Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home Kolom

Asas praduga tidak bersalah dan trial by social media

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
29 April 2025 | 20:34 WIB
in Kolom

Catatan | ingot simangunsong

DALAM sistem hukum pidana Indonesia, asas praduga tak bersalah merupakan prinsip fundamental yang menjamin setiap orang dianggap tidak bersalah hingga adanya putusan pengadilan yang menyatakan sebaliknya.

Dikenal pula dengan istilah presumption of innocence, asas ini menjadi salah satu landasan utama dalam penegakan keadilan dan perlindungan hak asasi manusia.

Asas itu pula, mengharuskan seseorang (pelapor) untuk membuat laporan ke penegak hukum, terkait kasus apa pun yang mengemuka, agar diuji melalui proses hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan hingga pengadilan yang akan menetapkan seseorang bersalah atau tidak.

Asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence) pertama kali dikenal secara formal di sistem hukum Romawi Kuno, namun penerapannya secara modern dan sistematis mulai terlihat di Perancis melalui Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (Déclaration des Droits de l’Homme et du Citoyen) pada tahun 1789. Pasal 9 deklarasi tersebut menyatakan bahwa:

“Setiap orang dianggap tidak bersalah sampai ia dinyatakan bersalah.”

Setelah itu, prinsip ini menjadi bagian penting dalam sistem hukum berbagai negara, terutama melalui pengaruh hukum sipil Eropa dan hukum umum (common law) seperti di Inggris dan Amerika Serikat.

Kini, asas ini juga diakui secara internasional dalam berbagai instrumen HAM seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR).

Di Indonesia, asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi sebagai prinsip hukum pidana yang fundamental.

Penerapannya tercermin dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan praktik peradilan.

Dasar Hukum di Indonesia:

Undang-Undang Dasar 1945
Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan asas praduga tak bersalah, UUD 1945 menjamin perlindungan terhadap hak asasi manusia, termasuk hak untuk mendapatkan perlakuan adil di hadapan hukum (Pasal 28D ayat 1 dan Pasal 28G ayat 1).

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
KUHAP secara tegas menganut asas praduga tak bersalah.

Pasal 8 ayat (1) menyatakan:

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.”

Peraturan Kapolri, Kejaksaan, dan Mahkamah Agung
Lembaga penegak hukum Indonesia seperti Polri, Kejaksaan, dan MA juga menetapkan kode etik dan pedoman penanganan perkara yang mewajibkan aparat untuk menghormati asas ini.

Misalnya, larangan mempublikasikan foto tersangka dengan atribut yang menyesatkan (seperti mengenakan rompi tahanan sebelum putusan pengadilan).

Implementasi Praktis:

Dalam praktiknya, asas ini mewajibkan bahwa:

Tersangka tidak boleh diperlakukan seperti telah bersalah, baik oleh aparat penegak hukum maupun media massa.

Beban pembuktian berada di pihak penuntut umum (jaksa), bukan terdakwa.

Hak-hak tersangka dan terdakwa harus dijamin, seperti hak atas bantuan hukum, hak untuk diam, dan hak untuk mendapatkan peradilan yang adil dan independen.

Tantangan:

Meskipun sudah diatur secara hukum, penerapan asas ini masih menghadapi tantangan di lapangan, terutama dalam:

Pemberitaan media yang cenderung menghakimi tersangka

Tindakan aparat penegak hukum yang menampilkan tersangka ke publik secara tidak manusiawi

Opini publik yang terbentuk sebelum proses pengadilan selesai

Asas praduga tak bersalah bukan hanya norma hukum, tetapi juga wujud penghormatan terhadap martabat manusia.

Penerapannya menuntut komitmen seluruh elemen hukum dan masyarakat untuk menjaga keadilan tetap berjalan objektif dan bermartabat.

Medsos ruang komunikasi publik yang bebas

Kehadiran media sosial [medsos] sebagai ruang komunikasi publik yang bebas memang membawa tantangan serius terhadap penerapan asas praduga tak bersalah dalam sistem hukum Indonesia.

Meskipun media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan opini, kebebasan ini kerap disalahgunakan untuk menghakimi seseorang yang belum terbukti bersalah secara hukum.

Tantangan dari Media Sosial:

Pengadilan oleh Publik (“Trial by Social Media”)
Seseorang yang menjadi tersangka atau bahkan baru diduga terlibat dalam suatu perkara sering kali langsung diviralkan, dicemooh, bahkan dijatuhi “hukuman sosial” sebelum proses hukum berjalan. Ini bertentangan langsung dengan prinsip praduga tak bersalah.

