaknya bisa menghancurkan masa depan bangsa.

Mata yang seharusnya jendela ilmu, kini menjadi pintu masuk candu. kKita tidak boleh membiarkan generasi muda menjadi budak layar. Mereka harus belajar menggunakan teknologi sebagai alat, bukan tuan.

Jika narkoba menghancurkan masa depan lewat jarum dan serbuk, maka narkolema menghancurkannya lewat layar dan cahaya.

Maka, mari kita katakan bersama: katakan tidak pada narkoba, dan kendalikan diri dari narkolema!

 

Penulis: Ir. Saut Situmorang, ST, MT, Kepala Lembaga Penjamin Mutu Institut Saint dan Tehnologi TD Pardede

Tags: NarkobaNarkolemasegarisSegaris.coUDA
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Oplus_131072
Buah Pikir

Bobby harus belajar (lagi) kewenangan kepala daerah

by Ingot Simangunsong
26 Agustus 2026 | 19:59 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan    BOBBY NASUTION kembali melakukan akrobat politik dengan menjadi kepala daerah paling peduli terhadap warga. Gubernur...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Timoty Situmorang, telusuri silsilah Op Tuan Situmorang

by Ingot Simangunsong
25 Agustus 2026 | 07:14 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang   TIMOTY SITUMORANG, 27 tahun, lahir di Kota Medan, tetapi dia sangat pasih berbahasa Batak. Anak...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Tingkat inflasi Sumut tinggi, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

by Ingot Simangunsong
16 Agustus 2026 | 22:51 WIB
0

Oleh | Sutrisno Pangaribuan Kantor Gubernur Sumut BERDASARKAN Perda No.10 Tahun 2025 Tentang Perubahan Atas Perda No.8 Tahun 2022 Tentang...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Warga HKBP dijanjikan Sekda, ternyata hanya tiga bulan

by Ingot Simangunsong
3 Agustus 2026 | 14:28 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan SETELAH skenario awal menjadikan Topan Ginting sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) kandas. Bobby...

Read more
Oplus_131072
Buah Pikir

Stop pencitraan! Tidak ada urgensi Bobby-Surya berkantor di Nias

by Ingot Simangunsong
31 Juli 2026 | 15:06 WIB
0

Catatan | Sutrisno Pangaribuan AKSI Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution dan Surya berkantor di Pulau Nias hanya...

Read more
Buah Pikir

Diawali asesmen, Dinas Pendidikan Tapanuli Utara akan tingkatkan mutu pendidikan

by Ingot Simangunsong
31 Juli 2026 | 11:18 WIB
0

Catatan | Martua Situmorang LANGKAH yang dilakukan Kadis Pendidikan Tapanuli Utara Freddy Advent Panjaitan untuk meningkatkan mutu pendidikan sangat tepat....

Read more

Berita Terbaru

News

Sidang Kasus Kuota Haji: Gus Alex sebut 24 anggota Panja Komisi VIII minta 3.000 riyal

5 September 2026 | 09:56 WIB
News

Bantuan tahap pertama tuntas disalurkan, PDI Perjuangan sapa pengungsi Desa Suka Tengah

5 September 2026 | 08:07 WIB
News

Rapidin Simbolon pimpin penyaluran bantuan untuk pengungsi erupsi Gunung Sinabung

4 September 2026 | 08:20 WIB
News

Saleh Partaonan Daulay: Penyaluran KUR dengan plafon Rp100 juta tak perlu agunan tambahan

4 September 2026 | 06:56 WIB
News

Kebakaran pabrik PT Evyap di KEK Sei Mangkei, Tiga pekerja vendor tewas

3 September 2026 | 18:03 WIB
News

Jusniar Siahaan: “Penutupan Hotel Zoe’s Paradise hanya akal-akalan saja”

3 September 2026 | 17:29 WIB
SEREMONI

Dengan akhlak Nabi, Polres Siantar wujudkan pelayanan humanis

3 September 2026 | 14:06 WIB
News

Erupsi Gunung Sinabung ganggu penerbangan Kualanamu, Bandara sempat ditutup sementara

3 September 2026 | 13:07 WIB
News

Bukan sekadar ekonomi, CU dampingan YAPIDI cetak pemimpin perempuan dari desa

3 September 2026 | 10:01 WIB
News

Gerakan Pangan Murah di Pasar Tarutung, Bupati: “Langkah konkret menekan laju inflasi”

3 September 2026 | 06:47 WIB
SEREMONI

Kejari Simalungun gelar upacara Harlah ke-81 Kejaksaan RI 

2 September 2026 | 16:17 WIB
SEREMONI

Polres Pematangsiantar beri kejutan Harlah ke-81 Kejaksaan 

2 September 2026 | 16:03 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus