
TARUTUNG, SEGARIS.CO — PERKUMPULAN Flobamora diharapkan tidak sekadar menjadi wadah berkumpul bagi masyarakat asal Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi juga menjadi rumah persaudaraan yang menghadirkan kepedulian, mempererat kerukunan, serta melestarikan kekayaan budaya Indonesia Timur.
Pesan tersebut disampaikan Bonifasius Nurak, S.Pd., dalam renungan pada perayaan ulang tahun ke-5 Flobamora di Tarutung, Sabtu (24/10/2026).
Mengangkat ayat Kitab Suci Mazmur 133:1, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”, Bonifasius mengajak seluruh anggota Flobamora menjadikan momentum ulang tahun sebagai kesempatan memperkuat persaudaraan sekaligus memperbarui iman kepada Tuhan.
Menurutnya, meskipun anggota Flobamora berasal dari daerah, kampung, dan latar belakang yang berbeda di NTT, mereka tetap dipersatukan oleh identitas Flobamora, yang merangkum Flores, Sumba, Timor, dan Alor.

“Pertemuan kita ini bukan sekadar untuk berkumpul, berbincang, atau menikmati kebersamaan. Lebih dari itu, kita hadir sebagai satu keluarga besar yang memiliki ikatan persaudaraan, budaya, dan nilai-nilai kehidupan dari tanah kelahiran,” demikian pesan yang disampaikan dalam renungan tersebut.
Flobamora bukan sekadar tempat berkumpul
Bonifasius menegaskan, keberadaan perkumpulan Flobamora memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan pertemuan atau kegiatan sukacita.
Flobamora, katanya, harus menjadi wadah untuk menjaga persaudaraan, melestarikan budaya, saling membantu, serta membangun kehidupan yang lebih baik di tanah perantauan.
Kekayaan budaya NTT, seperti rumpu rampe, sei babi, jagung bose, sambal kecap, aneka tarian, dan lagu-lagu daerah, merupakan warisan yang perlu terus diperkenalkan dan dilestarikan oleh generasi penerus.
Namun, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui makanan, tarian, dan lagu. Nilai persaudaraan, gotong royong, serta kepedulian terhadap sesama juga harus menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga besar Flobamora.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan di perantauan tidak selalu berjalan mudah. Setiap anggota memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan pergumulan masing-masing. Ada yang mengalami keberhasilan, tetapi ada pula yang sedang menghadapi persoalan hidup.
Karena itu, persaudaraan sejati harus terlihat melalui tindakan nyata, terutama ketika ada anggota yang membutuhkan pertolongan.
“Jangan sampai kita hanya hadir ketika ada pesta atau acara sukacita. Kita juga harus hadir ketika saudara kita sedang mengalami kesulitan,” menjadi salah satu pesan penting dalam renungan tersebut.
Kepedulian itu dapat diwujudkan dengan mengunjungi anggota yang sakit, menghibur keluarga yang berduka, membantu saudara yang mengalami kesulitan ekonomi sesuai kemampuan, serta memberikan motivasi kepada anak-anak agar terus berjuang meraih masa depan.
Bonifasius juga mengingatkan pesan Galatia 6:2, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”
Menurutnya, firman tersebut menegaskan bahwa manusia tidak dipanggil untuk menjalani kehidupan seorang diri, melainkan untuk saling menolong dan menguatkan.
Perbedaan jangan menghancurkan persaudaraan
Memasuki usia lima tahun, Flobamora juga diajak melakukan refleksi atas perjalanan organisasi, termasuk berbagai persoalan dan perbedaan yang mungkin pernah terjadi di antara anggotanya.
Bonifasius mengakui, dalam perjalanan sebuah perkumpulan, tidak tertutup kemungkinan muncul rasa sakit hati, tersinggung, kecewa, hingga keputusasaan.
Meski demikian, ia mengingatkan agar persoalan-persoalan tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi perpecahan.
Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar karena setiap orang memiliki karakter, pengalaman, pemikiran, dan sudut pandang yang berbeda.
Yang terpenting, setiap anggota mampu menjaga komunikasi, membuka hati, serta menyelesaikan persoalan tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan.
“Jika kita salah, beranilah meminta maaf. Jika orang lain melakukan kesalahan, belajarlah memberikan pengampunan,” demikian pesan yang ditekankan dalam renungan tersebut.
Ia berharap anggota Flobamora tidak hanya menjadi pribadi yang pandai berbicara, tetapi juga bersedia memberikan waktu, tenaga, dan perhatian bagi kepentingan bersama.
Sebab, kekuatan sebuah perkumpulan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya anggota atau meriahnya kegiatan, tetapi oleh ketulusan mereka dalam menjaga persatuan, kepedulian, dan semangat gotong royong.
Menjadi berkat bagi sesama
Lebih lanjut, Bonifasius mengajak keluarga besar Flobamora untuk menjadikan kemampuan, pekerjaan, dan berkat yang dimiliki sebagai sarana membantu orang lain.
Menurutnya, membantu sesama tidak selalu harus melalui uang. Setiap orang dapat memberikan kontribusi sesuai kemampuan, baik melalui tenaga, nasihat, perhatian, maupun kesediaan mendengarkan keluh kesah saudara yang sedang menghadapi persoalan.
Bahkan, senyuman yang tulus, sapaan ramah, kunjungan kepada orang sakit, dan kehadiran saat keluarga lain mengalami kedukaan dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang membutuhkan penghiburan.
Dalam renungan itu, Bonifasius juga mengajak setiap anggota mengevaluasi diri melalui sejumlah pertanyaan: apakah kehadirannya membawa sukacita bagi orang lain, apakah sudah ikut menjaga kerukunan, apakah bersedia membantu saudara yang membutuhkan, serta apakah talenta yang dimiliki telah digunakan untuk kebaikan bersama.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, katanya, bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan organisasi yang lebih baik.
Ia berharap perayaan ulang tahun ke-5 Flobamora menjadi momentum bagi seluruh anggota untuk memperbarui komitmen, menjadi pribadi yang lebih peduli, sabar, rendah hati, dan penuh kasih.
“Semoga melalui perkumpulan Flobamora, semakin banyak orang merasakan kehadiran Tuhan melalui tindakan nyata kita,” demikian pesan penutup renungan tersebut.
Bonifasius mengakhiri renungannya dengan mengingatkan kembali pesan Mazmur 133:1 bahwa hidup dalam kerukunan merupakan sesuatu yang baik dan indah.
Bagi keluarga besar Flobamora, kerukunan itu bukan hanya untuk dirayakan dalam sebuah acara, tetapi harus diwujudkan setiap hari melalui sikap saling menghormati, saling membantu, dan menjaga persaudaraan di tanah perantauan. [Red/***]