Penyebaran Informasi yang Tidak Terverifikasi
Banyak informasi yang beredar di media sosial tidak melalui verifikasi atau klarifikasi yang memadai, sehingga opini publik terbentuk berdasarkan asumsi, bukan fakta hukum.

Tekanan terhadap Aparat Penegak Hukum
Kekuatan opini publik yang masif di media sosial bisa memengaruhi netralitas penyidikan, penuntutan, bahkan putusan pengadilan karena adanya tekanan untuk “memuaskan” keinginan publik, bukan berdasarkan bukti dan hukum.

Stigmatisasi dan Kerusakan Reputasi
Dampak media sosial bisa jauh lebih cepat dan meluas ketimbang media konvensional. Sekali seseorang dituduh dan viral, reputasinya bisa rusak permanen meskipun pada akhirnya terbukti tidak bersalah.

Solusi dan Tanggung Jawab Bersama:

Pendidikan Literasi Hukum dan Digital
Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya asas praduga tak bersalah serta risiko penyebaran informasi yang belum tentu benar.

Etika Jurnalisme dan Influencer
Wartawan, konten kreator, serta tokoh di media sosial harus menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan etika, serta tidak membentuk opini yang merugikan pihak tertentu sebelum ada putusan hukum.

Peran Aparat Penegak Hukum
Polisi dan kejaksaan harus lebih ketat dalam mengelola informasi yang disampaikan ke publik, agar tidak menimbulkan kesan bahwa seseorang sudah bersalah sebelum persidangan.

Regulasi dan Penegakan Hukum Siber
UU ITE serta aturan lainnya bisa diterapkan untuk menindak penyebaran hoaks, pencemaran nama baik, dan perundungan digital terhadap individu yang belum terbukti bersalah.

Kesimpulannya, media sosial adalah ruang penting dalam demokrasi, tetapi juga harus diiringi dengan tanggung jawab moral dan kesadaran hukum.

Menjaga asas praduga tak bersalah tetap tegak adalah tugas semua pihak — negara, media, dan masyarakat.

 

Penulis, ingot simangunsong, pimpinan redaksi Segaris.co

 

 

Tags: AsasAsas PradugaMedsosPradugasegarisSegaris.co
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

by Ingot Simangunsong
12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  PERNAH dengar kata pemakzulan saat berita politik lagi panas-panasnya? Biasanya istilah ini muncul ketika ada desakan...

Read more
Kolom

Jika Gibran dimakzulkan, Apa yang terjadi pada pemerintahan dan peta politik Indonesia?

by Ingot Simangunsong
25 September 2026 | 09:01 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong WACANA pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perhatian publik seiring bergulirnya perkara hukum yang...

Read more
Oplus_131105
Kolom

Pendidikan Gratis: Janji besar Prabowo Subianto yang kini menunggu pembuktian

by Ingot Simangunsong
21 September 2026 | 09:57 WIB
0

Catatan | INGOT SIMANGUNSONG  PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto tentang pendidikan negeri yang harus gratis kembali membuka perbincangan besar tentang masa...

Read more
Kolom

Ketika pernyataan Antikorupsi diuji oleh fakta di ATR/BPN

by Ingot Simangunsong
16 September 2026 | 16:03 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong  ADA sebuah kalimat yang kembali terasa relevan ketika kasus dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan...

Read more
Oplus_131072
Kolom

SK DPP terbit, Andar Amin resmi pimpin Golkar Sumut: dari Musda hingga konsolidasi baru

by Ingot Simangunsong
14 September 2026 | 20:53 WIB
0

Catatan  | Ingot Simangunsong  Ingot Simangunsong  PERJALANAN panjang kepengurusan baru Partai Golkar Sumatera Utara akhirnya memasuki titik penting. Dewan Pimpinan...

Read more
Kolom

Pintar belum tentu bijaksana: Ketika pernyataan pejabat menguji akal sehat rakyat

by Ingot Simangunsong
13 September 2026 | 22:16 WIB
0

Catatan | Ingot Simangunsong PENDIDIKAN tinggi dan jabatan mentereng ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Fenomena ini terlihat ketika...

Read more

Berita Terbaru

News

Henry Dunan Pardede: “Daud Simanjuntak, figur mumpuni yang cepat tanggap, peduli dan terbuka untuk semua kalangan”

17 Oktober 2026 | 21:59 WIB
News

LSM Fokus Mitra Indonesia  kukuhkan kepengurusan, Amister Silalahi pimpin organisasi

17 Oktober 2026 | 12:50 WIB
News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus