DAR ES SALAAM, SEGARIS.CO — POLITIK Tanzania memasuki babak baru setelah Wakil Presiden Emmanuel John Nchimbi mengundurkan diri dari jabatannya kurang dari satu tahun setelah dilantik mendampingi Presiden Samia Suluhu Hassan.
Nchimbi mengumumkan pengunduran dirinya pada 25 Agustus 2026. Dalam pernyataannya, ia mengatakan telah memutuskan pensiun dari politik dan pelayanan publik.
Namun ada satu kalimat yang segera menarik perhatian publik.
Nchimbi mengatakan dirinya telah berjanji kepada Presiden Samia bahwa apabila suatu saat Presiden menginginkan wakil presiden yang berbeda, dirinya akan mengundurkan diri.
Ia kemudian mengatakan telah memperoleh keyakinan bahwa Presiden Samia memang menghendaki perubahan tersebut.
Kalimat itu membuka pertanyaan besar: mengapa Presiden Samia menginginkan pergantian wakil presiden setelah baru sekitar sepuluh bulan bekerja bersama?
Bukan sekadar pengunduran diri
Secara resmi, pemerintah Tanzania tidak memberikan penjelasan bahwa Nchimbi diberhentikan karena konflik pribadi dengan Presiden.
Tetapi rangkaian peristiwa setelah pengunduran dirinya membuat persoalan ini jauh lebih menarik.
Sehari setelah pengumuman pengunduran diri, Partai Chama Cha Mapinduzi (CCM), partai yang telah lama berkuasa di Tanzania, mengeluarkan Nchimbi dari keanggotaan partai.
CCM menyebut pelanggaran disiplin dan aturan partai sebagai alasan pengusiran tersebut. Keputusan itu diumumkan setelah pertemuan mendadak jajaran pimpinan partai.
Artinya, Nchimbi bukan hanya meninggalkan kursi Wakil Presiden.
Ia juga kehilangan posisi politiknya di dalam partai yang menjadi kendaraan utama kekuasaan Presiden Samia.
Titik panas: konstitusi baru
Salah satu persoalan yang membuat nama Nchimbi menjadi sorotan adalah sikapnya mengenai reformasi konstitusi.
Dalam sebuah forum pada Juli 2026, Nchimbi secara terbuka menyerukan perlunya perjuangan untuk mendapatkan konstitusi baru bagi Tanzania.
Ia bahkan menyoroti besarnya kewenangan yang dimiliki lembaga kepresidenan dan pentingnya perubahan konstitusional sebelum 2030.
Pernyataan tersebut menjadi sensitif karena Tanzania baru saja melewati pemilu 2025 yang sangat kontroversial.
Di satu sisi, Presiden Samia memenangkan pemilu dengan hampir 98 persen suara.
Di sisi lain, pemilu tersebut dibayangi persoalan demokrasi, pembatasan terhadap oposisi dan kekerasan pascapemilu.
Pemerintah Tanzania sendiri melalui penyelidikan resmi menyebut sedikitnya 518 orang meninggal dalam kerusuhan yang terjadi setelah pemilu.
Dalam situasi seperti itu, seruan seorang Wakil Presiden untuk perubahan konstitusi tentu mempunyai bobot politik yang besar.
Apakah Nchimbi berbeda pandangan dengan Samia?
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Belum ada bukti resmi yang cukup untuk mengatakan bahwa Nchimbi dan Samia terlibat pertikaian pribadi.
Namun sejumlah laporan menyebut adanya ketegangan mengenai arah pemerintahan, termasuk persoalan penanganan kekerasan pascapemilu dan reformasi politik.
Dengan kata lain, yang lebih tepat disebut bukan “perang terbuka” antara Presiden dan Wakil Presiden, melainkan indikasi perbedaan pandangan politik yang kemudian berkembang menjadi keretakan hubungan kekuasaan.
Kalimat Nchimbi bahwa ia yakin Presiden menginginkan wakil presiden baru menjadi salah satu petunjuk terkuat mengenai perubahan hubungan tersebut.
