Segaris.co
Sabtu, 17 Oktober 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Segaris.co
No Result
View All Result
Segaris.co
No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir
Home News

Rekam jejak erupsi Gunung Sinabung: Dari “Gunung tidur” menjadi luka panjang 

Ingot Simangunsong by Ingot Simangunsong
1 September 2026 | 22:42 WIB
in News

KARO, SEGARIS.CO — GUNUNG SINABUNG bukan sekadar sebuah gunung api yang sesekali mengeluarkan abu dan awan panas.

Bagi masyarakat Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Sinabung adalah bagian dari perjalanan hidup selama lebih dari satu dekade terakhir.

Sejak kembali terbangun pada Agustus 2010 setelah berabad-abad tidak menunjukkan erupsi besar, Sinabung telah meninggalkan jejak panjang: korban jiwa, puluhan ribu warga mengungsi, desa-desa yang harus direlokasi, lahan pertanian yang rusak, rumah yang ditinggalkan, serta kerugian ekonomi yang mencapai triliunan rupiah.

Dan pada 31 Agustus 2026, Sinabung kembali menunjukkan peningkatan aktivitasnya.

2010: Sinabung terbangun setelah berabad-abad

Pada 27 Agustus 2010, Gunung Sinabung kembali meletus.

Peristiwa tersebut mengejutkan masyarakat karena Sinabung sebelumnya dikenal sebagai gunung yang lama tidak menunjukkan aktivitas erupsi besar.

BNPB mencatat lebih dari 12.000 warga harus dievakuasi pada fase awal tersebut.

Satu orang meninggal dunia dalam rangkaian kejadian erupsi 2010.

Korban mengalami sesak napas ketika dalam perjalanan menuju tempat pengungsian.

Selain korban jiwa, hujan abu dan pasir vulkanik merusak tanaman serta mengganggu kehidupan masyarakat di sejumlah desa sekitar gunung.

Namun, erupsi 2010 ternyata baru menjadi pembuka dari perjalanan panjang Sinabung.

2011–2012: Masa tenang yang ternyata tidak benar-benar berakhir

Aktivitas Sinabung sempat mereda.

Masyarakat mulai kembali menjalani kehidupan dan mengolah lahan pertanian di kawasan Karo.

Tetapi tekanan vulkanik di bawah gunung tidak benar-benar hilang.

Pada 15 September 2013, Sinabung kembali meletus dan memasuki fase erupsi panjang yang kemudian menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah bencana gunung api tersebut.

2013: Puluhan ribu warga kembali meninggalkan rumah

Erupsi sejak September 2013 membuat jumlah pengungsi melonjak.

BNPB mencatat sebanyak 33.210 jiwa dari 21 desa dan dua dusun harus mengungsi akibat meningkatnya aktivitas Sinabung.

Gunung tidak hanya mengancam keselamatan manusia.

Abu vulkanik, awan panas dan material erupsi mulai memberikan tekanan besar terhadap pertanian, perkebunan, peternakan, permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi Kabupaten Karo yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pertanian, dampaknya menjadi sangat serius.

2014: Tahun paling memilukan

Jika pertanyaannya adalah “tahun berapa yang paling parah dari sisi korban jiwa?”, maka jawabannya adalah 2014.

Pada awal Februari 2014, awan panas meluncur ke kawasan Desa Sukameriah.

Warga yang berada di zona bahaya menjadi korban. BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat rangkaian erupsi tersebut mencapai 17 orang.

Peristiwa itu sekaligus menjadi pengingat keras bahwa zona merah bukan tempat untuk beraktivitas.

Pada tahun yang sama, jumlah pengungsi masih sangat besar. BNPB pada Juli 2014 mencatat 14.130 jiwa atau 4.392 KK masih berada di tempat pengungsian atau rumah sewa.

Beberapa desa bahkan harus dikosongkan secara permanen karena berada di kawasan yang dinilai berbahaya.

Desa seperti Sukameriah, Bekerah dan Simacem kemudian masuk dalam proses relokasi.

