JAKARTA — SEGARIS.CO – MENGAPA perdebatan Budiman Sudjatmiko dengan mahasiswa di Semarang itu, begitu cepat memicu tuntutan pencopotan jabatan dan mengapa isu ini sangat emosional bagi kalangan aktivis.
Kalau kita melihat peristiwa ini bukan sekadar “Budiman versus mahasiswa“, melainkan sebagai sebuah simbol benturan generasi aktivisme, maka ada beberapa lapisan yang menarik untuk dipahami.
Publik tidak sedang mengadili Budiman sebagai pejabat, tetapi sebagai mantan aktivis
Nama Budiman Sudjatmiko membawa beban sejarah yang besar. Saat menjadi aktivis reformasi, Budiman dikenal berani melawan kekuasaan.
Karena itu, ketika sekarang ia berada di dalam pemerintahan, sebagian orang tetap berharap ia mempertahankan posisi kritis yang sama.
Dalam diskusi di Semarang, mahasiswa bahkan secara terbuka mempertanyakan apakah Budiman masuk ke dalam kekuasaan untuk menjinakkan kekuasaan atau justru dijinakkan oleh kekuasaan.
Akibatnya, kritik yang muncul bukan hanya terhadap isi perdebatan, tetapi terhadap apa yang dianggap sebagai “perubahan identitas” seorang aktivis.
Fenomena “Pahlawan yang berpindah kubu”
Dalam sosiologi politik, ada fenomena ketika seorang tokoh perlawanan masuk ke dalam sistem yang dahulu ia kritik.
Ketika itu terjadi, publik biasanya terbagi menjadi dua:
Kelompok pertama melihatnya sebagai langkah strategis untuk melakukan perubahan dari dalam.
Kelompok kedua melihatnya sebagai bentuk kompromi terhadap kekuasaan.
Perdebatan Budiman dengan mahasiswa sebenarnya memperlihatkan benturan dua cara pandang tersebut.
Mahasiswa melihat diri mereka sebagai pewaris tradisi kritik
Mahasiswa Indonesia memiliki memori kolektif yang kuat tentang gerakan 1966, 1974, 1998, dan berbagai gerakan sosial lainnya.
Ketika seorang mantan aktivis dianggap kurang responsif terhadap kritik, reaksi emosional biasanya lebih besar dibanding jika hal yang sama dilakukan oleh politisi biasa.
Karena itu, perdebatan tersebut dengan cepat berubah menjadi simbol:
“Aktivis lama berhadapan dengan aktivis muda.”
Mengapa sampai muncul tuntutan pencopotan?
Secara politik, tuntutan pencopotan bukan selalu berarti publik yakin pejabat tersebut harus diberhentikan.
Sering kali tuntutan itu merupakan bentuk ekspresi kekecewaan moral.
Sejumlah pengkritik menilai gaya komunikasi Budiman dalam forum tersebut tidak menunjukkan keterbukaan yang mereka harapkan dari seorang mantan aktivis dan pejabat publik.
Karena itu muncul seruan agar Presiden mengevaluasi jabatannya.
Pelajaran yang bisa diambil
Peristiwa ini menunjukkan satu kenyataan penting:
Semakin besar sejarah perjuangan seseorang, semakin tinggi pula standar moral yang dibebankan publik kepadanya.
Ketika seorang mantan aktivis menjadi pejabat, masyarakat tidak hanya menilai kebijakannya, tetapi juga konsistensi antara masa lalunya dan sikapnya hari ini.
Karena itulah perdebatan yang mungkin sebenarnya biasa dalam sebuah forum diskusi berubah menjadi isu nasional.
Yang sedang diperdebatkan bukan hanya argumen, melainkan makna “kesetiaan terhadap idealisme”.
Bagi banyak orang, pertanyaan yang muncul bukan lagi: “Apakah Budiman menang atau kalah debat?” Melainkan: “Apakah seorang aktivis masih bisa tetap menjadi aktivis ketika ia sudah berada di dalam kekuasaan?”
Dan pertanyaan itu sudah menjadi perdebatan panjang dalam sejarah politik dunia, jauh sebelum Budiman Sudjatmiko mengalaminya hari ini. [***]