Dari Wakil Presiden menjadi orang di luar CCM
Perubahan itu berlangsung sangat cepat.
Pada 25 Agustus Nchimbi mengumumkan pengunduran diri.
Pada 27 Agustus CCM mengumumkan pengusirannya dari partai sekaligus mengusulkan Menteri Energi Deogratius John Ndejembi sebagai penggantinya.
Parlemen kemudian menyetujui Ndejembi secara bulat. Dari 324 anggota parlemen yang memberikan suara, seluruhnya mendukung pencalonannya.
Pada 29 Agustus, Ndejembi resmi dilantik sebagai Wakil Presiden Tanzania yang baru.
Pergantian itu menunjukkan bahwa Presiden Samia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengisi kekosongan kekuasaan.
Mengapa Nchimbi penting?
Nchimbi bukan politisi baru.
Sebelum menjadi Wakil Presiden, ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal CCM dan merupakan salah satu tokoh penting dalam struktur politik partai.
Ia juga merupakan pasangan Samia dalam pemilu 2025.
Karena itu, keluarnya Nchimbi dari pemerintahan sekaligus dari CCM bukan peristiwa politik kecil.
Ini menyentuh langsung jantung kekuasaan Tanzania.
Ada apa dengan kekuasaan Samia?
Pertanyaan yang kini muncul bukan hanya: “Mengapa Nchimbi mundur?”
Tetapi: “Seberapa solid sebenarnya kekuasaan Presiden Samia Suluhu Hassan?”
CCM selama puluhan tahun dikenal sebagai partai yang sangat kuat dan mampu menjaga disiplin internal.
Namun keluarnya seorang mantan Sekretaris Jenderal CCM yang kemudian menjadi Wakil Presiden menunjukkan bahwa dinamika internal partai sedang mengalami tekanan.
Sejumlah analis bahkan melihat peristiwa tersebut sebagai gambaran semakin kuatnya konsentrasi kekuasaan di sekitar Presiden Samia.
Nchimbi pergi, persoalan Tanzania belum selesai
Penggantian Wakil Presiden mungkin telah selesai.
Namun persoalan politik yang lebih besar belum tentu ikut selesai.
Tanzania masih menghadapi pertanyaan tentang reformasi konstitusi, kebebasan politik, penanganan oposisi dan pertanggungjawaban atas kekerasan setelah pemilu 2025.
Bahkan mantan Perdana Menteri Joseph Warioba baru-baru ini menyatakan kekhawatiran setelah tidak dapat menghubungi Nchimbi pascapengunduran dirinya.
Warioba mengatakan ia sempat berbicara dengan Nchimbi setelah mengetahui pengunduran dirinya, tetapi kemudian tidak lagi dapat menghubunginya.
Perkembangan tersebut tentu membuat perhatian publik terhadap nasib politik Nchimbi semakin besar.
Kesimpulan
Pengunduran diri Emmanuel Nchimbi sebaiknya tidak dibaca semata sebagai pergantian pejabat.
Ada tiga lapisan persoalan yang perlu diperhatikan:
- Hubungan Presiden Samia dan Nchimbi yang tampaknya mengalami perubahan serius.
- Perbedaan pandangan mengenai reformasi konstitusi dan arah politik Tanzania.
- Pertarungan internal di dalam CCM setelah kontroversi pemilu 2025.
Belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa Nchimbi dan Samia terlibat konflik pribadi.
Tetapi satu hal sulit diabaikan:
Nchimbi meninggalkan kursi Wakil Presiden, kemudian kehilangan keanggotaan CCM, sementara penggantinya segera dilantik untuk kembali mendampingi Samia.
Dalam politik, rangkaian peristiwa yang begitu cepat biasanya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada apa yang tertulis dalam surat pengunduran diri.
Dan pertanyaan terbesar bagi Tanzania kini bukan lagi siapa Wakil Presidennya.
Melainkan: ke mana arah demokrasi Tanzania di bawah Presiden Samia Suluhu Hassan? [Red/berbagai sumber/***]






