CHINA — SEGARIS.CO — CHINA mengeluarkan peringatan keras kepada Panama dengan mengancam konsekuensi politik dan ekonomi yang serius, menyusul keputusan Mahkamah Agung negara Amerika Tengah tersebut yang membatalkan kontrak operasi pelabuhan strategis yang terkait dengan perusahaan berbasis di Hong Kong.
Langkah ini semakin memperuncing ketegangan geopolitik terkait kendali atas salah satu jalur maritim paling strategis di dunia, yakni Terusan Panama.
Kontroversi bermula dari putusan Mahkamah Agung Panama yang membatalkan izin operasi CK Hutchison, konglomerat asal Hong Kong. Keputusan tersebut berdampak langsung pada anak usahanya,
Panama Ports Company, yang selama ini mengelola dua pelabuhan utama di kedua ujung Terusan Panama, yakni Pelabuhan Balboa di Samudra Pasifik dan Pelabuhan Cristóbal di Samudra Atlantik.
Putusan pengadilan itu secara luas dipandang sebagai kemenangan diplomatik bagi Amerika Serikat, menyusul tekanan berkelanjutan dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membatasi pengaruh Tiongkok di kawasan Amerika Tengah.
Presiden Trump sebelumnya menegaskan bahwa Terusan Panama merupakan aset yang “sangat penting bagi negara kami” dan menyuarakan kekhawatiran bahwa kanal tersebut “dioperasikan oleh Tiongkok.”
Menanggapi hal tersebut, Beijing bereaksi cepat dan tegas. Kantor Urusan Hong Kong dan Makau di bawah Dewan Negara Tiongkok mengutuk putusan Mahkamah Agung Panama sebagai keputusan yang “cacat secara logika” dan “sangat menggelikan.”
Kantor tersebut menegaskan bahwa pemerintah pusat Tiongkok maupun Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong secara tegas menolak keputusan tersebut.
“Pihak berwenang Panama harus memahami situasi ini dan segera mengoreksi arah kebijakan mereka,” demikian pernyataan resmi kantor tersebut.
Bahkan, Beijing melontarkan ancaman langsung dengan menyatakan, “Jika mereka tetap bersikeras pada langkah tersebut dan bersikap keras kepala, maka mereka pasti akan membayar harga yang mahal secara politik dan ekonomi.”
Seiring dengan persiapan langkah hukum lanjutan, China juga dilaporkan telah mengambil sejumlah tindakan nyata sebagai bentuk tekanan ekonomi terhadap Panama.
Langkah-langkah tersebut berpotensi memengaruhi nilai investasi dan perdagangan bilateral yang mencapai miliaran dolar Amerika Serikat.
Perusahaan-perusahaan milik negara Tiongkok dikabarkan telah diperintahkan untuk menghentikan seluruh pembahasan terkait proyek-proyek baru di Panama.
Selain itu, Beijing juga menyarankan perusahaan pelayaran untuk mempertimbangkan jalur pengiriman alternatif yang tidak melalui Terusan Panama, selama tidak menimbulkan biaya tambahan yang signifikan.
Di sektor perdagangan, otoritas bea cukai Tiongkok dilaporkan meningkatkan pemeriksaan terhadap sejumlah komoditas impor utama dari Panama, seperti pisang dan kopi, yang berpotensi mengganggu arus perdagangan kedua negara.
Perselisihan ini menempatkan Panama pada posisi yang sulit, di tengah rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Presiden Panama, Jose Raul Mulino, menyatakan bahwa dirinya “dengan tegas” menolak ancaman dari pemerintah Tiongkok.
Ia menegaskan komitmennya terhadap supremasi hukum nasional serta independensi lembaga peradilan Panama.
Meski demikian, Panama kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menghadapi tekanan ekonomi dari Beijing, sembari tetap menjaga kedaulatan dan kepentingan nasionalnya. [Cuanvesto/***]






