
DELISERDANG, SEGARIS.CO — SETELAH sebelumnya menyalurkan tali asih kepada siswa terdampak dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo dan Asahan, DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara kembali memberikan bantuan kepada siswa terdampak di Kecamatan Galang, Kabupaten Deliserdang, Rabu (7/10/2026).
Pemberian tali asih berlangsung di Aula Bung Karno, lingkungan Kantor DPC PDI Perjuangan Deliserdang, Lubukpakam.
Kegiatan tersebut disebut sebagai bentuk solidaritas kepada anak-anak dan keluarga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya kader PDI Perjuangan Sumatera Utara menerjemahkan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar kader tidak hanya hadir ketika masyarakat berada dalam kondisi baik, tetapi juga memberikan perhatian ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Bagi PDI Perjuangan, perhatian tersebut tidak selalu harus dalam bentuk besar.
Kehadiran secara langsung, mendengar keluhan dan membantu sesuai kemampuan dinilai sebagai bagian dari semangat gotong royong.
Kasus di Galang terjadi pada Jumat (18/9/2026). Saat itu, siswa dari empat sekolah dasar mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dan minum susu MBG.
Mereka kemudian mendapat penanganan di Puskesmas Galang.
Para siswa berasal dari SDN 101976 Bandar Kuala, SDN 106197 Paku, SDN 101961 Timbang Deli, dan SDN 107827 Titi Besi.
Keluhan yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah dan pusing.
Dapur SPPG di Desa Galang Barat yang memasok makanan tersebut kemudian dikenai penghentian operasional sementara selama 20 hari sejak 18 September.
Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Sutrisno Pangaribuan, mengatakan keputusan memberikan tali asih berangkat dari keinginan kader untuk ikut merasakan apa yang dialami keluarga setelah anak-anak mereka mengalami gangguan kesehatan.
Menurut Sutrisno, persoalan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari sisi kejadian, tetapi juga dari kekhawatiran orang tua setelah anak mereka mengalami gangguan kesehatan.
“Ketika anak mengalami gangguan kesehatan setelah makan di sekolah, yang dirasakan orang tua tentu bukan hal yang ringan. Ada rasa takut, ada kekhawatiran, dan ada pertanyaan apakah kejadian seperti ini akan terulang. Kami datang hari ini untuk berbagi sedikit beban itu dengan keluarga,” ujar Sutrisno.
Ia menjelaskan, tali asih disalurkan dalam bentuk tabungan melalui kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Besaran bantuan disesuaikan dengan kondisi siswa terdampak.
Sutrisno mengatakan, seluruh siswa terdampak di Kecamatan Galang tidak menjalani perawatan intensif hingga harus menjalani rawat inap atau dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
Sebanyak 59 siswa yang terdampak di Kecamatan Galang masing-masing menerima tabungan BRI sebesar Rp300.000.
“Bantuan ini bukan tentang seberapa besar nilainya. Kami sadar apa yang diberikan tidak akan menghapus pengalaman yang sudah dialami anak-anak dan keluarga. Tetapi dalam semangat gotong royong, kami ingin mengambil bagian, sekecil apa pun, untuk membantu mereka melewati situasi ini,” kata Sutrisno.
Minta evaluasi keamanan pangan MBG
Sutrisno menilai perhatian terhadap siswa terdampak juga perlu diikuti dengan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, terutama dari sisi keamanan pangan.
Menurutnya, program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak harus memberikan rasa aman kepada siswa dan orang tua, mulai dari makanan dipersiapkan hingga dikonsumsi.
“Kalau kita berbicara tentang anak-anak, ukuran keberhasilan program bukan hanya apakah makanan sampai ke sekolah, tetapi apakah makanan itu aman dan benar-benar memberikan manfaat. Kejadian di Galang harus menjadi pelajaran agar pengawasan diperkuat dan tidak ada lagi anak yang mengalami hal serupa,” ujarnya.
Ia mengatakan, pemberian tali asih di Galang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PDI Perjuangan Sumatera Utara setelah sebelumnya dilakukan di Kabupaten Karo dan Asahan.
Sutrisno menyebut pesan Megawati Soekarnoputri menjadi pengingat bagi kader bahwa kerja politik juga harus memiliki kepedulian terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Bu Megawati selalu menempatkan rakyat sebagai bagian penting dari kerja kader. Bagi kami, itu bukan sekadar pesan yang disampaikan dalam forum, tetapi sesuatu yang harus diterjemahkan dalam tindakan. Ketika ada anak-anak yang mengalami persoalan, kami memilih untuk datang, melihat langsung dan ikut membantu semampu kami,” kata Sutrisno.
Pemberian tali asih tersebut turut dihadiri jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, di antaranya Sekretaris DPD Sutarto, Bendahara Meriahta Sitepu, Muhammad Afan, Samulya Indra, Henry Dumanter Tampubolon, Dameria Pangaribuan dan R. Mawarni Tampubolon.
Hadir pula Agustiawan Saragih, Bima Nusa dan Oki Teger Bangun dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Deliserdang, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Deliserdang, perwakilan BRI, pihak sekolah, orang tua siswa serta para siswa terdampak MBG. [Red/***]