Kerugian mulai dihitung dalam triliunan rupiah

Dampak Sinabung ternyata tidak berhenti pada korban jiwa dan pengungsian.

BNPB menghitung kerusakan dan kerugian akibat erupsi sejak 15 September 2013 hingga akhir 2014 mencapai sekitar: Rp1,49 triliun.

Rinciannya antara lain:

  • Sektor ekonomi produktif: lebih dari Rp896,64 miliar
  • Permukiman: sekitar Rp501 miliar
  • Infrastruktur: Rp23,65 miliar
  • Sosial: Rp53,43 miliar
  • Lintas sektor: Rp18,03 miliar

BNPB menegaskan angka tersebut masih dapat berubah karena erupsi berlangsung dan belum memasukkan seluruh dampak lahar hujan.

Angka tersebut menunjukkan satu hal penting: Bencana gunung api bukan hanya persoalan abu yang jatuh dari langit. Ia juga dapat menghentikan roda ekonomi masyarakat selama bertahun-tahun.

2015: Erupsi belum berakhir

Memasuki 2015, aktivitas Sinabung masih tinggi.

Pengungsi belum seluruhnya dapat kembali ke rumah.

Sebagian masyarakat mulai menghadapi persoalan baru: bagaimana bertahan hidup ketika rumah harus ditinggalkan sementara sumber penghasilan utama berada di lahan yang berada di kawasan rawan bencana.

Hingga Mei 2015, BNPB memperkirakan total kerusakan dan kerugian sejak September 2013 telah meningkat menjadi sekitar Rp1,80 triliun.

Nilai terbesar kembali berada pada sektor ekonomi produktif, mencapai lebih dari Rp1,14 triliun.

2016: Tragedi Desa Gamber

Pada 21 Mei 2016, Sinabung kembali memperlihatkan sisi paling mematikannya.

Awan panas meluncur dan menerjang kawasan Desa Gamber.

Sembilan orang terkena awan panas. Perkembangan berikutnya mencatat korban meninggal mencapai 9 orang.

BNPB mencatat pada periode tersebut sebanyak 9.319 jiwa dari sembilan desa masih mengungsi, sementara ribuan warga dari desa lainnya berada dalam proses relokasi mandiri.

Tragedi Gamber juga memperlihatkan persoalan klasik dalam bencana Sinabung: tekanan ekonomi membuat sebagian masyarakat tetap berusaha mengolah lahan meskipun kawasan tersebut berada dalam zona bahaya.

2017–2018: Sinabung belum benar-benar berhenti

Aktivitas Sinabung terus berlanjut.

Pada 2017, ribuan warga masih hidup dalam kondisi pengungsian. Data BNPB mencatat sekitar 7.214 jiwa masih menderita dan mengungsi dalam rangkaian penanganan bencana Sinabung.

Pada 19 Februari 2018, Sinabung kembali mengalami erupsi besar.

BNPB mencatat bahwa sejak 2010 Sinabung mengalami aktivitas berulang dan sulit diprediksi kapan benar-benar berhenti.

2019–2021: Gunung aktif, masyarakat berusaha bertahan

Aktivitas Sinabung masih berlangsung pada periode berikutnya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak harus beradaptasi dengan ancaman erupsi yang datang berulang.

Pada 2021, misalnya, awan panas dan abu vulkanik kembali memberikan dampak langsung terhadap pertanian.

Data yang dihimpun Kompas mencatat 3.045,8 hektare lahan pertanian rusak di empat kecamatan, yaitu Payung, Tiganderket, Kuta Buluh dan Tigabinanga.

Kerugian petani saat itu diperkirakan mencapai Rp29,17 miliar.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa bagi petani Karo, dampak Sinabung bukan sekadar kehilangan satu kali musim panen.

Ancaman erupsi yang berulang dapat membuat petani kehilangan modal, bibit, tanaman, hasil panen dan kepastian untuk menanam kembali.

2023–2025: Aktivitas tetap dipantau

Badan Geologi mencatat Gunung Sinabung berada pada Level II Waspada sejak 17 Mei 2023.

