
TAPANULI UTARA, SEGARIS.CO — HELLERIA Barasa, S.S., M.M., guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), mulai mengenal bisnis MCI One More ketika berupaya membiayai pengobatan putranya, Johel Frans Valentino Manalu, yang memiliki riwayat kejang hingga tiga kali.
Perjuangan mengobati anak
Johel menjalani pemeriksaan dan pengobatan rutin setiap bulan di dokter spesialis anak di Pematangsiantar.
Pada 2018, keluarga Helleria mengalami kecelakaan yang menyebabkan trauma bagi suaminya, kerusakan mobil, dan kerugian finansial. Kondisi itu membuat mereka kesulitan melanjutkan pengobatan.
Helleria mengatakan berbagai kebutuhan keluarga dan biaya pengobatan menguras keuangan, hingga surat keputusan (SK) miliknya sempat tergadai.
Dalam situasi tersebut, temannya, Mery Beata Sihombing, memperkenalkan produk MCI.
Helleria kemudian mencoba sejumlah produk, termasuk Bio Glass, pendant, dan bracelet yang dipasarkan dengan klaim terkait radiasi.
“Pada saat itu, saya berpikir tidak boleh hanya berdiam diri. Saya harus berusaha mencari jalan keluar demi anak saya,” katanya.
Setelah sekitar tiga bulan berupaya memulihkan kondisi keluarga, suaminya kembali mengemudikan mobil dan mereka membawa Johel menjalani pemeriksaan.
Helleria menyebut hasil pemeriksaan EEG saat itu menunjukkan kondisi yang baik.
Namun, pengalaman tersebut merupakan kisah pribadi keluarga. Penilaian kondisi kesehatan tetap harus mengacu pada pemeriksaan dan penjelasan tenaga medis.
Menjual cincin pernikahan untuk modal
Sebagai guru di SMAN 2 Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Helleria menghadapi keterbatasan modal ketika mulai merintis usaha. Ia mengaku menjual cincin pernikahannya untuk membeli satu paket produk MCI.
“Waktu itu, kondisi keuangan saya benar-benar sulit. Saya menjual cincin pernikahan untuk membeli satu paket produk MCI,” ujarnya.
Menurut Helleria, keputusan tersebut diambil untuk memperoleh penghasilan tambahan dan membantu memulihkan ekonomi keluarga.
Ia kemudian mempelajari sistem pemasaran serta peluang usaha yang ditawarkan MCI.
Ia mengatakan penghasilan diperoleh melalui penjualan produk dan pembelian ulang oleh pelanggan.
Produk yang dipasarkan
Helleria, yang berasal dari Parlilitan, Sumatera Utara, memasarkan berbagai produk MCI, antara lain Bio Glass, produk perawatan kecantikan, patch, pendant, dan bracelet.
Ia berupaya menjelaskan jenis, cara penggunaan, serta keterangan produk kepada calon pelanggan.
Untuk produk yang dikaitkan dengan kesehatan atau perlindungan terhadap radiasi, masyarakat perlu memeriksa bukti ilmiah, izin edar, dan informasi resmi dari pihak berwenang.
Klaim pemasaran tidak otomatis membuktikan manfaat medis suatu produk.
Membangun kepercayaan pelanggan
Helleria menghadapi persaingan usaha dengan membangun relasi dan menjaga komunikasi dengan pelanggan.
Ia memasarkan produk melalui jalur keanggotaan resmi serta media digital.
“Saya berusaha membangun komunikasi dengan masyarakat dan menceritakan pengalaman saya selama mengenal produk MCI. Bagi saya, seorang pebisnis harus berani memperkenalkan produknya, membangun relasi, dan menjaga komunikasi dengan calon pelanggan,” tuturnya.
Helleria menyebut bisnis tersebut turut mengubah kondisi ekonomi keluarganya.
Ia mengaku telah memiliki mobil, rumah, dan aset lainnya. Meski demikian, ia tetap berupaya mengembangkan jaringan pemasaran.
Membagi waktu sebagai guru dan pelaku usaha
Sebagai ASN dan guru, Helleria menempatkan tugas sekolah sebagai prioritas selama jam kerja. Kegiatan usaha dilakukan setelah kewajiban mengajar selesai.
“Saya berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Selama berada di sekolah, saya tetap fokus menjalankan tugas sebagai guru. Setelah pekerjaan selesai, barulah saya menjalankan bisnis,” jelasnya.
Ia memanfaatkan media sosial untuk menawarkan produk, termasuk melalui siaran langsung.
Menurutnya, kegiatan usaha harus dikelola agar tidak mengganggu tanggung jawab sebagai pendidik.
Dukungan keluarga
Helleria melibatkan suami dan anggota keluarga dalam sejumlah kegiatan pemasaran.
Suaminya, Belsonas Manalu, juga membantu mengantar dan mendampingi aktivitas usaha karena Helleria belum dapat mengemudikan kendaraan sendiri.
“Bagi saya, menjalankan bisnis harus dengan perasaan senang. Kami bisa bepergian bersama, menikmati kebersamaan, sekaligus menjalankan usaha,” katanya.
Perjalanan ke luar negeri
Helleria menyebut pernah mengikuti perjalanan ke Korea, Hong Kong, Vietnam, dan Bangkok, termasuk perjalanan menggunakan kapal pesiar bersama keluarganya.
Menurutnya, perjalanan tersebut merupakan bagian dari program MCI bagi peserta yang memenuhi ketentuan perusahaan.
Ia menilai pengalaman itu menjadi salah satu hal yang mendorongnya melanjutkan usaha.
Pesan kepada orang tua
Helleria mengimbau orang tua mendampingi anak dalam menggunakan teknologi digital.
Menurutnya, penggunaan gawai perlu disertai komunikasi dan edukasi agar dilakukan secara bertanggung jawab.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mencari informasi yang memadai sebelum menggunakan produk tertentu.
“Saya berharap para orang tua lebih memperhatikan penggunaan gawai oleh anak-anak. Teknologi perlu dimanfaatkan secara bijak dengan pendampingan yang baik. Untuk setiap produk yang akan digunakan, masyarakat juga perlu mencari informasi yang benar agar dapat mengambil keputusan secara tepat,” ujarnya.
Perjalanan Helleria menunjukkan upayanya membangun penghasilan tambahan sambil tetap menjalankan profesi sebagai guru.
Dukungan keluarga, pengelolaan waktu, dan kehati-hatian dalam memilih produk menjadi bagian dari pengalamannya. [Bonifasius Nurak/***]