Artinya, meskipun tidak setiap periode menghasilkan erupsi besar, Sinabung tetap menjadi gunung api yang harus dipantau secara ketat.

2026: Sinabung kembali bangun

Memasuki Agustus 2026, aktivitas Sinabung kembali meningkat.

Badan Geologi mencatat peningkatan gempa vulkanik dalam, gempa low frequency dan gempa hybrid yang sebelumnya jarang terekam.

Pada 12 Agustus 2026, asap kawah terlihat semakin tebal dengan ketinggian sekitar 1.000 meter dari puncak.

Kemudian datang peristiwa penting.

31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB, Gunung Sinabung kembali mengalami erupsi.

Kolom erupsi mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak, atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna hitam tebal bergerak ke arah timur dan tenggara.

Badan Geologi kemudian menaikkan status Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga, mulai pukul 12.30 WIB.

Badan Geologi juga menyatakan erupsi tersebut merupakan erupsi awal dan masih terdapat kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar.

Bagaimana kondisi kerugian 2026?

Untuk erupsi terbaru 31 Agustus 2026, data kerusakan, korban jiwa dan kerugian materi masih dalam proses pendataan.

BNPB menyatakan pendataan dampak dan kerugian material masih berlangsung.

Karena itu, angka kerugian 2026 belum boleh digabungkan begitu saja dengan angka kerugian tahun-tahun sebelumnya.

Data tersebut harus menunggu hasil asesmen pemerintah daerah dan instansi terkait.

Jadi, kapan Sinabung paling parah?

Jawabannya perlu dibagi berdasarkan indikator.

Jika berdasarkan korban jiwa:
2014 merupakan salah satu periode paling mematikan, dengan 17 korban meninggal dalam rangkaian erupsi.

Jika berdasarkan korban akibat satu kejadian awan panas: Tragedi Desa Gamber pada 21 Mei 2016 menewaskan 9 orang.

Jika berdasarkan besarnya kerugian ekonomi: Periode 2013–2015 merupakan salah satu fase dengan dampak ekonomi terbesar.

BNPB memperkirakan kerusakan dan kerugian mencapai Rp1,49 triliun hingga akhir 2014, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp1,80 triliun hingga Mei 2015.

Jika berdasarkan luas kerusakan lahan yang terdokumentasi dalam satu periode: Pada 2021 tercatat sekitar 3.045,8 hektare lahan pertanian rusak, dengan kerugian petani sekitar Rp29,17 miliar.

Lebih dari sekadar angka

Rekam jejak Sinabung sebenarnya tidak bisa hanya dihitung dari jumlah korban dan rupiah.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarga.

Ada petani yang kehilangan kebun.

Ada desa yang tidak lagi ditempati seperti dahulu.

Ada anak-anak yang tumbuh dalam suasana pengungsian.

Ada keluarga yang harus memulai hidup kembali di lokasi relokasi.

Dan ada masyarakat yang setiap kali melihat asap Sinabung kembali bertanya: “Apakah kali ini kami harus meninggalkan rumah lagi?”

Itulah sebabnya erupsi Sinabung harus dibaca bukan hanya sebagai fenomena geologi.

Ia juga merupakan cerita tentang ketahanan masyarakat Karo menghadapi bencana yang berlangsung panjang.

Catatan penting tentang data korban

Data korban Sinabung dalam berbagai publikasi tidak selalu identik karena terdapat perbedaan antara korban langsung akibat awan panas, korban dalam rangkaian kejadian, dan kematian pengungsi akibat penyakit.

Karena itu, untuk penulisan jurnalistik, angka korban harus disebut berdasarkan kategori dan sumbernya, bukan sekadar menjumlahkan seluruh angka dari berbagai dokumen.

Sebagai contoh, catatan Kementerian Kesehatan pernah mencatat korban meninggal dalam penanganan krisis kesehatan Sinabung yang lebih luas, termasuk kematian tidak langsung akibat kondisi kesehatan pengungsi. [Red/berbagai sumber/***]

 

 

Catatan redaksi: Data kerugian dan kerusakan 2026 masih bersifat sementara dan belum dapat disimpulkan sebelum asesmen resmi pemerintah selesai.

Tags: ErupsiGunungGunung SinabungJejakKaroKerugianKorbanRekamRekam JejakSegaris.coSinabung
ShareTweetSendShareSharePinSend

Berita Lainnya

News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

by Ingot Simangunsong
16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
0

SIMALUNGUN, SEGARIS.CO – KAPOLRES Simalungun AKBP Hendri Nupia Dinka Barus menggelar kegiatan Coffee Morning dan temu ramah bersama insan pers...

Read more
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

by Ingot Simangunsong
16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
0

Dearmando Damanik: "Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani" Dearmando Damanik menunjukkan proses pupuk organik Asap Cair Osaka PEMATANGSIANTAR, SEGARIS.CO --...

Read more
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

by Ingot Simangunsong
16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
0

TAPANULI UTARA, SEGARIS.CO --‎ PEMERINTAH Kabupaten Tapanuli Utara menggelar Dialog Pendidikan bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti...

Read more
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

by Ingot Simangunsong
15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
0

TAPANULI UTARA, SEGARIS.CO -- PEMERINTAH Kabupaten Tapanuli Utara mengambil langkah strategis dalam penataan kawasan dan mitigasi bencana dengan merelokasi para...

Read more
Oplus_131104
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

by Ingot Simangunsong
14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
0

PEMATANGSIANTAR, SEGARIS.CO -- DENGAN berbekal usulan, dukungan penuh dan penugasan dari ORMAS MKGR sebagai salah satu ormas yang melahirkan/pendiri Partai...

Read more
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

by Ingot Simangunsong
14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
0

TAPANULI UT‎ARA, SEGARIS.CO -- BUPATI Tapanuli Utara Jonius TP Hutabarat, silaturahmi dengan Wakil Gubernur Sumatera Utara, H. Surya, di Kantor...

Read more

Berita Terbaru

News

Kapolres Simalungun gelar coffee morning bersama 160 insan pers

16 Oktober 2026 | 21:29 WIB
News

Dearmando Damanik: “Daud Simanjuntak itu memiliki hati melayani”

16 Oktober 2026 | 11:34 WIB
News

‎Bupati Taput dan Mendikdasmen gelar dialog pendidikan bersama guru dan kepala sekolah, bahas penguatan mutu pendidikan

16 Oktober 2026 | 07:38 WIB
News

Capai kesepakatan bersama, pedagang tanggul Aek Sigeaon siap direlokasi

15 Oktober 2026 | 11:05 WIB
News

Di Musda XI DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Daud Simanjuntak siap maju mencalonkan diri jadi Ketua

14 Oktober 2026 | 21:13 WIB
News

Matangkan persiapan Rakernas V MPK Indonesia, Bupati Taput audiensi dan koordinasi dengan Wagubsu ‎

14 Oktober 2026 | 09:50 WIB
News

Syahmidun Saragih: Tiga agenda Musda Golkar Siantar dengan Nakhoda handal memenangkan Pileg 2029

14 Oktober 2026 | 07:09 WIB
News

Jelang Musda XI Golkar Pematangsiantar, Syahmidun Saragih nilai Daud Simanjuntak layak pimpin partai

13 Oktober 2026 | 12:44 WIB
News

Erikson Sianipar: MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

12 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Kolom

PEMAKZULAN: Istilah politik yang sudah berusia ratusan tahun ahun, apa sih artinya?

12 Oktober 2026 | 04:26 WIB
News

Organda Medan: “Angkutan umum gratis bagi pelajar lebih efisien dari bus listrik”

11 Oktober 2026 | 18:33 WIB
News

Daud Simanjuntak: Aula baru SMP RK Bintang Timur dukung pendidikan dan pembentukan karakter siswa

11 Oktober 2026 | 18:11 WIB
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Saran Pembaca
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Segaris.co

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • PROFIL
  • News
  • SEREMONI
  • Kolom
  • Buah Pikir

©2022-2026 Segaris.co

rotasi barak berita hari ini samosir fons nuntiorum infamissimus